
Perubahan Perilaku Investor di Pasar Modal Indonesia
Pasar modal Indonesia kini menjadi sorotan karena adanya pergerakan saham yang tidak biasa. Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai rekor di atas level 8.200, beberapa saham dengan kapitalisasi kecil justru menjadi penopang kenaikan indeks tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran minat investor dari saham-saham berfundamental kuat menuju saham konglomerat dan saham gorengan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Saham gorengan dikenal sebagai saham yang harganya tidak didasarkan pada data dan fundamental, melainkan karena aksi jual dan beli sesaat. Hal ini membuat aktivitas investasi di bursa dinilai tidak lagi mencerminkan investasi jangka panjang. Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menyebut bahwa pergeseran perilaku investor ini mulai terasa pascapandemi Covid-19.
Perubahan Porsi Investasi Investor Asing dan Domestik
Sebelum pandemi, investor asing mendominasi transaksi di bursa efek Indonesia dengan perbandingan 60% untuk investor asing dan 40% untuk investor domestik. Namun, setelah pandemi, situasi berbalik arah. Pada periode 2022-2023, porsi investor asing turun menjadi 40%, sementara investor domestik mengambil alih 60%.
Saat ini, Teguh menghitung bahwa porsi investasi investor asing hanya tinggal 30%. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk melemahnya kinerja sejumlah emiten dan tingginya ketergantungan perekonomian nasional terhadap komoditas, terutama batu bara.
Penyebab Minat Investor Asing Menurun
Seiring dengan turunnya harga batu bara global, investor asing semakin enggan kembali masuk ke pasar saham Indonesia. "Karena harga batu baranya turun terus, ya sudah mereka juga tidak tertarik untuk masuk lagi ke sini," jelasnya.
Selain itu, investor beralih ke saham konglomerat dan saham gorengan yang dinilai memberikan imbal hasil cepat, meskipun berisiko tinggi. Teguh menilai, fenomena ini membuat pasar saham Indonesia menjadi tidak sehat. Meskipun IHSG terus mencetak rekor tertinggi atau all time high (ATH), kenaikan tersebut tidak lagi mencerminkan kekuatan fundamental emiten, melainkan didorong oleh euforia dan pergerakan spekulatif pada saham konglomerat.
Peran Investor Domestik dalam Pasar Modal
Investor domestik, menurut Teguh, memiliki pola pikir trading jangka pendek. Mereka membeli saham bukan untuk dipegang lama, tetapi untuk dijual kembali dalam hitungan hari. Ketika investor asing keluar dari pasar, investor domestik pun ikut menarik dana mereka. Akibatnya, nilai transaksi yang mendominasi bursa kini hanya berasal dari pergerakan saham-saham konglomerat.
Kondisi ini menciptakan anomali di pasar modal. IHSG terus mencatat rekor baru, namun saham-saham berfundamental kuat justru cenderung turun. Investor asing banyak mengalihkan portofolionya ke pasar lain seperti Amerika Serikat, Cina, Korea Selatan atau Jepang. Sementara sebagian investor lokal justru berpindah ke aset lain seperti kripto.
Kritik Terhadap Kebijakan Bursa
Teguh juga menyinggung soal pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang meminta bursa membereskan saham-saham gorengan. Menurut Teguh, hal tersebut dinilai telat. "Pak Purbaya, ngomong itu telat banget. Harusnya ngomongnya dua tahun yang lalu."
Menurutnya, saat ini saham gorengan telah menjadi penopang IHSG. Jika saham tersebut dibersihkan, maka IHSG akan anjlok. Meski begitu, Teguh memandang ide membersihkan saham gorengan ini merupakan hal yang bagus untuk IHSG dalam jangka panjang, namun dalam jangka pendek risikonya IHSG akan hancur.
Prediksi Jika Saham Gorengan Dibersihkan
Jika saham-saham tersebut tiba-tiba dibereskan, IHSG berpotensi jatuh drastis, bahkan bisa turun dari level 8.000 ke 5.000. Hal ini akan memicu kepanikan besar di pasar dan membuat investor ritel menderita kerugian besar.
Meski begitu, Teguh menilai pembersihan saham gorengan tetap perlu dilakukan demi kesehatan pasar dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, IHSG memang akan terpukul hebat, tetapi setelah satu hingga dua tahun pasar akan kembali normal dan saham berfundamental kuat akan naik lagi.
Faktor yang Menghambat Minat Investor Asing
Di kesempatan berbeda, Managing Partner PT Ashmore Asset Management Indonesia, Arief Wana menyebut, terdapat euphoria dan minat investasi yang tinggi di Indonesia yang didominasi oleh investor lokal. Dia mengatakan, data investor asing yang berinvestasi di Indonesia dari Januari hingga kemarin, Senin (6/7) tercatat dominasi aksi jual atau net sell.
Arief memaparkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan investor asing belum berminat masuk ke pasar Indonesia. Pertama, investor asing dinilai telah menemukan pasar baru yang lebih atraktif, seperti Cina, Korea atau Taiwan, yang lebih fokus terhadap industri teknologi yang sedang naik daun.
Sektor yang Mendukung Penguatan IHSG
Sektor teknologi menjadi salah satu sektor yang membantu penguatan IHSG. Sektor ini naik 186,9% sepanjang tahun ini. Adapun sektor material dasar juga menjadi penopang dengan kenaikan 59,6% secara year to date. Lini bisnis produk hilirisasi menjadi bidang yang paling berkontribusi dalam penguatan sektor ini.