Satu Tahun Berdampak: Listrik Desa Jadi Bukti Pemerataan dan Keadilan

admin.aiotrade 24 Okt 2025 3 menit 16x dilihat
Satu Tahun Berdampak: Listrik Desa Jadi Bukti Pemerataan dan Keadilan

Kebijakan Pemerintah dalam Memperluas Akses Energi

Pemerintah Indonesia terus berupaya memperluas akses energi ke seluruh pelosok negeri. Dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang merata dan adil.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kehadiran listrik di desa-desa kini menjadi simbol kehadiran negara yang memberikan terang bagi masyarakat. Selain sebagai sumber penerangan, listrik juga menjadi sarana untuk meningkatkan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, listrik tidak hanya menjadi aspek penerangan, tetapi juga membuka peluang sosial-ekonomi bagi warga desa. “Di desa-desa terpencil, cahaya listrik kini menjadi simbol kehadiran negara dan pembuka jalan bagi kesempatan sosial-ekonomi,” ujarnya.

Capaian Program Listrik Desa dan BPBL

Program Listrik Desa telah menjangkau 10.068 lokasi dan memberikan manfaat kepada lebih dari 1,2 juta calon pelanggan baru. Sementara itu, realisasi Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) periode 2024 mencapai 155.429 rumah tangga (RT).

Untuk periode Januari-September 2025, sebanyak 135.482 RT telah terpasang dari target 215 ribu RT hingga akhir tahun. Dengan dua program ini, pemerintah menunjukkan komitmennya dalam mempercepat pemerataan energi sebagai bagian dari keadilan sosial dan kemandirian nasional.

Rasio Elektrifikasi Nasional dan Tantangan yang Dihadapi

Rasio elektrifikasi nasional saat ini telah mencapai 99,1 persen. Namun, masih ada beberapa wilayah yang sulit dijangkau karena sebaran rumah penduduk yang tersebar di pulau-pulau terluar dan pedalaman.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kementerian ESDM mempercepat transformasi menuju energi bersih dengan mengembangkan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Bahlil menjelaskan bahwa perubahan arah kebijakan mencakup transformasi menuju energi yang bersih dan berkelanjutan. Pemerintah telah meresmikan puluhan pembangkit energi terbarukan, mempercepat proyek PLTS berkapasitas 100 gigawatt, serta melibatkan koperasi desa dalam transisi energi.

“Ekonomi dan ekologi tidak harus dipertentangkan. Keduanya bersinergi menciptakan fondasi pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan merata,” kata Bahlil.

Komitmen Pemerintah dalam Mencapai Elektrifikasi 100 Persen

Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat pencapaian elektrifikasi 100 persen. “Setelah 80 tahun merdeka, tidak selayaknya ada warga yang masih mengalami gelap gulita,” ujarnya.

Dampak positif dari program Lisdes dan BPBL sudah dirasakan langsung oleh masyarakat. Ruslam, warga Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kini menikmati rumah yang terang setiap malam tanpa harus membeli bahan bakar untuk genset.

“Alhamdulillah, sekarang rumah kami terang, tanpa harus mikir beli bensin tiap malam. Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, dan saya bisa istirahat dengan tenang,” katanya.

Di Papua Barat, warga Kampung Iraiweri, Distrik Anggi, Pegunungan Arfak, juga merasakan manfaat serupa melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Anggi.

“Semua rumah itu harus dapat listrik, supaya untuk kami punya anak-anak kami itu bisa belajar, mamak-mamak bisa masak dengan (penerangan) lampu. Saat saya lahir di sini, kami belum ada lampu. Kami bikin api. Kami baca, belajar, itu pasang, bikin gelegar untuk jadi pelita,” ujar Elias Inyomusi.

Target Elektrifikasi Nasional pada Tahun 2030

Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi nasional mencapai 100 persen pada tahun 2030 mendatang. Langkah ini menjadi komitmen nyata dalam menghadirkan keadilan energi bagi seluruh rakyat Indonesia, dari kota hingga pelosok negeri.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan