
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kekhawatirannya terhadap maraknya praktik perdagangan saham “gorengan” di pasar modal. Ia menilai aktivitas tersebut merugikan investor ritel dan meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) segera mengambil langkah penertiban.
Saham gorengan merujuk pada saham yang harganya digerakkan secara tidak wajar oleh pihak tertentu untuk menciptakan kesan seolah ramai diminati. Harga saham seperti ini sering naik-turun tajam tanpa didukung kinerja fundamental perusahaan, sehingga berisiko tinggi bagi investor ritel.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Purbaya menyampaikan hal ini setelah menghadiri Dialog Pelaku Pasar Modal Bersama Menteri Keuangan RI di BEI, Jakarta, Kamis (9/10). Dalam dialog tersebut, ia menjelaskan bahwa BEI sempat meminta insentif dari pemerintah. Namun, ia menekankan bahwa insentif hanya akan diberikan jika BEI berhasil menata perilaku investor dan menciptakan pasar yang tertib.
“BEI minta insentif. Saya bilang belum akan saya kasih sebelum dia rapikan kondisi pasar modal kita, di mana banyak yang goreng-goreng tapi santai saja, masih lenggang kangkung. Karena investor kecil jadi rugi kan,” kata Purbaya.
Menurutnya, saat ini belum ada keputusan final terkait bentuk insentif yang diajukan BEI. Menurutnya, bursa meminta berbagai jenis insentif, termasuk di sektor pajak. Namun pemerintah masih menunggu langkah nyata BEI dalam membenahi kondisi pasar.
“Sekarang belum, dia minta macam-macam, (seperti) pajak, tapi saya bilang begini kalau saya bisa merapikan pegawai pajak saya sehingga gak macam-macam lagi ke depan harusnya concern mereka [BEI] dah hilang. Tapi kalau saya sudah merapikan masih ada masalah lagi dia [BEI] bisa menghadap saya lagi saya lihat insentif apa yang cocok buat mengembangkan dan mendukung pertumbuhan industri pasar modal di Indonesia,” ucapnya.
Purbaya menambahkan pembenahan tata kelola di pasar modal harus menjadi prioritas sebelum pemerintah memberikan dukungan fiskal dalam bentuk apa pun.
Optimisme Terhadap Prospek IHSG
Meski menyoroti sisi negatif pasar, Purbaya tetap optimistis dengan prospek jangka panjang pasar modal Indonesia. Ia menilai, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan terus menguat.
Menanggapi pertanyaan soal dukungan pemerintah terhadap likuiditas pasar, di tengah IHSG yang kembali mencetak rekor di atas level 8.000, Purbaya menilai tren positif ini bakal berlanjut.
Per Jumat (10/10), berdasarkan data RTI Business pukul 06.24 WIB, IHSG tercatat naik 84,90 poin atau 1,04 persen ke level 8.250,93. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.272,63 dan terendah di 8.159,94.
“Saya pikir IHSG akan cenderung naik terus. Mungkin 10 tahun lagi seperti yang saya bilang tadi jadi in short IHSG to the moon,” kata Purbaya.
Menurutnya, tren kenaikan indeks mencerminkan optimisme investor terhadap ekonomi Indonesia. Selain itu, pemerintah tidak hanya fokus pada pasar modal, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi agar pertumbuhan berjalan berkelanjutan.
“Tujuan kami tidak bukan untuk mendorong pasar modal tapi mendorong perekonomian saya masih punya uang cukup banyak untuk menambah lagi kalau diperlukan tapi otomatis kalau ekonominya bagus pasar saham naik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pergerakan saham mencerminkan harapan investor terhadap arah ekonomi nasional. Menurutnya, penguatan IHSG belakangan ini tak lepas dari meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah yang menyalurkan Rp 200 triliun ke Himbara dan berencana menambah Rp 70 triliun ke bank-bank daerah.
"Kan likuiditas baru kurang dari 1 bulan jalan gak mungkin tiba-tiba lari tapi mereka bisa hitung ke depan akan seperti apa ekonominya, dan saya pikir dengan diskusi tadi mereka akan lebih yakin perbaikannya sifatnya struktural dan akan berkembang terus ke depan,” tutur Purbaya.
Ia pun memastikan pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi bila situasi memburuk.
“Saya masih punya uang cukup banyak untuk menambah lagi kalau diperlukan tapi otomatis kalau ekonominya bagus pasar saham naik,” ujarnya.