Saham EBT Masih Murah, Kapan Waktunya Beli?

admin.aiotrade 15 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Saham EBT Masih Murah, Kapan Waktunya Beli?


aiotrade,
JAKARTA – Nilai saham perusahaan yang bergerak di sektor energi baru terbarukan (EBT) masih tergolong murah dibandingkan dengan peluang pertumbuhan jangka panjang. Performa saham-saham dalam sektor ini sepanjang tahun juga tergolong stabil.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (12/12/2025), beberapa saham EBT antara lain PGEO yang mengalami kenaikan 24,60% year to date (YtD), memiliki rasio price to earnings (PE) atau annualised sebesar 21,36 kali dan price to book value (PBV) 1,46 kali. Selanjutnya, saham KEEN naik 77,87% YtD dengan rasio PE 17,70 kali dan PBV 1,31 kali.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, ada saham emiten yang memulai proyek EBT sebagai bagian dari diversifikasi bisnis mereka, seperti POWR yang hanya naik 0,72% YtD dengan PE 8,98 dan PBV 0,93, serta SGER yang naik 11,52% YtD dengan PE 26,77 kali dan PBV 3,02 kali.

Di sisi lain, terdapat saham emiten EBT yang valuasinya lebih tinggi dengan rasio PE di atas 100, misalnya BREN yang naik 3,23% YtD dengan PE 549,56 kali dan PBV 124,61 kali. ARKO melesat 459,78% YtD dengan PE 237,33 kali dan PBV 30,30 kali, sedangkan DSSA naik 187,16% YtD dengan PE 211,15 kali dan PBV 27,65 kali.

Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, prospek jangka panjang emiten EBT masih terbuka lebar. Ia menilai bahwa valuasi PGEO, KEEN, POWR, dan SGER relatif lebih murah dibandingkan BREN dan ARKO. Ia juga melihat potensi EBT global semakin kuat, yang menunjukkan upside jangka panjang yang solid. Menurutnya, emiten EBT memiliki growth visibility dan risiko hype yang lebih kecil.

“Sebaiknya [masuk investasi] awal 2026 ketika sentimen suku bunga longgar, capex EBT global meningkat, dan proyek PLN/IPP semakin jelas. Bagi investor jangka panjang, akumulasi bertahap dari sekarang juga bisa dilakukan karena valuasi masih murah dan belum premium,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (15/12/2025).

Meski begitu, Wafi mengingatkan bahwa ekspektasi saham-saham EBT akan melesat pesat dalam jangka panjang tidak sepenuhnya pasti. Ia menyoroti adanya risiko-risiko yang menyertai potensi EBT ke depan.

“Risiko utamanya adalah regulasi PLN atau pricing yang lambat, IRR proyek turun karena capex mahal, kompetisi teknologi, biaya pendanaan naik jika Fed hawkish lagi, dan eksekusi proyek yang mundur,” tambahnya.

PERTAMINA GEOTHERMAL ENERGY TBK - TradingView

Bicara tentang peluang jangka panjang emiten EBT, Rystad Energy, sebuah perusahaan riset dan konsultan energi global, mencatat bahwa porsi energi bersih meningkat dari sekitar 9% pada 2015 menjadi lebih dari 14% pada 2025. Total penambahan kapasitas angin dan surya pada 2024–2025 diperkirakan melampaui 700 GW.

Saat ini, teknologi rendah karbon menarik investasi lebih dari US$900 miliar per tahun, dibandingkan US$735 miliar untuk minyak dan gas. Selisih sebesar US$181 miliar ini diperkirakan melebar menjadi US$391 miliar pada 2030. Aliran modal ini disebut akan menentukan sistem energi dunia pada 2040.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan