
aiotrade,
JAKARTA — Beberapa saham dari perusahaan yang akan melakukan aksi korporasi seperti penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue mengalami lonjakan signifikan. Hal ini menarik perhatian investor dan pasar keuangan.
Beberapa emiten yang sahamnya melonjak antara lain PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE), PT Folago Global Nusantara Tbk. (IRSX), hingga PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET). Harga saham CBRE melonjak sebesar 5.718,79% atau lebih dari 50 kali lipat sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd). Lonjakan ini terjadi setelah perusahaan melakukan rights issue sebanyak-banyaknya 48 miliar saham.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selanjutnya, harga saham IRSX naik sebesar 2.125,81% atau lebih dari 20 kali lipat ytd. Perusahaan ini melakukan rights issue dengan menerbitkan 12,39 miliar saham. Sementara itu, saham INET meroket 1.356,9% ytd seiring rencana perseroan melakukan rights issue jumbo senilai maksimal Rp3,2 triliun. Dalam aksi tersebut, INET menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Selain itu, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) melonjak 782,93% ytd. WIFI melakukan rights issue dengan menerbitkan 2,95 miliar saham baru dan mengumpulkan dana senilai Rp5,9 triliun. Saham lainnya yang juga melonjak di tengah aksi rights issue antara lain PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) yang naik 938,30%, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) naik 175,51%, dan PT MD Entertainment Tbk. (FILM) naik 201,37%.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang 2025 telah terdapat 12 emiten yang menerbitkan rights issue dengan total nilai yang dihimpun mencapai Rp17,5 triliun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menjelaskan bahwa secara umum rights issue digunakan untuk ekspansi bisnis, bukan sekadar aksi korporasi. Dengan demikian, ada optimisme dari para pemegang saham terhadap emiten yang melakukan aksi korporasi tersebut.
"Rights issue bisa memperkuat neraca keuangan. Ekspektasi publik dan narasi pertumbuhan pun memicu re-rating saham," kata David kepada Bisnis pada Jumat (12/12/2025).
Pada 2026, diperkirakan terdapat dorongan aksi rights issue yang akan lebih semarak. Sentimen yang akan memengaruhi antara lain suku bunga global dan arah The Fed. Selain itu, stabilitas indeks harga saham gabungan (IHSG) dan arus modal asing menjadi faktor pendukung. Kinerja emiten dan narasi pertumbuhan ekonomi juga akan menjadi perhatian.
Menurutnya, beberapa sektor berpotensi ramai menggelar rights issue pada 2026, di antaranya sektor digital dan telekomunikasi. Hal ini seiring dengan kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar.
Sektor transportasi dan aviasi diproyeksikan ramai menggelar aksi rights issue pada 2026 seiring dengan aksi konsolidasi, pemulihan, dan restrukturisasi. Kemudian, sektor energi dan infrastruktur didorong oleh proyek jangka panjang. Lalu, sektor properti yang sebelumnya tertunda karena pasar belum kondusif, kemungkinan akan kembali mempertimbangkan aksi korporasi pada 2026.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan aksi korporasi berupa rights issue dilakukan karena adanya ekspansi yang dilakukan oleh emiten. Dengan begitu, aksi korporasi akan berdampak ke kinerja ke depannya.
"Aksi korporasi ini bisa jadi katalis positif dan pelaku pasar sudah melakukan priced in," ujar Azis pada Jumat (12/12/2025).
Dia menambahkan bahwa aksi korporasi berupa rights issue pada 2026 berpotensi semarak mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan tumbuh, sehingga mendorong aksi ekspansi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.