
MOSKWA, aiotrade—
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menuduh Komite Olimpiade Internasional (IOC) menerapkan “standar ganda” dalam kebijakannya terhadap Rusia dan Indonesia. Pernyataan ini muncul setelah IOC merekomendasikan agar federasi olahraga internasional tidak menggelar kompetisi di Indonesia, menyusul penolakan Jakarta menerbitkan visa bagi atlet Israel.
“Tentu saja ada standar ganda,” ujar Peskov kepada saluran olahraga Rusia Match TV, menjawab pertanyaan mengenai sikap IOC yang dianggap "munafik". Ia menilai keputusan itu tidak konsisten karena IOC sebelumnya tidak mengeluarkan pernyataan serupa terhadap negara-negara yang menolak visa bagi atlet Rusia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
IOC Jatuhkan Sanksi Usai Penolakan Atlet Israel
Keputusan IOC untuk menyarankan semua federasi olahraga internasional agar tidak menggelar kejuaraan di Indonesia dilakukan setelah pihak tersebut menolak menerbitkan visa bagi pesenam asal Israel yang dijadwalkan mengikuti Kejuaraan Dunia Senam Artistik ke-53 di Jakarta pada 19–25 Oktober. Selain itu, IOC juga menangguhkan pembicaraan dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) mengenai rencana tuan rumah Olimpiade 2036 dan berbagai ajang olahraga lain yang disetujui IOC.
Keputusan ini diumumkan oleh Dewan Eksekutif IOC, dan dianggap sebagai salah satu teguran paling keras yang pernah diberikan kepada calon tuan rumah Olimpiade. IOC menilai langkah Indonesia melanggar Piagam Olimpiade, yang menjunjung prinsip non-diskriminasi terhadap atlet dari negara mana pun.
“Semua atlet, tim, dan ofisial yang memenuhi syarat harus dapat berpartisipasi dalam kompetisi internasional tanpa diskriminasi,” tegas IOC. “Negara tuan rumah bertanggung jawab penuh untuk menjamin hal ini, dan pertimbangan politik tidak dapat mengesampingkan Piagam Olimpiade,” lanjut pernyataan itu.
Penolakan Visa dan Dampak Diplomatik
Menteri Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia, Yasonna Laoly, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengeluarkan visa bagi atlet Israel, dengan alasan kebijakan luar negeri Indonesia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara tersebut. Sikap ini diakui oleh Federasi Senam Internasional (FIG), yang menyatakan memahami posisi Indonesia.
Upaya Israel untuk menggugat keputusan itu melalui Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) bahkan ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan Indonesia tetap kuat meskipun mendapat tekanan dari pihak luar.
Rusia Bandingkan Perlakuan IOC
Peskov menilai, tindakan IOC terhadap Indonesia mencerminkan ketidakadilan yang juga dirasakan Rusia sejak sanksi terhadap atlet-atletnya diberlakukan akibat invasi ke Ukraina. Menurutnya, perbedaan perlakuan ini menunjukkan adanya bias politik dalam keputusan IOC.
Ia menegaskan bahwa kebijakan IOC tidak konsisten, karena sebelumnya tidak memberikan konsekuensi serupa terhadap negara-negara yang menolak visa bagi atlet Rusia. Ini membuat banyak pihak merasa bahwa keputusan IOC lebih didasari oleh faktor politik daripada prinsip olimpiade yang sebenarnya.
Kritik terhadap Standar Ganda
Pernyataan Peskov menunjukkan bahwa Rusia merasa diperlakukan secara tidak adil oleh IOC, terutama setelah kebijakan penolakan visa terhadap atlet Israel di Indonesia. Ia menilai bahwa standar yang diterapkan oleh IOC tidak jelas dan tidak konsisten, sehingga memicu spekulasi tentang adanya pemihakan politik dalam keputusan mereka.
Selain itu, Peskov juga menyoroti bahwa keputusan IOC terhadap Indonesia bisa menjadi preseden buruk bagi negara-negara lain yang ingin menggelar acara olahraga internasional. Hal ini bisa memengaruhi persaingan antar negara dalam bidang olahraga dan diplomasi.
Tantangan untuk IOC
Dengan adanya kritik dari Rusia dan pernyataan-pernyataan seperti ini, IOC dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga netralitasnya dalam pengambilan keputusan. Mereka harus menyeimbangkan antara prinsip olimpiade dan realitas politik yang sering kali sulit dihindari.
Di sisi lain, keputusan IOC terhadap Indonesia juga menunjukkan bahwa mereka siap mengambil tindakan tegas jika ada pelanggaran terhadap Piagam Olimpiade. Namun, bagaimana cara mereka menjaga konsistensi dalam penerapan kebijakan ini akan menjadi isu yang terus dibahas dalam dunia olahraga internasional.