
MEDAN, aiotrade
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Benjamin Gunawan, memberikan sejumlah catatan terkait pengangguran dan lapangan kerja di Sumatera Utara (Sumut) selama setahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi peningkatan angka pengangguran sebesar 0,38 persen pada Februari 2025 dibanding tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa serapan tenaga kerja di Sumut belum sepenuhnya mampu mengimbangi penambahan jumlah angkatan kerja yang ada. "Terjadi peningkatan angka pengangguran sebesar 0,38 persen di Februari 2025 dalam setahun. Yang berarti bahwa serapan tenaga kerja di Sumut belum sepenuhnya mampu mengimbangi penambahan jumlah angkatan kerja dalam setahun terakhir," ujar Benjamin saat diwawancarai aiotrade, Selasa (21/10/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pemangkasan TKD Jadi Alasan
Benjamin mengungkapkan salah satu indikator pengangguran yakni terkait kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Prabowo-Gibran kepada pemerintah daerah. "Efisiensi anggaran tentunya berlangsung hingga saat ini yang membuat kemampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja menghadapi tantangan," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa baru-baru ini, pemerintah pusat memangkas dana transfer ke daerah (TKD) Pemprov Sumut senilai Rp 1,1 triliun. Menurutnya, kebijakan ini dikhawatirkan akan kembali melemahkan serapan tenaga kerja. "Tentunya dengan serapan belanja pemerintah daerah yang berkurang, upaya menekan jumlah angka pengangguran menjadi lebih sulit. Dan saya rasa, kalau dibarengi dengan upaya untuk penyerapan anggaran dari kementerian untuk pembangunan fisik di Sumut, juga tidak bisa diandalkan untuk menekan angka pengangguran ke depannya," ujarnya.
Sumut Andalkan Sawit
Dari sisi potensi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Benjamin mengungkapkan bahwa Sumut banyak mengandalkan industri sawit. Meskipun tren kinerja industri sawit mengalami peningkatan di kuartal keempat, permintaan produk minyak kelapa sawit masih stagnan. "Sehingga saya pesimis industri pengolahan di Sumut akan mampu menambah jumlah angkatan kerja yang signifikan. Sehingga Sumut berpeluang terjebak pada tingkat pengangguran mutlak," ungkapnya.
Benjamin menilai, minimnya lowongan kerja membuat banyak tenaga kerja tidak dapat memanfaatkan sepenuhnya kompetensi yang dimiliki untuk mendapatkan pekerjaan yang diidamkan. "Jadi analoginya seorang sarjana bisa saja kerja serabutan yang penting bisa kerja," tutupnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengangguran di Sumut
Beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya angka pengangguran di Sumut antara lain:
-
Kebijakan Efisiensi Anggaran
Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah pusat telah mengurangi kemampuan pemerintah daerah dalam menciptakan lapangan kerja. Hal ini menyebabkan penurunan investasi di sektor-sektor yang biasanya menyerap tenaga kerja. -
Pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD)
Penurunan dana transfer ke daerah sebesar Rp 1,1 triliun telah mengurangi anggaran yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan program-program pemberdayaan masyarakat. Akibatnya, peluang kerja di daerah semakin berkurang. -
Ketergantungan pada Industri Sawit
Sumut sangat bergantung pada industri sawit sebagai sumber pendapatan. Namun, meskipun produksi meningkat, permintaan pasar tetap stagnan. Hal ini membatasi pertumbuhan industri pengolahan yang bisa menyerap tenaga kerja. -
Minimnya Lowongan Kerja
Banyak tenaga kerja, terutama lulusan perguruan tinggi, kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya. Banyak dari mereka terpaksa bekerja di bidang yang tidak relevan atau hanya bekerja paruh waktu.
Solusi yang Diperlukan
Untuk mengatasi masalah pengangguran di Sumut, beberapa langkah strategis perlu dilakukan:
-
Meningkatkan Investasi di Sektor Non-Pertanian
Pemerintah perlu mendorong pengembangan sektor non-pertanian seperti pariwisata, teknologi informasi, dan UMKM agar dapat menyerap tenaga kerja yang lebih besar. -
Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Pelatihan
Sistem pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Pelatihan keterampilan yang relevan perlu diberikan agar lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. -
Meningkatkan Kepastian Hukum dan Regulasi
Kebijakan yang jelas dan stabil diperlukan untuk menarik investor dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi daerah. -
Mendorong Partisipasi Swasta dalam Pembangunan
Kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam proyek-proyek pembangunan dapat membuka peluang kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Kesimpulan
Angka pengangguran di Sumut yang meningkat selama setahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menunjukkan adanya tantangan dalam penciptaan lapangan kerja. Berbagai faktor seperti kebijakan efisiensi anggaran, pemangkasan dana transfer ke daerah, dan ketergantungan pada industri sawit turut memperparah situasi ini. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan strategi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, termasuk penguatan sektor non-pertanian, peningkatan kualitas pendidikan, serta dukungan dari pihak swasta. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan tingkat pengangguran di Sumut dapat diminimalkan dan pertumbuhan ekonomi dapat lebih merata.