
Pergerakan Saham di Pasar Modal
Dalam perdagangan mingguan yang berlangsung pada 3 hingga 7 November 2025, beberapa saham mengalami penurunan signifikan, menjadi yang paling tertekan atau top laggards dalam pasar modal. Di sisi lain, sejumlah saham lainnya menunjukkan kenaikan yang cukup pesat, sehingga menjadi top leaders.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Saham yang Tertekan
Saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE) menjadi salah satu emiten yang paling tertekan. Harga saham RISE ditutup pada level Rp8.550, dengan koreksi sebesar -25,81% atau 2.975 poin. Penurunan ini memberikan dampak negatif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG), dengan kontribusi sebesar 11,21 poin.
Di urutan kedua, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga mengalami penurunan sebesar -1,52% ke level Rp17.875. Penurunan ini turut memberi tekanan pada IHSG, dengan kontribusi sebesar 4,55 poin.
Selanjutnya, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) mengalami koreksi sebesar 4,98% ke Rp1.910. Penurunan ini memberikan kontribusi sebesar 4,11 poin terhadap indeks komposit.
Saham yang Naik Signifikan
Sebaliknya, beberapa saham mengalami penguatan yang cukup besar. Saham PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), yang merupakan emiten milik Grup Sinar Mas, menguat sebesar 18,24% ke level Rp100.000. Penguatan ini memberikan kontribusi sebesar 56,57 poin terhadap IHSG.
Di posisi kedua, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) milik Prajogo Pangestu mengalami kenaikan sebesar 14,99% ke Rp9.975. Penguatan ini turut memberi kontribusi sebesar 53,27 poin terhadap indeks komposit.
Di posisi ketiga, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) naik sebesar 8,10% ke Rp3.470. Penguatan ini memberikan kontribusi sebesar 28,34 poin terhadap laju IHSG.
Perubahan Pola Investasi
Riset dari Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa sejak pertengahan Oktober hingga awal November 2025, terjadi pergeseran pola investasi dari saham-saham konglomerasi menuju saham-saham blue chip. Hal ini terlihat dari kenaikan harga saham blue chip yang lebih signifikan dibandingkan IHSG secara keseluruhan.
Pada periode penutupan bursa antara 16 Oktober hingga 3 November 2025, indeks LQ45 mengalami penguatan sebesar 8%, sedangkan IHSG hanya naik 2%. Riset tersebut menyatakan bahwa kenaikan harga saham blue chip masih dalam fase awal dan berpotensi melanjutkan penguatannya hingga akhir tahun 2025.
Peringatan Penting
Berita ini disajikan sebagai informasi umum dan tidak bertujuan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.