Saat Harga Turun, Vanguard, Blackrock, dan Manulife Beli Saham MTEL, Ini Penjelasan Analis

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Saat Harga Turun, Vanguard, Blackrock, dan Manulife Beli Saham MTEL, Ini Penjelasan Analis

Kinerja MTEL yang Menarik Perhatian Investor Institusi Asing

Sepanjang tahun ini, investor institusi asing terlihat agresif dalam menambah kepemilikan saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Meskipun harga saham emiten yang kerap disebut Mitratel mengalami penurunan sepanjang year to date (ytd), tindakan tersebut tetap dilakukan. Pada Senin (20/10), harga saham MTEL turun 1,8% ke Rp 545. Namun, berdasarkan data dari Bloomberg yang diakses Selasa (21/10), Blackrock menambah kepemilikan saham sebanyak 37.900 menjadi 43,89 juta saham atau 0,05%. Sementara itu, Manulife Financial Corp juga menambah 22,15 juta saham menjadi 40,53 juta saham atau 0,05%. Sebelumnya, Vanguard Group Inc juga menambah kepemilikan sebanyak 139.400 unit menjadi 703,73 juta atau 0,86%.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Faktor-Faktor yang Mendorong Investasi Institusi Asing

Ada beberapa faktor yang mendorong langkah agresif institusi asing dalam menambah kepemilikan saham di MTEL. Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memproyeksikan bahwa kinerja MTEL akan membaik pada tahun 2026 seiring dengan perbaikan ekonomi yang mendorong pertumbuhan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU).

"Sehingga diharapkan ada perbaikan profitabilitas perusahaan telekomunikasi yang akan mendorong ekspansi jaringan dan meningkatkan permintaan menara telekomunikasi," ujarnya.

Di sisi lain, kepemilikan Mitratel merata di luar pulau Jawa. Kondisi ini menguntungkan perseroan karena sejalan dengan rencana ekspansi operator telekomunikasi yang mengincar pertumbuhan di Sumatera, Sulawesi, dan Indonesia Timur.

Selain itu, jumlah kas dan setara kas paling besar yakni Rp 2,76 triliun juga menjadi salah satu faktor. Dukungan induk usaha operator telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia, juga menjadi pertimbangan menarik. Terutama di saat industri telekomunikasi melakukan konsolidasi bisnis.

Sentimen Positif untuk MTEL

Pengamat pasar modal, Redy Octa, menyatakan bahwa Mitratel memiliki sejumlah sentimen positif yang bisa menopang pergerakan harga sahamnya ke depan. Salah satunya adalah pembelian kembali saham (buyback) dengan target dana Rp 1 triliun.

“Buyback merupakan sentimen positif bagi suatu emiten dengan ekspektasi bisa memberikan dorongan untuk investor meyakini bahwa manajemen internal yakin akan kinerja perusahaan kedepan secara fundamental dan momentum, sehingga hal ini dapat menguatkan harga sahamnya,” ujarnya.

Manuver buyback MTEL membuat jumlah saham beredar semakin berkurang. Hal ini berdampak kepada rasio dividend per share (DPS) dan pergerakan harga yang jauh lebih stabil. Di sisi lain, struktur pemegang saham saat ini didominasi oleh investor institusi yang memiliki horizon investasi jangka panjang. “Jika isu merger itu menjadi kenyataan, maka pergerakan harga bakal sangat atraktif karena floating shares sudah jauh berkurang,” ujar analis lain.

Kinerja Keuangan MTEL yang Membaik

Laba tahun berjalan MTEL berhasil naik dari Rp 1,06 triliun menjadi Rp 1,09 triliun, sehingga laba per saham emiten ini mencapai Rp 13 hingga semester I-2025. Pendapatan perseroan juga meningkat dari Rp 4,49 triliun menjadi Rp 4,59 triliun untuk periode sama.

Pergerakan harga saham yang tidak mencerminkan kinerja fundamental ini menunjukkan harga saham MTEL kelewat murah (undervalued). Pada Selasa (21/10) pukul 09.14 WIB harga MTEL melesat 1,83% menjadi Rp 555 per saham.

Kontribusi Bisnis Serat Optik

Leonardo Lijuwardi, Analis NH Korindo Sekuritas, mengatakan bahwa MTEL mempertahankan posisinya sebagai pemilik menara terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dengan 39.782 menara. Segmen serat optik tetap menjadi mesin pertumbuhan utama, mengimbangi pertumbuhan stagnan di segmen menara. Bisnis serat optik memberi kontribusi yang meningkat terhadap pendapatan keseluruhan.

Fiber to the tower (FTTT) merupakan inisiatif utama MTEL untuk memenuhi permintaan operator seluler akan konektivitas yang lebih baik. Pendapatan serat optik melonjak 28,1% yoy menjadi Rp 287 miliar di semester I – 2025. "Kami memperkirakan, serat optik akan berkontribusi 6,2% dari total pendapatan 2025, didukung perluasan jaringan berkelanjutan," kata Leonardo.

Harry dan Leonardo kompak merekomendasikan buy MTEL dengan target harga masing-masing Rp 650 per saham dan Rp 700 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan