
Sejarah Kerupuk di Meja Makan Solo
Kerupuk menjadi bagian tak terpisahkan dari makanan khas di meja makan warung-warung Solo. Tersaji dalam kaleng warna-warni dan dijual dengan harga Rp1.000 per buah, kerupuk ini tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga simbol sejarah panjang yang terkait dengan budaya dan ekonomi Indonesia.
Akar Sejarah Singkong dan Kerupuk
Singkong, bahan utama kerupuk, bukanlah tanaman asli Indonesia. Ia dibawa oleh bangsa Portugis dari Amerika Selatan pada abad ke-15 dan ke-16. Masuknya singkong menjadi bagian dari "jejak kolonial hayati" yang mengubah lanskap pangan Nusantara. Pada masa kolonial, sistem cultuurstelsel diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda, yang memaksa rakyat menanam tanaman ekspor seperti teh, kopi, dan kakao. Hal ini membuat lahan untuk padi terbatas, sehingga masyarakat beralih menanam singkong sebagai alternatif.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dari situ, produksi singkong meningkat pesat dan melahirkan beragam inovasi kuliner berbasis singkong, termasuk kerupuk. Dalam sejumlah sumber, seperti kakawin Jawa Kuno Ramayana (abad ke-9 hingga ke-10), telah ditemukan istilah “kurupuk”, yang berarti serpihan renyah dari kulit atau udang. Ini menunjukkan bahwa konsep makanan renyah serupa kerupuk telah dikenal sejak era Kerajaan Medang.
Kerupuk di Masa Krisis dan Depresi Dunia
Kerupuk tidak hanya bertahan di masa kemakmuran, tetapi justru menjadi simbol ketabahan di masa paceklik. Pada era Great Depression (1929–1939), harga bahan pangan hewani seperti daging dan susu melambung tinggi. Kaum pribumi bertahan dengan nasi, sambal, ikan asin, dan kerupuk. Kerupuk kala itu menjadi simbol kemelaratan dan keprihatinan. Ironisnya, justru dari masa-masa sulit inilah industri kerupuk tumbuh.
Di Bandung dan Yogyakarta, misalnya, para perantau dari Ciamis dan Tasikmalaya membuka pabrik-pabrik kerupuk setelah kehilangan pekerjaan di sektor formal. Data menunjukkan pabrik kerupuk di Bandung, seperti milik Saidin dan Sukarma, sudah beroperasi sejak 1930-an. Pabrik lain, DK di Sleman, juga berdiri pada 1934 dan masih bertahan hingga kini dikelola generasi ketiga.
Adaptasi Industri Kerupuk di Tengah Krisis Ekonomi
Krisis demi krisis justru membuat industri kerupuk semakin adaptif. Kebijakan pemerintah tahun 1978 yang membuat harga tapioka melonjak hingga 80 persen sempat mengguncang pelaku usaha, namun mereka tetap bertahan. Pada krisis moneter 1998 dan pandemi COVID-19 tahun 2020 pun, bisnis kerupuk terbukti tangguh, bahkan meningkat karena tingginya konsumsi rumah tangga.
Keberhasilan industri kerupuk tak lepas dari kerja keras para perantau asal Ciamis. Di Jakarta, para pengrajin kerupuk umumnya berasal dari Kecamatan Cikoneng dan Cipaku, Ciamis. Mereka selama ini dikenal sebagai ahli membuat kerupuk aci. Jika pun di Solo atau daerah Jawa Tengah-DIY ada pabrik kerupuk, besar kemungkinan pemiliknya orang Cikoneng atau Jawa Barat.
Tiga Merek Kerupuk Kaleng Legendaris di Solo
Di Kota Solo, Jawa Tengah sendiri ada beberapa merek kerupuk kaleng yang terkenal. Tiga di antaranya adalah kerupuk Sala, kerupuk Ulam Sari, dan kerupuk Elis. Kerupuk-kerupuk ini biasanya diantar secara berkeliling menggunakan sepeda dan bronjong ke beberapa warung makan.
Untuk kerupuk Sala, biasanya dikemas dalam kaleng berwarna hijau atau warna-warna mencolok lainnya. Pabrik kerupuk di Kerten Solo, Jawa Tengah, ini sudah berdiri dari 1967. Kemudian ada pula kerupuk Ulam Sari yang belakangan juga naik daun. Merek kerupuk ini pernah dipromosikan oleh Wali Kota Solo saat itu, Gibran Rakabuming Raka. Selain warung-warung makan, kerupuk Ulam Sari kini juga merambah ke toko oleh-oleh khas Solo dalam varian mentah.
Yang ketiga adalah kerupuk Elis. Kerupuk ini diproduksi oleh PT Elis Bandung yang membangun pabriknya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Umumnya, kerupuk-kerupuk ini ketika sudah sampai di meja makan di warung makan di Solo, dibanderol dengan harga Rp1.000 dengan ukuran cukup besar.