Saham Bank Besar Pimpin Pasar, Namun Asing Tetap Tidak Jelas

admin.aiotrade 20 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Saham Bank Besar Pimpin Pasar, Namun Asing Tetap Tidak Jelas

Penguatan Saham Bank-Bank Besar di Tengah Kekhawatiran Investor Asing

Pada akhir perdagangan Senin (20/10/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami lonjakan signifikan sebesar 2,19% menjadi 8.088. Hal ini terjadi karena kenaikan harga saham bank-bank besar atau yang dikenal sebagai big banks yang secara mengejutkan mengalami peningkatan tajam. Meskipun demikian, penguatan ini tetap diiringi oleh aksi jual dari investor asing.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kenaikan Harga Saham BBNI dan BMRI

Salah satu bank yang mencatatkan kenaikan tertinggi adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Sahamnya naik sekitar 6,32% menjadi Rp 4.040 per saham. Namun, meski mengalami kenaikan yang signifikan, BBNI juga mencatatkan net foreign sell yang cukup besar yaitu sebesar Rp 66,4 miliar. Catatan ini menunjukkan bahwa investor asing masih melakukan aksi penjualan terhadap saham bank pelat merah ini.

Selanjutnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Sahamnya naik sebesar 6,17% menjadi Rp 4.300 per saham. Sama halnya dengan BBNI, BMRI juga masih ditinggalkan oleh investor asing. Bahkan, net foreign sell pada hari itu mencapai Rp 252,41 miliar, yang merupakan angka terbesar di sektor perbankan.

Kenaikan Saham BRI dan BCA

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turut mengalami kenaikan sebesar 5,14% menjadi Rp 3.680 per saham. Selain itu, saham BRI juga mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 30,33 miliar. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengalami kenaikan sebesar 5% dan menjadikan harga sahamnya mencapai Rp 7.875 per saham. Dalam perdagangan intraday, saham BCA sempat mencapai Rp 8.000 per saham.

Berbeda dengan BBNI dan BMRI, BBCA menjadi satu-satunya big banks yang mencatatkan net foreign buy di awal pekan ini. Investor asing tercatat melakukan beli senilai Rp 894,09 miliar untuk saham BCA.

Perspektif Analis Investindo Nusantara Sekuritas

Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto, mengingatkan bahwa tekanan capital outflow masih cukup masif belakangan ini. Ia menilai bahwa sektor perbankan menjadi sasaran utama karena memiliki bobot asing yang cukup besar dibandingkan sektor lain.

Secara fundamental, ia melihat bahwa big banks, terutama bank pelat merah, dalam kondisi yang tidak bagus di tahun ini. Namun, ia melihat adanya harapan bahwa kondisi akan membaik seiring dengan pemangkasan suku bunga dan harapan ekonomi yang lebih baik di tahun depan.

“Kondisi lesu tahun ini bisa menjadi pemicu peningkatan kinerja pada tahun depan karena low base effect,” ujar Pandhu. Ia juga menyebut bahwa valuasi saham big banks saat ini sudah cukup menarik karena berada di bawah rata-rata historis. Bagi investor yang percaya pada perekonomian yang membaik dan memiliki kesabaran, saham bank saat ini bisa menjadi pilihan yang menarik.

Perkiraan Jangka Panjang dan Jangka Pendek

Kepala Riset RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, melihat bahwa kenaikan saham di awal pekan ini mungkin dipengaruhi oleh rencana Danantara yang ingin masuk ke pasar saham. Ia mengatakan bahwa tren jangka panjang untuk saham perbankan masih terlihat bagus. Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan harga saham big banks di jangka pendek tetap volatile.

Penjelasan dari Pengamat Pasar Modal

Reydi Octa, pengamat pasar modal Indonesia, menambahkan bahwa lompatan harga saham bank didorong oleh kombinasi optimisme penurunan suku bunga BI dan sentimen rencana investasi Danantara untuk meningkatkan likuiditas di pasar saham. Ia juga melihat bahwa valuasi big banks semakin menarik setelah mengalami penurunan yang panjang.

“Valuasi yang sudah rendah ini turun mendorong adanya rotasi portofolio oleh pemodal ke saham fundamental seperti saham bank,” ujarnya. Ia memprediksi bahwa potensi big banks akan diakumulasi agresif oleh investor, terlebih jika IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik tahun ini.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan