
Harga Saham Bank Besar Terlihat Murah
Harga saham bank-bank besar di pasar modal Indonesia terlihat cukup murah, mengingat adanya koreksi yang panjang dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini dapat dilihat dari rasio PER (Price to Earnings Ratio) dan PBV (Price to Book Value) yang jauh di bawah rata-rata historisnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Contohnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Hingga Jumat (3/10), BBCA mencatatkan PER sebesar 15.93 kali dan PBV sebesar 3.55 kali. Jika dibandingkan dengan periode 2 Oktober 2024, PER BBCA pernah mencapai 24.08 kali dan PBV sebesar 5.38 kali. Dalam setahun terakhir, harga saham BBCA juga mengalami penurunan signifikan hingga level Rp 7.525 per saham, sehingga terkoreksi sebesar 28,33% secara tahunan (YoY).
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memiliki PER sekitar 8.22 kali dan PBV sekitar 1.51 kali. Setahun sebelumnya, BMRI memiliki PER sebesar 12.26 kali dan PBV sebesar 2.56 kali. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang menyesuaikan ekspektasinya terhadap sektor perbankan, terutama terkait prospek pertumbuhan kredit, margin bunga (NIM), dan tekanan biaya dana yang belum sepenuhnya mereda.
Pasar Lebih Konservatif
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer menyampaikan bahwa saat ini pasar lebih konservatif. Meski demikian, ia percaya bahwa bank-bank besar tidak kehilangan daya tarik sepenuhnya. Investor institusi, terutama asing, cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi besar ketika volatilitas tinggi, sehingga kenaikan saham bank menjadi lambat meskipun fundamentalnya masih mencetak laba.
Bank dengan dana murah (CASA) tinggi dan profil risiko yang lebih konservatif seperti BBCA masih memiliki keunggulan relatif dalam menahan tekanan suku bunga dan likuiditas. Penurunan valuasi ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar menunggu katalis kuat agar bank-bank besar kembali diminati.
Potensi Investasi untuk Investor Jangka Panjang
Analisis dari Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto menyebutkan bahwa secara valuasi, harga saham bank-bank besar sudah cukup murah jika dibandingkan rata-rata historis. Ia menilai hal ini tetap menarik untuk investasi, terutama bagi investor jangka panjang dan yang menyukai dividen.
Dalam kondisi pasar yang normal, Pandhu melihat bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kembali mengoleksi saham bank. Namun, perlu disadari bahwa pasar tidak selalu linier karena ada faktor ekspektasi dari para investor, terutama pada potensi pertumbuhan di masa mendatang.
“Sebagian investor mungkin menunggu capital outflow mereda karena bagaimanapun akan sulit untuk bertahan jika investor asing terus melakukan penjualan,” ujarnya.
Proyeksi Pergerakan Saham Bank
Pandhu memproyeksikan bahwa BBCA kemungkinan akan rebound terlebih dahulu. Namun, jika kondisi pasar membaik, BMRI dan BBNI bisa lebih cepat bergerak atau memiliki potensi upside yang lebih besar karena valuasi yang lebih murah.
Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila menambahkan bahwa investor asing masih melihat perkembangan fundamental emiten secara kuartalan serta perkembangan ekonomi Indonesia. Dalam hal ini, perkembangan loan growth membuat investor asing terlihat belum cukup agresif untuk masuk ke saham perbankan.
Menurutnya, BBCA dan BMRI masih menarik untuk jangka pendek. Ia memprediksi bahwa BBCA mungkin bisa naik hingga level Rp 8.200-Rp 8.500, sedangkan BMRI bisa mencapai Rp 4.800-Rp 4.900.