
Penurunan Performa Saham Blue Chip di Tengah Perubahan Dinamika Pasar
Di tengah pergeseran pola investasi yang terjadi sepanjang tahun 2025, sejumlah saham blue chip di pasar modal Indonesia mengalami penurunan performa. Bahkan, saham-saham ini kalah dari saham-saham viral yang dimiliki oleh konglomerat. Hal ini disebabkan oleh kombinasi rotasi investasi dan kepergian investor asing yang signifikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, penurunan kinerja saham blue chip lebih dipengaruhi oleh sentimen global yang cenderung risk-off serta depresiasi rupiah. Rupiah sendiri telah terdepresiasi sebesar 2,33% YtD (Year to Date) ke level Rp16.670 per dolar AS. Akibatnya, aksi jual dari investor asing tercatat di saham blue chip.
Beberapa saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA mengalami koreksi signifikan. BBRI terkoreksi 7,35%, BMRI turun 12,46%, sedangkan BBCA terkoreksi hingga 14,21%. Hanya BBNI yang masih mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 2,07% YtD.
"Koreksi saham blue chip utama pada 2025 termasuk Himbara dan BBCA disebabkan oleh aksi jual asing yang masif, dipicu oleh sentimen pasar global yang risk-off dan depresiasi rupiah," ujarnya.
Perubahan Pola Penggerak Pasar
Pada saat yang bersamaan, Abida juga mencatat adanya pergeseran dalam pola penggerak pasar. Sepanjang tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih digerakkan oleh saham mid-cap, komoditas, dan saham konglomerat yang dinilai memiliki cerita menarik.
Dengan adanya likuiditas ritel dalam negeri yang kuat, saham-saham dengan story yang menarik lebih diminati oleh investor ritel. Kombinasi antara kepergian investor asing dan ketertarikan investor ritel dalam negeri terhadap saham konglomerat menjadi gambaran pasar modal saat ini.
Contohnya, saham milik Prajogo Pangestu mengalami penguatan signifikan sepanjang tahun 2025. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menguat 2,43% YtD, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) melonjak 291,30%, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) naik 868,42%, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) meningkat 111,71% YtD.
Selain itu, saham Happy Hapsoro seperti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) telah terbang 2.610% YtD dan PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) melonjak hingga 938,30% YtD.
"Pergeseran ini menunjukkan kehati-hatian investor asing terhadap makro domestik, sementara likuiditas ritel yang kuat mendorong saham-saham dengan narasi pertumbuhan," ujarnya.
Analisis dari KISI Sekuritas
Senada dengan pendapat Abida, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai bahwa koreksi terhadap saham blue chip lebih disebabkan oleh aksi net sell asing yang membengkak serta pertumbuhan pendapatan fundamental yang melambat. Belum lagi, valuasi saham blue chip pada awal 2025 masih tergolong mahal, sehingga membuat investor lebih memilih saham dengan pertumbuhan yang lebih cepat.
"Koreksi blue chip pada 2025 terjadi karena market shifting. Investor domestik mengejar saham-saham konglomerasi yang memiliki story, likuiditas besar, dan upside cepat," katanya.
Peluang Penguatan di Tahun 2026
Meskipun begitu, Wafi menilai bahwa peluang penguatan saham blue chip pada 2026 terbuka lebar. Hal ini didorong oleh valuasi yang lebih murah, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan, serta rotasi investor ke saham dengan fundamental yang baik.
"Himbara, BBCA, consumer staples, dan kesehatan berpeluang balik jadi penentu arah IHSG karena earnings visibility lebih kuat," ujarnya.