
Jakarta, klasemen 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini tidak lagi diisi oleh emiten yang memiliki fundamental solid dan telah teruji sejak lama. Sebaliknya, banyak saham-saham yang sedang dalam fase pertumbuhan alias growth stock mulai mendominasi daftar tersebut.
Contohnya, saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), yang dulu sering menjadi favorit investor, kini tidak masuk dalam jajaran 10 besar. Hal ini menunjukkan pergeseran tren investasi di pasar modal Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Berdasarkan data BEI per Kamis (13/11/2025), saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berada di puncak klasemen dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 1.324 triliun. Angka ini setara dengan 8,65% dari total kapitalisasi pasar di BEI. Di posisi kedua ada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan total kapitalisasi pasar sebesar Rp 1.022 triliun. Sementara itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berada di urutan ketiga dengan market cap Rp 678 miliar.
Meski demikian, saham-saham perbankan Indonesia yang dikenal memiliki fundamental kuat seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) hanya mampu menempati posisi keempat dan kelima. Kapitalisasi pasar BBRI mencapai Rp 581 triliun, sementara BMRI sebesar Rp 434 triliun.
Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis mengatakan bahwa banyak investor, termasuk asing dan institusi, kini lebih tertarik pada saham-saham yang memiliki potensi re-rating tinggi atau diuntungkan oleh perubahan struktur bisnis, bukan hanya stabilitas historis.
Salah satu contoh adalah saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), yang naik ke jajaran kapitalisasi pasar tertinggi. Pertumbuhan AMMN didorong oleh growth story hilirisasi tambang dan smelter tembaga yang baru rampung pada 2024–2025.
Menurut Alrich, karakteristik AMMN adalah valuasi yang tinggi karena ekspektasi pertumbuhan masa depan, bukan karena sudah matang. Ia menyebut ini sebagai ciri khas growth big cap.
“Investor kini lebih tertarik pada saham yang punya growth story karena potensi kenaikan yang lebih besar dibanding saham besar atau mature yang prospek pertumbuhannya relatif lambat,” katanya.
Alrich juga menjelaskan bahwa saham emiten mature yang sudah lama dalam top cap seringkali menghadapi pertumbuhan earnings yang moderat. Investor yang mencari upside besar merasa kurang tertarik pada saham-saham tersebut.
Tema investasi global dan domestik saat ini bergerak ke arah transformasi energi, digitalisasi, industrialisasi, dan ESG. Saham big caps yang sudah mature di sektor tradisional bisa tertinggal dari tema ini.
Jadi, tidak heran jika investor yang ingin pertumbuhan yang lebih signifikan cenderung mencari emiten di luar sektor yang mature. Contohnya, saham BREN, DSSA, AMMN, BRPT untuk tema transisi energi dan hilirisasi.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory Ekky Topan mengatakan bahwa tahun ini pergerakan pasar saham agak berbeda karena aliran dana asing yang terus keluar. Secara year to date, net sell asing mencapai Rp 34,40 triliun.
Ketidakpastian global membuat investor asing melakukan penyesuaian portofolio. Ekky menyebut dampak paling terasa pada saham-saham besar dengan fundamental kuat yang historisnya memang jadi favorit asing. Jadi, ketika asing keluar, saham-saham itu akan tertekan.
Di sisi lain, emiten-emiten konglomerasi yang sedang bertumbuh alias growth stocks relatif tidak terlalu tergantung pada dana asing. Dia mencermati mayoritas kepemilikannya berada di tangan pemegang saham pengendali dan investor domestik.
“Akibatnya, gangguan dari arus keluar asing tidak memberikan efek. Sementara investor domestik cenderung lebih agresif dan mencari saham yang punya potensi kenaikan cepat, terutama emiten yang punya story,” kata Ekky.
Namun, ketidakpastian global tidak akan berlangsung selamanya. Ekky mencermati investor asing sudah mulai masuk ke pasar saham Indonesia, terutama setelah valuasi big caps berada di posisi yang cukup menarik.
Menurutnya, ketika ada momentum pemulihan semakin kuat dan harga mulai merespons, akan terjadi rotasi ulang ke saham-saham fundamental besar seperti perbankan, telekomunikasi, dan consumer goods.
BREN Chart
by TradingView
“Artinya, ketika sentimen membaik, pergeseran minat investor biasanya akan kembali ke emiten-emiten yang historisnya paling stabil dan punya rekam jejak kinerja panjang,” ucap dia.
Sementara itu, Alrich menyarankan investor dapat mencermati saham BREN, AMMN, DCII, BRPT untuk saham growth exposure dengan risiko tinggi, tetapi potensi kenaikan. Keempatnya unggul karena ekspansi besar dan posisi di sektor masa depan.
Jika investor mencari saham yang dengan pasif income dan stabilitas, Alrich bilang investor dapat melirik BBCA, BBRI, BMRI, dan DSSA. Keempatnya memberikan dividen dan memiliki cash flow yang kuat.
Untuk saham yang berkaitan dengan tema tertentu, investor dapat mencermati TPIA karena berkaitan dengan industri hilirisasi dan BYAN terkait dengan energi tradisional yang masih efisien.