
Saham-saham Top Leaders di Pasar Saham 2025
Saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat menjadi primadona di pasar saham sepanjang tahun 2025. Beberapa saham seperti DCII, MORA, dan BUMI menjadi penghuni daftar top leaders di IHSG sejak awal tahun. Harga saham-saham tersebut kian premium, sehingga investor mulai mengukur prospek dan valuasi harga saat ini dengan pertimbangan kelayakan untuk ditebus maupun akumulasi tambahan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan memberikan tiga contoh dari saham-saham top leaders tahun ini yaitu DCII, MORA, dan BUMI. Menurutnya, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) saat ini mulai memasuki fase downtrend. "Harganya stagnan dan melemah meski laba per kuartal III/2025 tumbuh besar. Ini menjadi tanda momentum buyers mulai hilang," ujarnya.
Pada penutupan perdagangan Jumat (12/12), DCII ditutup menguat tipis 0,02% atau 50 poin ke level Rp244.800. Dalam sebulan terakhir, level harga tersebut mencerminkan koreksi 6,56%, walau secara YTD saham emiten milik Otto Toto Sugiri tersebut melonjak 476%. Secara fundamental, laba bersih DCII per kuartal III/2025 masih tumbuh 83,54% YoY.
Sementara itu, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) per penutupan Jumat lalu ada di posisi Rp11.325. Harga tersebut mencerminkan lonjakan 69,66% dalam sebulan terakhir, namun pada perdagangan Jumat terkoreksi 5,23%. Namun, secara YtD saham MORA telah menikmati kenaikan 2.533,72%. Dari sisi fundamental, laba bersih MORA per kuartal III/2025 juga masih tumbuh 16,4% YoY.
"Kemungkinan harga sudah mencapai puncaknya. Meski fundamental masih tumbuh, kecepatan kenaikan harga terlalu ekstrem dibanding earning growth," jelas David.
Kemudian, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) per penutupan Jumat (12/12) masih menguat 2,22% ke Rp368. Harga tersebut dalam sebulan terakhir melejit 65,77%, sehingga sejak awal tahun saham BUMI melejit 199,19%. Padahal secara fundamental, laba bersih perseroan per kuartal III/2025 susut 73,6% YoY.
"Kalau saham BUMI masih uptrend. Price action agresif plus volume besar menunjukkan strong money masih masuk, high risk," jelas David.
Valuasi Premium Saat Ini
Sejalan dengan kenaikan harga saham yang melonjak ratusan hingga ribuan persen sejak awal tahun, valuasinya juga menjadi premium. Misalnya, rasio price to earnings (PE) annualised (disetahunkan) saham MORA berada di level 835,86 kali dengan rasio price to book value (PBV) di 34,38 kali. Sedangkan, PE BUMI ada di level 215,88 kali dengan PBV 5,31 kali. Bahkan, PE DCII ada di 530,50 kali dengan PBV 152,41 kali.
Menilik jajaran saham top leaders lainnya, saham PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) yang harganya melonjak tembus Rp100.000, mencatatkan rasio PE 211,50 dengan PBV 27,70 kali. Atau, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang secara YtD per Kamis (11/12) melejit 127,08%, mencerminkan rasio PE sebesar 798,77 kali dengan PBV 53,01 kali.
Analisis Teknikal dan Money Flow
David melihat saham-saham jajaran top leaders saat ini secara valuasi tidak ada yang cukup atraktif. Namun, bukan berarti saham-saham tersebut kehilangan potensi pertumbuhan lagi di tahun depan.
"Rata-rata memiliki valuasi tidak masuk akal, maka pendekatan yang bisa dilakukan adalah analisa teknikal dan money flow," ujarnya.
David menjelaskan, pada dasarnya dalam siklus market setiap saham selalu memiliki masanya sendiri. Artinya, saham-saham yang tahun ini menikmati pertumbuhan besar-besaran, belum tentu akan lanjut uptrend di 2026.
"Apalagi kenaikan sahamnya tidak didukung dengan earnings yang sesuai, ini membuat gap fundamental makin jauh," tandasnya.