
Impian Memiliki Hunian Pribadi yang Masih Tertunda
Banyak orang mengidamkan memiliki hunian sendiri, termasuk Nailla (24), seorang pekerja freelance. Ia menyatakan bahwa memiliki rumah pertama adalah impian yang ingin ia wujudkan. Namun, beberapa faktor membuatnya masih berpikir ulang untuk membeli rumah dalam waktu dekat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan Nailla adalah fluktuasi suku bunga akibat situasi ekonomi global. "Ada beberapa hal yang memengaruhi saya untuk berpikir ulang apakah dana darurat yang saya tabung sekarang akan saya alihkan untuk membeli rumah impian," ujarnya.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia, Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 September 2025 memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, serta menurunkan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing sebesar 50 bps dan 25 bps. Penurunan ini berdampak langsung terhadap suku bunga KPR karena kenaikan atau penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat memengaruhi besaran cicilan bulanan.
Pihak yang paling terdampak adalah pembeli KPR non-subsidi dengan skema bunga mengambang. Jika suku bunga naik, cicilan per bulan akan meningkat, begitu juga sebaliknya. Hal ini berdampak pada perubahan besar cicilan bulanan, total biaya pinjaman, dan daya beli calon pembeli rumah.
Nailla saat ini masih memilih untuk menyewa hunian. Bahkan, jika ia sudah menikah, kemungkinan besar ia dan suami akan tetap menyewa selama beberapa tahun pertama pernikahan. "Selain belum ada dana, melihat kondisi ekonomi global dan Indonesia yang belum stabil, lebih baik saya mengalokasikan dana darurat lebih banyak daripada membeli rumah di kondisi saat ini," ujarnya.
Meskipun demikian, Nailla tetap menginginkan rumah tapak sebagai jenis hunian impiannya. Menurutnya, memiliki rumah tapak sekaligus tanah di bawahnya merupakan bukti kepemilikan aset. Berbeda dengan apartemen yang merupakan hunian vertikal. Ia juga mempertimbangkan rumah subsidi sebagai pilihan, namun tidak untuk hidup berkeluarga hingga tua. Selain itu, rumah subsidi biasanya berada jauh dari pusat kota.
"Karena nantinya kalau sudah menikah, rumah subsidi kurang besar untuk menampung saya, suami, maupun anak ke depannya," kata Nailla.
Optimis Menghadapi Kondisi Ekonomi
Berbeda cerita dengan Rizqi (26), seorang karyawan kantoran yang menyambut baik penurunan suku bunga Bank Indonesia. Meskipun ia belum mengambil KPR, ia tetap optimistis. "Insya Allah saya bisa optimistis karena cicilan KPR bisa tetap stabil, terutama untuk rumah non-subsidi," ujarnya.
Ia berpendapat bahwa membeli rumah di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil saat ini masih sepadan, meskipun tetap membutuhkan rencana jangka panjang dan perencanaan keuangan yang baik. Harga properti yang terus melambung juga bisa dianggap sebagai langkah investasi jangka panjang.
Meski begitu, Rizqi juga menganggap menyewa hunian sebagai langkah realistis bagi masyarakat dengan penghasilan belum stabil. Sama seperti Nailla, ia menginginkan rumah tapak sebagai hunian impiannya karena memiliki hak untuk melakukan renovasi, memiliki hak atas tanah, serta harga jual yang stabil dalam jangka panjang.
"Saya ingin rumah yang masih terjangkau tapi punya akses transportasi yang mudah, misalnya dekat stasiun KRL, halte bus, atau jalan tol," katanya.
Rizqi juga mempertimbangkan rumah subsidi karena suku bunga flat hingga masa tenor berakhir serta cicilannya yang ringan. "Tapi kadang lokasinya jauh dari pusat kota. Jadi kalau bisa menemukan rumah subsidi yang masih terjangkau tapi aksesnya bagus, saya pasti tertarik," ujarnya.