Sarwo Edhie: Pembunuh PKI, Penguasa Papua

admin.aiotrade 10 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
Sarwo Edhie: Pembunuh PKI, Penguasa Papua

Sejarah dan Peran Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dalam Berbagai Fase Kehidupannya

Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo adalah salah satu tokoh yang diangkat sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia. Penghargaan ini diberikan bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan, sebuah momen penting dalam sejarah bangsa.

Masa Awal Karier Militer

Setelah peristiwa pemberontakan 30 September, Sarwo Edhie Wibowo menjadi komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Di bawah kepemimpinannya, RPKAD bertugas menghadapi Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada periode 1965-1967. Keberhasilan ini membuka jalan bagi Soeharto untuk menjabat presiden pada tahun 1968.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selanjutnya, Sarwo dipromosikan menjadi panglima Kodam Bukit Barisan di Medan (1967-1968) dan kemudian menjadi panglima Kodam Cenderawasih di Jayapura (1968-1970). Pada masa itu, ia juga mengawasi penentuan pendapat rakyat (pepera) 1969 atau referendum rakyat Irian Jaya.

Operasi Sadar dan Peran di Irian Jaya

Sebagai Panglima Kodam Cenderawasih, Sarwo mendapatkan tugas khusus memimpin Operasi Sadar. Tujuan dari operasi rahasia ini adalah untuk menumpas Organisasi Papua Merdeka (OPM) hingga ke akar-akarnya. Namun, ia juga diberi tugas untuk merangkul masyarakat Papua agar memenangkan Pepera yang diawasi oleh utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sebanyak seribu perwakilan yang dipilih dari warga Papua kala itu memilih bergabung dengan Indonesia. Meskipun demikian, referendum tersebut masih terus digugat oleh sebagian kelompok di Papua yang merasa ada rekayasa dalam prosesnya.

Karier Militer yang Tidak Terus-Menerus

Keberhasilan Sarwo di Irian Jaya tidak langsung mengangkat karier militernya. Ia justru dipromosikan menjadi mayor jenderal dengan jabatan gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) di Magelang selama empat tahun (1970-1974). Di sana, ia mengenal ketiga calon menantunya, salah satunya adalah Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah itu, Sarwo ditunjuk sebagai duta besar RI di Korea Selatan pada 1974-1978. Ia juga ditugaskan sebagai inspektur jenderal Kementerian Luar Negeri selama lima tahun (1978-1983). Setelah pensiun sebagai letnan jenderal, ia tidak diberi kesempatan menjadi panglima Kodam di Pulau Jawa. Hal ini membuatnya kehilangan kesempatan menjadi panglima Kowilhan untuk jenderal bintang tiga. Dalam sembilan tahun, Sarwo tanpa jabatan militer.

Kehidupan Setelah Pensiun

Setelah pensiun, Sarwo diberi tugas sebagai kepala Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP-7) pada 1984-1987. Ia juga diangkat sebagai dewan pengawas Bank Bumi Daya. Pada masa itu, namanya masuk sebagai calon ketua DPR periode 1987-1992 dari Fraksi Golkar DPR RI.

Pada 1989, setahun setelah mengundurkan diri sebagai anggota DPR, Sarwo meninggal dunia dalam usia 64 tahun. Jenderal flamboyan ini disemayamkan di Jalan Flamboyan, Kompleks Kopassus, Cijantung. Ia dimakamkan pada Hari Pahlawan di pemakaman keluarga di Mupasan, Purworejo, Jawa Tengah.

Penghargaan Gelar Pahlawan Nasional

Pada 9 November 2013 lalu, Sarwo Edhie sudah diumumkan akan menerima gelar pahlawan nasional pada 2014. Keputusan ini diambil setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu menyetujui penghargaan untuk mertuanya tersebut. Namun, Presiden Joko Widodo yang mulai menjabat sebulan sebelum Hari Pahlawan pada 2014 membatalkan keputusan SBY tersebut.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan