Saham BCA Jatuh ke Level Terendah Tiga Tahun, Asing Lepas Rp31 Triliun

admin.aiotrade 09 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Saham BCA Jatuh ke Level Terendah Tiga Tahun, Asing Lepas Rp31 Triliun


aiotrade.app
, Jakarta — Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) kembali mengalami tekanan hingga menembus level terendahnya dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 10.00 WIB, Kamis (9/10/2025), saham BBCA turun sebesar 1,02% atau 75 poin menjadi Rp7.300 per saham. Ini adalah pertama kalinya sejak 2022 saham bank swasta terbesar di Indonesia itu menyentuh kisaran Rp7.000-an per lembar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Penurunan hari ini memperpanjang rentetan pelemahan saham BCA. Dalam sepekan terakhir, harga sahamnya telah terkikis 2,67% atau 300 poin. Jika ditarik dalam sebulan, koreksinya mencapai 4,87% atau setara 375 poin. Tekanan lebih dalam terlihat pada periode tiga bulan terakhir, di mana saham BBCA sudah anjlok 13,82% atau 1.175 poin.

Secara tahunan, performa BBCA terus menunjukkan tren melemah. Sejak awal tahun, saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia ini sudah terperosok 24,55% (year to date/YtD) atau 2.375 poin. Adapun dalam setahun terakhir, penurunannya mencapai 29,57% atau 3.075 poin.

Pelemahan ini juga sejalan dengan aliran dana asing yang terus keluar dari saham-saham perbankan papan atas. Data menunjukkan, sepanjang tahun berjalan investor asing sudah mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp31,19 triliun di saham BCA.

Meski tekanan masih kuat, valuasi saham BCA mulai menunjukkan posisi yang relatif menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Stockbit, rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (P/E ratio) BCA saat ini berada di kisaran 15,85 kali, sedangkan proyeksi ke depan (forward P/E ratio) sebesar 14,81 kali. Artinya, harga saham BCA saat ini setara sekitar 15 kali laba bersih tahunannya, lebih rendah dari rerata historisnya, yang menunjukkan valuasi mulai masuk zona wajar.

Sementara itu, rasio harga terhadap nilai buku (price to book value atau PBV) BCA kini berada di level 3,45 kali. Angka ini menggambarkan bahwa harga saham BCA masih diperdagangkan tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya.

Dari sisi arus kas, rasio harga terhadap arus kas (price to cashflow) berada di level 18,85 kali, sementara rasio harga terhadap arus kas bebas (price to free cashflow) tercatat 20,33 kali.

Kinerja Bank BCA

Seiring dengan hal ini, BCA dan entitas anak mencatatkan raihan laba bersih konsolidasi senilai Rp29 triliun pada semester I/2025. Laba tersebut tumbuh 8% secara tahunan (year on year/YoY). Pada semester I tahun lalu, bank swasta terbesar di Indonesia itu membukukan laba bersih senilai Rp26,9 triliun.

"Kredit tumbuh 12,9% YoY menjadi Rp959 triliun per Juni 2025 didukung pertumbuhan penyaluran di berbagai segmen dan terjaganya kondisi likuiditas perseroan," ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam konferensi pers kinerja keuangan pada Rabu (30/7/2025).

Secara rinci, kredit korporasi BCA tumbuh 16,1% YoY mencapai Rp451,8 triliun per Juni 2025. Kredit komersial naik 12,6% YoY menjadi Rp143,6 triliun, dan kredit UKM meningkat 11,1% YoY hingga Rp127 triliun.

Ditopang pertumbuhan KPR sebesar 8,4% menjadi Rp137,6 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) 5,2% mencapai Rp65,4 triliun, total pertumbuhan kredit konsumer mencapai 7,6% YoY hingga Rp226,4 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit, rasio loan at risk (LAR) BCA terjaga pada level 5,7% sepanjang semester I/2025, membaik dari 6,4% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) terkelola pada level 2,2%. Pencadangan NPL dan LAR memadai, masing-masing 167,2% dan 68,7%.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan