Saham Bank Besar Melonjak Jumat (10/10), Perhatikan Rekomendasi Analis

admin.aiotrade 09 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Saham Bank Besar Melonjak Jumat (10/10), Perhatikan Rekomendasi Analis


Pergerakan Saham Perbankan Kembali Menguat di Akhir Pekan

Pada penutupan perdagangan, Kamis (9/10), kinerja saham perbankan khususnya bank berkapitalisasi besar kembali mengalami rebound setelah beberapa minggu terakhir mengalami kelesuan. Hal ini terjadi karena asing mulai kembali membeli saham bank-bank di Indonesia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Berdasarkan data RTI, saham PT Bank Central Asia (BBCA) ditutup di level Rp 7.550 per saham, naik sebesar 2,37% dibandingkan penutupan Rabu (8/10). Selama sesi perdagangan, BBCA sempat menyentuh level tertinggi Rp 7.700 sebelum kembali melandai menjelang akhir perdagangan. Dalam satu minggu terakhir, sahamnya turun sebesar 1,95%.

Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (BMRI) menguat 3,29% menjadi Rp 4.390 per saham. Saham ini sempat mencapai harga tertinggi Rp 4.450 di tengah meningkatnya minat beli dari investor institusi. Dalam sepekan terakhir, saham BMRI turun sebesar 2,23%.

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) ditutup di level Rp 3.860 per saham dengan kenaikan 3,76%. BBRI menjadi salah satu saham yang paling aktif diperdagangkan hari ini. Dalam sepekan terakhir, sahamnya turun sebesar 1,03%.

PT Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi bank dengan kenaikan saham tertinggi di antara bank berkapitalisasi besar lainnya, yaitu sebesar 4,06% menjadi Rp 4.100 per saham. Dalam sepekan terakhir, sahamnya turun sebesar 1,91%.

Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, meskipun secara minor harga saham sebelumnya mengalami penurunan, penting untuk menerapkan manajemen risiko yang baik dan efektif.

"Sehingga ketika hari ini rebound, tentunya kita sudah mulai mendapatkan gain. Profit gain secara bertahap, ya walaupun ini unrealized," ujarnya kepada aiotrade.app.co.id, Kamis (9/10).

Nafan juga melihat bahwa prospek dari bank besar memiliki sentimen positif, terlebih di semester kedua ia memproyeksikan kinerja perbankan mulai membaik, baik dari sisi pertumbuhan kredit maupun memberikan performa positif bagi peningkatan net interest margin.

"Lagi juga pengurangan biaya pinjaman sudah mulai terjadi. Ketika Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan, sehingga memicu peningkatan permintaan kredit, belum lagi di semester kedua katalis positifnya banyak, mulai dari stimulus ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah, dalam rangka mendongkrak daya beli konsumsi domestik," jelas Nafan.

Selain itu, sentimen adanya momen Natal dan Tahun Baru juga dinilai bisa mendongkrak ekonomi domestik. Belum lagi sudah terjadinya ekspansi di sektor manufaktur yang bisa menjadi sentimen positif bagi kinerja perbankan.

"Belum lagi dividend yield-nya menarik, apalagi untuk bank-bank BUMN, bagi dividend hunter ini yield-nya menarik," ujarnya.

Sebagai rekomendasi investasi, Nafan memberikan rekomendasi “accumulative buy” untuk saham-saham perbankan besar seperti, BBNI dengan target harga Rp4.470 per saham, BMRI dengan target Rp4.530 per saham, BBCA dengan target Rp8.100 per saham, dan BBRI dengan target Rp4.030 per saham, BNGA Rp 1.740 per saham.

Di sisi lain, Achmad Yaki, Head of Online Trading dari BCA Sekuritas, menilai bahwa pelemahan saham perbankan sejak awal Oktober 2025 dipengaruhi oleh banyak faktor, yang paling terlihat adalah aksi jual asing yang terus berlanjut.

"Ada kekhawatiran mengenai penurunan kualitas aset perbankan, yang memaksa bank-bank (termasuk bank besar seperti BBRI dan BBCA) untuk meningkatkan biaya pencadangan atau biaya provisi untuk mengantisipasi potensi kredit macet," terangnya.

Kenaikan biaya ini disebut dapat menekan laba bersih bank. Selain itu, likuiditas yang ketat (rasio LDR yang naik) berpotensi biaya dana (cost of fund) bisa meningkat serta proyeksi perlambatan pertumbuhan kredit.

Yaki melihat, BBRI dan BBCA masih memimpin net sell asing diikuti BBNI dan BMRI. Dari keempat bank ini, per hari ini, asing net Sell hampir Rp 1,4 triliun.

Yaki merekomendasikan buy untuk saham big banks kecuali BBRI cenderung hold. BBRI hold dengan target Rp 4.400, BBNI buy target Rp 6.075, BMRI buy target Rp 7.250, dan BBCA trading Buy target Rp 8.400 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan