
Jakarta — Kepala Ekonom dari Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terjadi karena meningkatnya optimisme investor terhadap kemungkinan penyelesaian penutupan pemerintah AS.
“Rupiah melemah karena permintaan global terhadap dolar AS semakin kuat, sehingga memperkuat posisi dolar AS. Peningkatan permintaan ini didorong oleh adanya harapan yang lebih besar dari para investor terhadap kemungkinan penyelesaian penutupan pemerintah AS, yang membuat minat terhadap aset berdenominasi dolar AS meningkat,” ujarnya di Jakarta pada Rabu (12/11/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada pembukaan perdagangan hari Rabu di Jakarta, nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.716 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.694 per dolar AS.
Menurut Josua, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran antara Rp16.625 hingga Rp16.725 per dolar AS.
Beberapa informasi yang dikutip dari Anadolu menyebutkan bahwa Senat AS telah menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang bertujuan mengakhiri penutupan pemerintah terlama yang pernah terjadi, yaitu memasuki hari ke-41.
Dengan suara 60-40, Senat menyetujui RUU Alokasi dan Perpanjangan Berkelanjutan 2026, setelah melalui beberapa amandemen.
Undang-undang tersebut mencakup paket alokasi dana selama tiga tahun, yang mencakup lembaga dan program penting sekaligus memulihkan pegawai federal yang kehilangan posisi mereka selama masa penutupan.
Majelis tinggi sedang mengirimkan RUU tersebut ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk persetujuan akhir.
Pada hari ini, majelis rendah diperkirakan akan kembali bersidang untuk pertama kalinya sejak 19 September. Hal ini dilakukan setelah Ketua DPR AS, Mike Johnson, mendesak para anggota parlemen pada Senin (10/11) untuk mulai menyelesaikan penutupan pemerintahan yang terus mengganggu perjalanan udara di seluruh negeri.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah
Beberapa faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah antara lain:
-
Perkembangan politik di AS: Penutupan pemerintah AS yang berlangsung cukup lama menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan. Dengan adanya kemungkinan penyelesaian, investor cenderung lebih percaya diri untuk menanamkan dana dalam aset berbasis dolar AS.
-
Permintaan global terhadap dolar AS: Dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia. Kenaikan permintaan terhadap dolar AS menyebabkan tekanan terhadap rupiah.
-
Kinerja ekonomi Indonesia: Meskipun ada tekanan dari luar, kinerja ekonomi domestik juga berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dapat membantu menjaga stabilitas kurs.
Perkembangan Terkini Mengenai Penutupan Pemerintah AS
Penutupan pemerintah AS yang berlangsung selama 41 hari menjadi salah satu masalah terbesar yang mengganggu operasional pemerintah. Selama masa ini, banyak layanan publik terhenti, termasuk sistem transportasi seperti bandara dan layanan kesehatan.
Beberapa konsekuensi dari penutupan pemerintah AS antara lain:
-
Gagalnya pembayaran gaji bagi pegawai federal: Pegawai federal yang bekerja tanpa upah selama penutupan pemerintah mengalami kesulitan finansial.
-
Terganggunya layanan publik: Banyak layanan pemerintah seperti pengawasan keamanan, pemrosesan dokumen, dan layanan kesehatan terganggu.
-
Ketidakpastian ekonomi: Penutupan pemerintah menciptakan ketidakpastian ekonomi, baik di dalam maupun luar negeri, yang berdampak pada fluktuasi pasar keuangan.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meskipun ada tantangan, situasi ini juga membuka peluang untuk perbaikan. Penyelesaian penutupan pemerintah AS dapat memberikan kestabilan yang diperlukan untuk kembali membangun kepercayaan investor dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, penyelesaian masalah ini juga akan memberikan dampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, terutama jika kondisi ekonomi global tetap stabil.