Santri dan Pesantren Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah menegaskan bahwa santri dan pesantren tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ia menolak keras anggapan yang menyebut santri sebagai kelompok ndeso, kolot, atau terbelakang dalam pergaulan dan kemajuan zaman. Pernyataan ini disampaikan Said Abdullah bertepatan pada momentum Hari Santri Nasional 2025. Hari Santri kali ini mengangkat tema "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia".
“Santri dan pesantren kerapkali diasosiasikan ndeso, kurang pergaulan, dan berpandangan kolot, bahkan digambarkan memelihara budaya feodal, seperti tayangan konten di televisi beberapa waktu lalu. Benarkah asosiasi dan penggambaran ini?” kata Said Abdullah kepada wartawan, Rabu (22/10).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Said, dunia pesantren kini telah mengalami transformasi luar biasa. Ia menilai, saat ini banyak Pondok Pesantren yang telah berakselerasi dengan kemajuan zaman. “Kita memang tidak bisa melarang pihak lain membangun persepsi. Namun santri dan dunia pesantren saat ini telah berkembang pesat. Banyak sekali pesantren yang telah berakselerasi dengan perkembangan zaman. Para santri dengan bimbingan kiai telah mampu menumbuhkan jiwa wirausaha,” tuturnya.
Contoh Kegiatan Wirausaha di Pesantren
Said mencontohkan, Pesantren Sidogiri di Pasuruan telah berhasil mengembangkan jaringan toko ritel di 125 lokasi di Jawa dan Kalimantan. Konsep tersebut mampu menggeliatkan perekonomian rakyat. “Konsep ritelnya menyerap produk-produk UMKM lokal, sehingga memberdayakan masyarakat sekitarnya,” ucap Said.
Di tempat lain, santri Lirboyo di Kediri juga tak kalah kreatif dengan mendirikan Lirboyo Bakery, mengolah sampah plastik, dan membuka usaha depo air minum. “Dua contoh di atas hanya sedikit ulasan dari banyaknya kegiatan wirausaha di pesantren. Bila kita ulas satu per satu, akan sangat banyak sekali gambaran kegiatan usaha yang digawangi oleh para santri di pesantren,” jelasnya.
Pesantren sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi
Ia menambahkan, pesantren saat ini juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Menurutnya, pesantren kini bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat pengembangan keterampilan. “Di pesantren, santri tidak hanya dibekali ilmu agama. Mereka juga dibekali berbagai keahlian lain seperti ilmu komputer, bahasa asing selain bahasa Arab, menjahit, beternak, bahkan fotografi serta jurnalisme,” terangnya.
Peran Santri dalam Dunia Digital
Said juga mengapresiasi peran santri dalam dunia digital. Kini, banyak ulama dan santri memanfaatkan perkembangan digital dengan menghadirkan dakwah-dakwah keislaman. “Bertebarannya ceramah keagamaan oleh banyak ulama populer seperti Gus Baha, Gus Muwafiq, KH Anwar Zahid, dan lainnya adalah buah karya ketekunan para santri mengunggah konten ceramah para kiainya di berbagai platform media sosial. Ini artinya, para santri juga bisa berakselerasi dengan kemajuan zaman,” tutur dia.
Santri sebagai Kekuatan Diaspora
Lebih jauh, Said menilai santri kini telah menjadi kekuatan diaspora yang hadir di berbagai bidang kehidupan. Ia tak memungkiri, banyak tokoh nasional lahir dari kehidupan santri. “Santri telah menjadi kekuatan diaspora, dan menggeluti berbagai profesi tanpa kehilangan identitasnya sebagai santri. Tidak ada satu pun partai politik, khususnya di DPR, yang tidak ada keterwakilan santri. Saya sendiri sebagai santri, namun sejak tahun 1988 sudah aktif di PDI dan tahun 1999 menjadi PDI Perjuangan,” ungkapnya.
Santri dalam Panggung Nasional dan Internasional
Bahkan, santri juga telah terbukti mampu tampil di panggung nasional dan internasional. Menurutnya, KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, menjadi contoh nyata bahwa santri bisa menjadi pemimpin nasional dan pemimpin kultural kelas dunia. “Santri adalah jatidiri yang terbuka, entitas yang bisa sangat kosmopolit dalam berfikir dan bertindak. Santri bisa menjadi jangkar perdamaian, menebarkan Islam rahmatan lil alamin,” pungkasnya.