Sejarah Pertandingan Gladiator di Romawi Kuno

AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pertandingan gladiator adalah salah satu bentuk hiburan yang paling brutal dan terkenal dalam sejarah Romawi Kuno. Sebelum olahraga bela diri modern menjadi populer, masyarakat Romawi menghabiskan waktu mereka dengan menonton pertandingan yang penuh darah dan kekerasan. Hiburan ini berlangsung selama lebih dari enam abad dan menjadi bagian penting dari kehidupan politik dan sosial pada masa itu.
Dari Ritual Pemakaman Menjadi Tontonan Kekaisaran
Pertandingan gladiator pertama yang diketahui terjadi pada tahun 264 SM. Awalnya, pertandingan ini memiliki konteks ritual dan merupakan bagian dari perayaan pemakaman. Pada masa awal, hanya sedikit gladiator yang berpartisipasi dalam pertandingan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan akan tontonan yang spektakuler dan penuh kekerasan semakin meningkat.
Puncak popularitas pertandingan gladiator terjadi pada masa Kaisar Trajan setelah ia menaklukkan Dacia pada tahun 107 Masehi. Jumlah gladiator yang berpartisipasi dalam perayaan mungkin mencapai ribuan. Pertandingan ini diiringi dengan eksekusi publik terhadap penjahat dan pembangkang, bahkan hewan liar digunakan untuk mengeksekusi tahanan dan bertarung dalam pertunjukan.
Beberapa sejarawan memperkirakan bahwa hingga 400.000 orang dan sekitar 1 juta hewan tewas di Colosseum selama 350 tahun penyelenggaraan olahraga berdarah tersebut. Perkiraan ini belum termasuk darah yang ditumpahkan di ratusan amfiteater lain di seluruh kekaisaran selama enam abad sejarah gladiator.
Kritik Filsuf dan Teolog
Seiring meningkatnya popularitas, biaya pertandingan gladiator juga melambung tinggi. Pada abad keempat Masehi, Kekaisaran Romawi mulai terbebani secara finansial, namun hiburan gladiator terlanjur menjadi cara efektif untuk menghibur massa, sehingga sulit bagi kaisar untuk berhenti mensponsori acara-acara yang boros ini.
Meski demikian, beberapa pemikir besar di Romawi Kuno mulai mengkritik tontonan berdarah tersebut. Kritik ini berfokus pada dampak moral dan kerusakan karakter pribadi (virtue) seseorang karena menonton kekerasan demi kesenangan. Filsuf seperti Seneca (sekitar 4 SM–65 M) dan Plinius Muda (61–113 M) termasuk yang prihatin. Mereka menyatakan bahwa hal ini tercermin dalam penentangan awal terhadap pertandingan gladiator.
Selain filsuf, teolog awal dari Kristen dan Yahudi Rabbinik juga mengutuk pertandingan tersebut. Teolog Kristen seperti Tertullian (sekitar 155–220 M) melarang orang Kristen menghadirinya, mengkhawatirkan dampaknya terhadap jiwa. Filsuf Yahudi Philo dari Aleksandria (sekitar 20 SM–50 M) juga mengutuk permainan tersebut karena degradasi moralnya.
Martir Telemakus dan Akhir Resmi Pertandingan Gladiator
Akhir pertandingan gladiator membutuhkan kekuatan politik dan moral. Kaisar Kristen pertama, Konstantinus, pada tahun 325 Masehi menyatakan pertandingan tersebut dilarang sepenuhnya. Namun, larangan tersebut tidak efektif; pertandingan dan sekolah gladiator tetap berlanjut selama 30 tahun.
Kaisar-kaisar Kristen di masa selanjutnya memperkuat undang-undang Konstantinus. Pada tahun 399 Masehi, sekolah-sekolah gladiator di Romawi Kuno secara resmi ditutup, dan Kaisar Honorius melarang pertandingan gladiator. Namun, pertandingan ini tetap berlanjut.
Akhir yang menentukan sering dikaitkan dengan kisah dramatis seorang biarawan. Sejarawan Theodoret (sekitar 393–458) menceritakan kisah biarawan bernama Telemakus yang datang ke Colosseum pada 1 Januari 404. Ia ngeri dengan apa yang dilihatnya dan berlari ke arena, memohon para gladiator untuk berhenti. Telemakus kemudian ditikam dan dilempari batu hingga tewas oleh kerumunan yang frustrasi.
Menurut Theodoret, aksi protes Telemakus dan kekerasan massa yang luar biasa gila inilah yang akhirnya mendorong Kaisar Honorius untuk mengakhiri Pertandingan Gladiator (munera) itu sendiri.
Komentar
Kirim Komentar