Saham atau Obligasi Korporasi, Pilihan Investor 2026

admin.aiotrade 14 Des 2025 3 menit 16x dilihat
Saham atau Obligasi Korporasi, Pilihan Investor 2026


aiotrade, JAKARTA — Di tengah kenaikan yang signifikan di pasar saham nasional, para analis memperkirakan bahwa prospek penyerapan pasar terhadap obligasi korporasi baru akan tetap kuat pada tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini sedang dalam fase bullish. Sejak awal tahun hingga bulan Desember 2025, IHSG telah menguat sebesar 22,33% menjadi level 8.660,5 pada penutupan perdagangan Jumat (12/12/2025).

Aliran dana asing ke pasar saham Indonesia juga tercatat cukup deras. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), net buy asing di pasar saham Indonesia pada November 2025 mencapai Rp12,20 triliun. Meskipun demikian, menurut Putri Nur Astiwi, Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, permintaan pasar terhadap obligasi korporasi masih akan cenderung positif pada tahun depan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Secara historis, investor obligasi korporasi cenderung tidak berpindah secara cepat ke instrumen investasi lainnya. “Meskipun IHSG sedang bullish, permintaan obligasi korporasi tetap kuat, terutama dari investor institusi domestik seperti asuransi dan dana pensiun yang memiliki mandat berpendapatan tetap. Segmen ini umumnya tidak berpindah besar-besaran ke saham meskipun pasar saham sedang naik,” ujarnya.

Minat dari investor institusional tersebut didukung oleh karakteristik obligasi yang relatif stabil dan menawarkan risiko volatilitas yang lebih rendah dibanding saham. Dengan demikian, daya serap pasar obligasi korporasi diperkirakan tetap solid pada 2026.

Putri memproyeksikan peluang penerbitan obligasi korporasi pada 2026 dapat mencapai Rp170 triliun. Target ini sejalan dengan proyeksi Pefindo untuk periode yang sama. Dari total tersebut, kebutuhan refinancing diperkirakan akan mendominasi penerbitan obligasi anyar pada 2026.

Dia menambahkan, realisasi penerbitan bisa lebih besar jika sentimen kredit membaik dan perusahaan mulai meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) pada 2026. “Sebaliknya, jika kondisi ekonomi masih berhati-hati atau penuh tantangan, realisasinya wajar bila lebih rendah dari 2025,” tuturnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst Pefindo. Menurut dia, peluang penyerapan pasar terhadap obligasi korporasi baru masih akan solid pada 2026. Di tengah tren suku bunga yang rendah, ada peluang transisi investor dari obligasi pemerintah ke surat utang korporasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Menurut Ahmad, kecil kemungkinan investor surat utang akan beralih ke instrumen yang lebih berisiko dalam waktu dekat. Pasalnya, obligasi tetap menawarkan kepastian bagi investor konservatif. “Saya kira ada beberapa investor mungkin akan switch untuk mengejar return dari pasar surat utang pemerintah ke pasar obligasi, terutama investor yang agak konservatif,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Ahmad memprediksi peluang penerbitan obligasi korporasi pada tahun depan masih terbuka lebar, terutama didorong oleh besarnya nilai surat utang yang jatuh tempo.

Berdasarkan perhitungan Pefindo, terdapat surat utang korporasi jatuh tempo senilai Rp156,35 triliun pada 2026. Faktor ini diperkirakan akan turut mendorong kebutuhan penerbitan obligasi baru.

“Kalau dilihat memang peluang untuk penerbitan di tahun depan itu masih terbuka cukup besar. Sebenarnya dari sisi suku bunga yang turun dan faktor lainnya itu dari kebutuhan refinancing,” katanya.

Adapun, Pefindo memperkirakan penerbitan surat utang korporasi baru pada 2026 akan berada dalam kisaran Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan nilai tengah sekitar Rp175,77 triliun.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan