
Pasar saham domestik berpeluang mengalami penguatan menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru. Fenomena yang sering disebut sebagai Santa Claus Rally menjadi salah satu faktor yang bisa memengaruhi pergerakan indeks. Istilah ini merujuk pada kecenderungan kenaikan imbal hasil saham selama lima hari perdagangan terakhir di bulan Desember hingga dua hari awal Januari. Beberapa sektor seperti konsumer, energi, hingga perbankan dinilai memiliki potensi untuk tumbuh dalam periode tersebut.
Indri Liftiany Travelin Yunus, Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menyatakan bahwa pasar saham Indonesia saat ini sedang berada di fase akhir tahun yang sering diwarnai aksi window dressing dan Santa Claus Rally. Ia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya pada pekan ini. Pergerakan IHSG diperkirakan akan bervariasi tetapi cenderung menguat dengan rentang support 8.570 dan resistance 8.800.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Indri kemudian merekomendasikan beberapa saham yang patut diperhatikan oleh investor menjelang periode tersebut:
-
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
Dengan rekomendasi beli di level 2.640 dan target harga 2.800. Saham ini dinilai membentuk pola bullish falling wedge dengan risiko relatif rendah. -
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Direkomendasikan untuk dibeli saat breakout di level 1.340 dengan target harga 1.445. Secara teknikal, saham ini membentuk pola marubozu dan mulai mencatatkan aliran dana masuk. -
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Direkomendasikan beli di level 8.200 dengan target harga 8.800. Saham ini menunjukkan tanda technical rebound, didukung kinerja laba bersih sembilan bulan 2025 yang naik 44,15 persen akibat penurunan beban lain-lain.
Selain itu, Indri mengimbau investor untuk memperhatikan sentimen kunci pada periode perdagangan 15–19 Desember 2025. Dari sisi global, pasar menanti rilis data Non Farm Payrolls Amerika Serikat Oktober dan November yang diperkirakan turun drastis hingga sekitar 55 ribu. S&P Global Composite PMI Flash AS Desember diproyeksikan sedikit melemah namun masih berada di zona ekspansi. Inflasi AS November juga diperkirakan turun tipis ke level 3%. Kondisi ini membuka peluang bagi The Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga pada kuartal pertama 2026.
Dari dalam negeri, fokus pasar tertuju pada keputusan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan. Konsensus pasar memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 4,5 persen. Namun, IPOT menilai Bank Indonesia cenderung tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Pemangkasan diperkirakan baru dilakukan pada awal 2026. Kondisi ini dinilai tetap kondusif bagi aliran dana masuk ke pasar saham.
“Di sisi lain, kami menilai fokus para pelaku pasar saat ini tengah tertuju pada beberapa emiten yang dinilai memiliki potensi besar untuk masuk dalam rebalancing indeks MSCI, sehingga banyak yang mengambil momentum kenaikan harga secara teknikal tersebut,” kata Indri.
Potensi Sektor Perbankan
Sementara itu, James Widjaja, Senior Research Analyst Henan Putih Sekuritas, menilai sektor perbankan berpotensi tampil menonjol pada periode Santa Claus Rally. Dengan ekspektasi perbaikan kinerja laba pada 2026, ia menilai saham-saham bank masih memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan dan berpeluang menjadi tema catch-up trade berikutnya.
“Kami melihat sektor perbankan berpotensi menjadi catch-up play yang menarik,” kata James kepada aiotrade.co.id.
Dia menyebut, di tengah penguatan IHSG dalam beberapa waktu terakhir, kinerja saham perbankan terpantau relatif tertinggal. Kondisi ini sejalan dengan adanya rotasi sementara dana investor dari sektor finansial ke komoditas. Namun, situasi tersebut justru membuka peluang bagi saham bank, mengingat valuasi sektor ini dinilai semakin atraktif dan berada pada level diskon.
Henan Putih Sekuritas pun merekomendasikan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan target harga 5.000 serta PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan target harga 2.500. “Kedua bank tersebut kami pandang berpotensi diuntungkan dari perbaikan kondisi likuiditas yang kami perkirakan akan terjadi pada 2026,” ujarnya.