Saham Bank Digital Melesat, Ini Rekomendasi Analis

admin.aiotrade 16 Des 2025 4 menit 12x dilihat
Saham Bank Digital Melesat, Ini Rekomendasi Analis


aiotrade.CO.ID-JAKARTA.

Kinerja saham perbankan digital menunjukkan peningkatan yang signifikan pada penutupan perdagangan Selasa (16/12). Berdasarkan data dari Stockbit, saham PT Bank Neo Commerce (BBYB) mengalami kenaikan sebesar 4,42% ke level Rp 590 per saham. Dalam sepekan terakhir, sahamnya juga melonjak hingga 36,57%.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selanjutnya, saham PT Bank Raya Indonesia (AGRO) naik 2,42% menjadi Rp 254 per saham. Dalam seminggu terakhir, sahamnya meningkat sebesar 10,43%. Sementara itu, saham PT Krom Bank Indonesia (BBSI) bertambah 2,05% ke level Rp 3.980 per saham, dengan pertumbuhan sebesar 1,79% dalam sepekan.

Namun, tidak semua saham bank digital mengalami kenaikan. Saham PT Bank Jago (ARTO) ditutup melemah sebesar 3,60% ke level Rp 2.140 per saham. Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir sahamnya masih naik 4,39%. Sementara itu, saham PT Bank Aladin Syariah turun 2,08% ke level Rp 940 per saham, namun selama sepekan sahamnya hanya sedikit meningkat 0,53%.

Saham PT Allo Bank Indonesia (BBHI) juga mengalami penurunan sebesar 2,93% di level Rp 1.490 per saham. Dalam sepekan terakhir, sahamnya turun tipis 0,33%.

Menurut analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, saham bank digital masih memiliki peluang untuk menguat dalam jangka pendek hingga menengah. Hal ini didorong oleh meningkatnya risk appetite investor dan rotasi dana dari saham bank berkapitalisasi besar. Namun, penguatan tersebut dinilai bersifat selektif dan lebih dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan jangka pendek.

Dalam jangka pendek–menengah, bank digital masih mendapatkan likuiditas karena adanya peningkatan risk appetite dan rotasi dari bank besar. Namun, pergerakannya cenderung trading driven.

Untuk jangka menengah, kinerja saham bank digital akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam mengeksekusi strategi bisnis serta menekan tingkat pembakaran dana (burn rate).

Dari sisi fundamental, mayoritas bank digital masih berada pada fase scaling. Pertumbuhan pendapatan mulai terlihat, tetapi profitabilitas belum stabil akibat tingginya cost of fund (CoF) dan beban operasional.

“Yang mulai kelihatan lebih sehat adalah bank digital yang memiliki ekosistem kuat dan mulai membentuk CASA. Ini menjadi kunci untuk memperbaiki struktur pendanaan ke depan,” jelas Wafi.

Terkait kenaikan saham BBYB, Wafi menilai bahwa kenaikan tersebut lebih dipicu oleh sentimen dan ekspektasi pasar dibandingkan kinerja keuangan aktual. “Pasar sedang pricing in potensi perbaikan pasca restrukturisasi serta spekulasi terkait strategic action.”

Untuk strategi akumulasi, Wafi menyarankan investor tetap fokus pada saham bank dengan fundamental yang jelas dan valuasi yang rasional. Bank-bank besar dinilai tetap menjadi pilar utama portofolio. “Big banks seperti BBRI dan BBCA masih layak dijadikan core holding.”

Sementara itu, untuk saham bank digital, investor disarankan lebih selektif dan menyesuaikan dengan profil risiko. Bank digital yang memiliki ekosistem kuat dan runway pertumbuhan panjang dinilai lebih menarik. “ARTO bisa menjadi trading idea, sementara BBYB masuk kategori high risk–high reward.”

Adapun menurut Managing Director Solstice Indonesia, Handiman, kenaikan harga saham bank digital dalam beberapa waktu terakhir dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh rotasi sektor, bukan semata-mata karena lonjakan fundamental yang kuat.

Handiman menilai, pergerakan saham bank digital terjadi di tengah tekanan kinerja saham perbankan konvensional, sehingga investor melakukan pergeseran sementara ke saham-saham bank digital. “Kenaikan saham bank digital belakangan ini lebih mencerminkan rotasi sektor.”

Ia menjelaskan, dari sisi fundamental, kinerja bank digital memang mulai membaik seiring berakhirnya fase pembangunan fondasi bisnis. Sebagian besar bank digital baru berdiri sejak masa pandemi, sehingga wajar jika saat ini mulai memasuki fase pertumbuhan (growth).

Namun demikian, perbaikan kinerja tersebut perlu dicermati secara lebih detail. Contohnya pada BBYB, kinerja positif hingga sembilan bulan 2025 (9M25) lebih banyak didorong oleh penurunan beban provisi yang signifikan.

Dari sisi valuasi, saham bank digital saat ini dinilai sudah berada pada level premium jika dibandingkan dengan bank konvensional. Sementara itu, lemahnya kinerja bank-bank konvensional dinilai hanya bersifat sementara.

“Perbaikan kinerja bank konvensional sudah mulai terlihat dan berpotensi berlanjut seiring tren penurunan suku bunga dan membaiknya likuiditas,” jelasnya.

Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong pemulihan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) serta perbaikan kualitas aset perbankan ke depan. Selain itu, bank konvensional juga menawarkan daya tarik tambahan berupa potensi dividen interim pada akhir tahun serta dividen final pada Maret–April tahun depan.

Dengan mempertimbangkan faktor valuasi dan prospek kinerja, Handiman tidak merekomendasikan saham bank digital untuk saat ini. Sebaliknya, saham bank konvensional dinilai lebih menarik. “Top picks kami saat ini adalah BBRI, BMRI, dan BNGA.”

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan