
Pertemuan yang Membawa Perubahan
Ajakan untuk bertemu kembali dengan teman-teman sekolah sering kali dianggap sebagai momen menyenangkan. Namun, bagi sebagian orang, acara seperti ini bisa menjadi tantangan tersendiri. Saya pun mengalami hal yang sama. Sebelumnya, saya ragu untuk hadir dalam reuni SMA, terutama karena pertemuan lintas angkatan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Beberapa waktu lalu, saya menerima undangan reuni SMA. Saya memutuskan untuk hadir dalam pertemuan angkatan, tetapi tidak menghadiri reuni lintas angkatan. Alasan utamanya adalah karena berbagai pertimbangan yang membuat saya merasa kurang percaya diri. Karier dan usaha yang tidak stabil serta kondisi fisik yang masih belum pulih sepenuhnya membuat saya merasa rendah diri.
Pada Desember 2018, saya mengalami serangan stroke yang membuat tubuh saya lumpuh sebagian. Proses pemulihan membutuhkan waktu cukup lama. Kini, saya sudah lebih mandiri, tetapi masih membutuhkan bantuan untuk beberapa aktivitas dasar. Tujuan utama saya adalah bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain, seperti mandi, makan, atau bahkan berjalan sendiri tanpa alat bantu.
Meski begitu, perasaan sensitif dan rendah diri masih menghiasi pikiran saya ketika mendapat undangan reuni. Sering kali, saya memilih untuk tidak hadir. Hal ini menjadi bagian dari cobaan pasca-stroke yang harus saya lalui.
Tiga bulan lalu, ada undangan pertemuan daring dari alumni sebuah universitas di Bandung. Meskipun tertarik, saya menolak hadir dengan alasan sibuk. Tidak mudah bagi saya untuk jujur tentang alasan sebenarnya. Saya memilih untuk menghindari kehadiran dalam acara tersebut.
Reuni angkatan dijadwalkan pada akhir Oktober 2025 di kampus tercinta di Kota Bandung. Setelah itu, saya jarang lagi mengakses grup WA alumni. Banyak pesan masuk, tetapi saya sering menghapusnya. Hanya sesekali saya menjawab salam, ulang tahun, atau duka cita. Itu saja yang bisa saya lakukan.
Namun, suatu saat, saya mulai bertanya-tanya: sampai kapan saya akan terus menghindari pertemuan dengan teman-teman sekolah dan kuliah?
Untuk mendukung reuni, saya memberikan kontribusi uang meskipun tidak mendaftar sebagai peserta. Biaya reuni berasal dari saweran peserta dan donasi dari teman-teman yang berkecukupan atau memiliki posisi penting. Kontribusi ini membantu saya merasa tetap ada dalam lingkungan alumni. Saya rasa, teman-teman memahami niat saya.
Tetapi, ajakan seorang sahabat dan kiriman kaos dari teman baik mengubah pendirian saya. Keputusan untuk tidak hadir dalam reuni berubah menjadi keinginan untuk hadir. Kaos reuni warna biru itu menjadi simbol bahwa saya ingin ikut serta dalam acara tersebut.
Akhirnya, saya memesan tiket kendaraan shuttle untuk keberangkatan pagi dari Bogor ke Bandung dan pulang di sore hari pada Minggu (26/10). Acara reuni diselenggarakan di Bukit Dago Utara, salah satu kampus di Bandung. Daerah ini menawarkan pemandangan alam yang indah dan suasana sejuk.
Dengan melangkah melewati batasan-batasan di pikiran, saya akan berangkat ke Kota Bandung yang masih dingin. Tujuan saya adalah untuk bergabung dengan teman-teman dalam hangatnya reuni FISIP UNPAD Angkatan 1982 di Bukit Dago Utara pada hari Minggu lusa.