Sawah Jadi Sumber Energi, Petani Makin Sejahtera

admin.aiotrade 15 Des 2025 3 menit 30x dilihat
Sawah Jadi Sumber Energi, Petani Makin Sejahtera


jabar.aiotrade
, KOTA BANDUNG - Pencarian dan pengembangan sumber energi terbarukan semakin berkembang di Indonesia. Salah satu inisiatif yang menarik perhatian adalah Bobibos, bahan bakar alternatif berbasis jerami. Jerami yang selama ini sering dianggap sebagai limbah pascapanen dan bahkan dibakar di sawah, kini ditawarkan sebagai sumber energi baru.

Inisiator Gree Merah Putih Fauzan Rachmansyah menyatakan bahwa upaya masyarakat Indonesia dalam menciptakan energi terbarukan adalah langkah yang sangat positif. Salah satu contohnya adalah inovasi Bobibos.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Jerami bisa menjadi energi terbarukan, yang memberikan dampak yang sangat positif,” kata Fauzan dalam keterangan tertulisnya kepada aiotrade, dikutip Senin (15/12/2025).

“Masyarakat akan berbondong-bondong menanam padi, padinya jadi beras dan dijual, dan jeraminya yang selama ini para petani bingung mau diapakan bisa menjadi sesuatu dengan nilai tinggi,” tambah Fauzan.

Namun, lanjut Fauzan, ada juga petani yang memanfaatkan jerami untuk pakan sapi. Jadi, jika dikelola dengan benar, pendekatan ini berpotensi mengurangi pencemaran udara, meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian, serta membuka lapangan kerja di desa.

Lebih jauh, kata Fauzan, dari sisi kebijakan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai cukup memberikan perhatian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Arah kebijakan yang menempatkan sustainability sebagai agenda penting membuka ruang bagi riset dan inovasi energi alternatif.

“Semakin banyak pihak yang melakukan riset dan mencari solusi, semakin besar peluang Indonesia menemukan jalan keluar dari persoalan energi dan lingkungan,” katanya.

Senada dengan Fauzan, Pengamat otomotif Bebin Juana menilai bahwa transisi energi merupakan keharusan strategis. Namun, keberhasilan energi alternatif tidak dapat ditentukan oleh popularitas atau uji coba semata, melainkan oleh kesiapan skala ekonomi, pasokan bahan baku, dan kemampuan memenuhi kebutuhan nasional.

"Minyak bumi pasti akan habis. Tapi mencari penggantinya tidak bisa sekadar berdasarkan tren. Energi alternatif harus layak secara ekonomi, bisa diproduksi massal, dan tidak membebani konsumen," ujar Bebin.

Bebin mencontohkan, Brazil berhasil menggunakan energi terbarukan karena mereka surplus tebu dan didukung kebijakan negara yang konsisten. Bebin menilai Bobibos yang berdasarkan jerami memiliki potensi ke arah sana.

"Secara konsep, ada potensi karena jerami adalah limbah. Tapi kita belum tahu apakah jumlahnya cukup untuk kebutuhan nasional dan apakah pasokannya stabil. Yang penting itu kualitas dan volumenya harus konsisten," katanya.

Jerami adalah residu pertanian yang selama ini tidak memiliki nilai ekonomi tinggi. Jika bisa diolah menjadi bahan bakar, itu akan mengurangi biaya bahan baku sekaligus memberi nilai tambah pada sektor pertanian.

Di Indonesia, ada sekitar 11 juta hektare sawah dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tentu ini lebih mudah didapat daripada aren atau sawit.

Selain itu, Bebin menilai bahan bakar berbasis aren memiliki keterbatasan dari sisi volume dan kesinambungan pasokan. Kebutuhan energi nasional, kata Bebin, tidak hanya untuk kendaraan darat, tetapi juga sektor perikanan, logistik, dan industri.

"Berapa banyak aren di Indonesia? Kebutuhan bahan bakar itu besar sekali, bukan hanya untuk kendaraan darat, tapi juga kapal nelayan. Lalu masyarakat di media sosial membandingkan dua hal ini secara sederhana, padahal kasusnya tidak sesederhana itu," kata Bebin.

Adapun untuk biodiesel, Bebin mengakui Indonesia surplus minyak sawit sehingga logis untuk dibuat. Tetapi nyatanya harus berhati-hati karena tidak ada merek mobil yang siap menerima B35.

"Ketika persentasenya dinaikkan terlalu tinggi, itu berbahaya. Tidak ada merek mobil yang siap menerima B35. Harus berhati-hati agar konsumen tidak rugi. Selain itu ada unsur politis dalam urusan kilang minyak dan kualitas BBM kita yang tertinggal dibanding negara lain," kata Bebin.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan