
Stabilitas Rupiah di Tengah Fluktuasi Pasar Global
Nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 2,91 persen terhadap dollar AS sepanjang tahun 2025. Puncak penurunan terjadi pada 8 April 2025, ketika rupiah mencapai level tertinggi sebesar Rp 16.891 per dollar AS. Meski demikian, fluktuasi rupiah dinilai lebih stabil dibandingkan masa lalu, terlepas dari aliran modal asing yang keluar (outflow) dari pasar keuangan Indonesia akibat ketidakpastian global.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ekonom Bahana TCW Investment Management, Emil Muhamad, menyatakan bahwa stabilitas rupiah saat ini jauh lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu. Ia menilai hal ini merupakan hasil dari transformasi ekonomi yang terus berjalan. Beberapa faktor yang memperkuat stabilitas rupiah antara lain peningkatan investasi langsung (foreign direct investment/FDI), penguatan ekspor, dan hilirisasi industri.
"Meskipun investor asing bisa keluar, apa yang terjadi selama beberapa minggu ini? Rupiah kita masih stabil. Ini artinya kita sudah siap menghadapi itu. Jadi kita tidak selalu panik ketika asing keluar. Kita kembali ke tatanan dunia baru, FDI (foreign direct investment) versus portfolio flow," ujar Emil saat pelatihan wartawan di Bukittinggi, dikutip Minggu (26/10/2025).
Menurutnya, keluarnya investor asing dari pasar keuangan RI bukan disebabkan oleh penurunan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Namun, hal ini lebih disebabkan oleh tingkat imbal hasil (yield) obligasi domestik yang relatif rendah dibanding negara lain, seperti India. Yield obligasi tenor 10 tahun Indonesia saat ini sekitar 5,9 persen, sedangkan India mencapai 6,5 persen. Kondisi ini membuat sebagian investor global lebih tertarik menempatkan dananya di India yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Namun, Emil menegaskan bahwa keluarnya investor asing kali ini tidak menimbulkan gejolak signifikan pada nilai tukar rupiah seperti tahun-tahun sebelumnya. "Kalau suku bunga terlalu rendah, biasanya asing akan outflow. Dari situ, apakah ada dampak negatif lanjutan? Per hari ini, dampak negatifnya berhenti di asing outflow. Thats it," tegasnya.
Ia melanjutkan bahwa selama ini pergerakan rupiah kerap sensitif terhadap arus masuk dan keluar dana asing di pasar keuangan, tapi kini dampaknya semakin kecil karena struktur ekonomi Indonesia semakin kokoh berkat hilirisasi. "Problem kita selama ini adalah kalau asing tiba-tiba risk-off terhadap emerging market, rupiah bisa langsung melompat. Itu seberapa fragile kita dulu versus sekarang. Kenapa? Ini dampak hilirisasi," ungkapnya.
Ada juga yang mengkritik bahwa hilirisasi tidak inklusif dan tidak memberdayakan masyarakat lokal. Namun, Emil menekankan bahwa salah satu tujuan utama dari hilirisasi adalah membuat rupiah lebih kuat terhadap fluktuasi capital flow. "Agar ketika hari ini bond kita mengalami outflow, rupiah kita tidak terguncang karena kita masih punya cadangan devisa yang tebal," sambungnya.