
Kenaikan Harga Beras Mengkhawatirkan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengungkapkan kekhawatiran terhadap anomali harga beras di tengah melimpahnya stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Perum Bulog. Hal ini terjadi selama masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ketua YLKI, Niti Emiliana, menyampaikan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan dari masyarakat mengenai kenaikan harga pangan, terutama beras, yang semakin memberatkan konsumen. Menurutnya, masyarakat mengeluhkan harga beras yang terus meningkat.
Selain itu, YLKI juga mempertanyakan ketidaksesuaian antara kondisi di lapangan dan pernyataan resmi pemerintah tentang ketersediaan stok yang melimpah. Niti menegaskan bahwa pengendalian harga pangan merupakan tanggung jawab pemerintah, khususnya dalam masa pemerintahan Kabinet Merah Putih.
“Stabilitas harga pangan memang menjadi tanggung jawab pemerintah terutama pada Kepemimpinan Pak Prabowo—Gibran. Harga beras haruslah terjangkau bagi seluruh kelompok masyarakat karena itu adalah kebutuhan primer,” jelas Niti.
YLKI menilai bahwa persoalan kelangkaan dan harga yang tinggi tidak hanya disebabkan oleh pasokan, tetapi juga imbas dari lemahnya pengelolaan dari sisi produksi hingga distribusi. “Terjadinya kenaikan dan kelangkaan beras menandakan bahwa tata kelola beras dari hulu hingga hilir masih belum optimal,” tambahnya.
Lebih lanjut, YLKI menegaskan bahwa akses terhadap pangan, khususnya beras, dengan harga terjangkau dan kualitas memadai merupakan hak dasar konsumen yang harus dipenuhi oleh negara. “Itu merupakan hak konsumen atas ketersediaan pangan beras yang mudah diakses dengan harga yang terjangkau, kualitas sesuai dengan standar dan kuantitas ataupun stok yang memadai,” ujarnya.
Untuk itu, YLKI mendorong agar pemerintah melaksanakan kewajibannya untuk memastikan hak masyarakat konsumen terpenuhi dengan baik, termasuk pangan.
Data Harga Beras yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Selasa (21/10/2025) pukul 09.04 WIB, rata-rata harga aneka beras masih melampaui harga eceran tertinggi (HET). Untuk rata-rata beras premium dibanderol di level Rp15.835 per kilogram secara nasional. Begitu pula dengan rata-rata harga beras medium secara nasional mencapai Rp13.716 per kilogram di tingkat konsumen.
Secara khusus, rata-rata harga aneka beras di tingkat masih melonjak di zona 3, termasuk beras SPHP. Adapun, zona 3 terdiri atas Maluku dan Papua.
Penyebab Kenaikan Harga Beras
Menurut pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Eliza Mardian, tingginya harga beras di tingkat konsumen tak terlepas dari mahalnya ongkos produksi di sektor hulu. “Kalau dari sisi harga beras, ini [harga beras] di konsumen naik karena ada penyesuaian dari sisi bahan bakunya, yaitu penyesuaian harga gabah,” jelas Eliza.
Eliza menyebut bahwa kebijakan gabah kering panen (GKP) menjadi Rp6.500 per kilogram akan menguntungkan para petani. Alhasil, kebijakan ini berdampak pada membaiknya nilai tukar petani pangan.
Meski begitu, Eliza menilai, perlu ada keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen masih menjadi tantangan besar, seiring adanya kebijakan kenaikan harga GKP.
Stok Beras yang Melimpah
Presiden Prabowo Subianto mengungkap bahwa stok CBP di gudang Perum Bulog telah mencapai 4,2 juta ton pada Juni 2025. “Kita juga sekarang cadangan beras pemerintah di gudang Bulog mencapai 4,2 juta ton di bulan Juni 2025, juga tertinggi sepanjang sejarah NKRI,” kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna, Istana Negara.
Kepala Negara RI itu juga menyebut Indonesia akan menuju swasembada pangan dalam waktu dekat dan hanya membutuhkan 1 tahun. Dia menyebut, capaian ini khususnya ditorehkan untuk swasembada beras seiring dengan melimpahnya produksi dan stok dalam negeri.
Awalnya, Prabowo menargetkan agar Indonesia dapat meraih swasembada beras dalam kurun 4 tahun atau pada 2028. Namun, dia meminta jajaran menterinya di Kabinet Merah Putih dan pihak terkait lainnya untuk mempercepat swasembada pangan agar tercapai dalam waktu singkat, yakni 1 tahun.
“Kita juga sekarang di bidang pangan, ini salah satu prestasi kita yang sangat melegakan kita. Saya memberi waktu 4 tahun untuk kita kembali swasembada [beras], ternyata tim pangan kita berhasil insyaallah swasembada dalam 1 tahun,” kata Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyampaikan bahwa pada Oktober 2025, produksi beras nasional telah mencapai 31,04 juta ton sepanjang Januari—Oktober 2025. Dia mengeklaim angka ini merupakan produksi tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Menurutnya, capaian ini merevisi target yang semula empat tahun swasembada pangan menjadi satu tahun.
“Ini adalah produksi tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Jadi ya boleh kita tegakkan kepala kita dengan penuh kehormatan. Saya kasih target 4 tahun, mereka hasilkan dalam 1 tahun [swasembada],” pungkasnya.