Sekolah Disegel, 111 Siswa SD Tamberu 2 Pamekasan Terlantar, Belajar di Tenda Tanpa Kursi

admin.aiotrade 24 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Sekolah Disegel, 111 Siswa SD Tamberu 2 Pamekasan Terlantar, Belajar di Tenda Tanpa Kursi

Kondisi Sekolah yang Disegel dan Dampaknya pada Siswa

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tamberu 2 di Pamekasan kini berada dalam situasi yang memprihatinkan. Selama lima hari terakhir, siswa tidak bisa mengikuti proses belajar-mengajar secara normal. Hal ini terjadi karena pintu sekolah mereka disegel oleh ahli waris yang mengklaim sebagai pemilik lahan tempat sekolah tersebut berdiri.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Penyegelan terjadi sejak Minggu (19/10/2025), dan hingga Jumat (24/10/2025), kondisi ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sejak Senin lalu, siswa hanya datang ke sekolah untuk mengambil menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, tanpa adanya aktivitas pembelajaran, para siswa dan orang tua merasa khawatir akan masa depan pendidikan mereka.

Sengketa Lahan yang Masih Berlangsung

Masalah ini bermula dari sengketa lahan antara ahli waris dan Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Ahli waris, Ach. Rosyidi, menyatakan bahwa tanah yang digunakan SDN Tamberu 2 adalah milik keluarganya. Penyegelan ini merupakan yang kedua kalinya terjadi setelah sebelumnya terjadi pada tahun 2024.

Rosyidi menjelaskan bahwa penyegelan dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Ia menilai bahwa pihak pemerintah belum menunjukkan itikad baik dalam menyelesaikan sengketa lahan ini.

Upaya Wali Murid dalam Mengatasi Kondisi Darurat

Akibat penyegelan, puluhan wali murid harus berinisiatif mencari solusi agar anak-anak tetap bisa belajar. Mereka menggunakan tenda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang didirikan sejak dua hari lalu. Para orang tua membantu membersihkan area tenda, baik di dalam maupun di luar.

Mereka membawa alat-alat dari rumah seperti sapu lidi, cangkul, dan peralatan lainnya. Juhairiyah, salah satu wali murid, mengatakan bahwa mereka membantu guru membersihkan tempat di dalam dan di luar tenda dengan harapan anak-anak bisa segera belajar.

Namun, ada tantangan besar yang dihadapi. Saat ini, sekolah masih kesulitan mendapatkan bangku untuk dua tenda darurat. Bangku di dalam sekolah belum diizinkan diambil untuk dipindahkan ke tenda.

"Beberapa wali murid pernah mencoba meminta izin kepada ahli waris untuk mengambil bangku, tetapi tidak diperbolehkan," ujar Juhairiyah.

Ia juga menyampaikan bahwa kemungkinan siswa akan belajar di tenda dengan alas tikar. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama karena musim hujan sudah mulai.

Kebisingan dari Pihak Sekolah dan Disdikbud

Sementara itu, kepala SDN Tamberu 2, Angga Diyan Kristiawan, dan kepala Disdikbud Pamekasan, Mohamad Alwi, tampak bungkam. Mereka tidak memberikan keterangan apapun mengenai kondisi saat ini.

Menurut Rasyidi, hingga kini tidak ada koordinasi antara pihak sekolah atau lembaga pemerintah lainnya dengan ahli waris sejak pertama kali sekolah disegel. Ia bahkan mengatakan bahwa tidak ada komunikasi melalui telepon maupun bertemu langsung.

Rasyidi menyebutkan bahwa sempat ada rapat di Kantor Kecamatan Batumarmar. Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Disdikbud Mohamad Alwi, Camat Batumarmar R. Muhammad Lutfi, kepala sekolah, dan wali murid. Namun, dalam pertemuan tersebut tidak ada pembahasan penyelesaian masalah dengan ahli waris. Malah, mereka membahas soal relokasi siswa.

Ia menilai bahwa tidak ada itikad baik dari pihak pemerintah untuk menyelesaikan sengketa lahan ini. Meski begitu, ia mengaku bahwa hati nuraninya tidak tega terhadap siswa, tetapi memang tidak ada upaya nyata dari sekolah maupun Disdikbud.

Harapan dan Kekhawatiran

Meskipun kondisi sulit, para siswa tetap datang setiap hari. Selain untuk mengambil menu MBG, mereka pun berharap bisa kembali bersekolah. Namun, harapan ini terus tertunda karena belum ada solusi yang jelas dari pihak terkait.

Dengan kondisi saat ini, masyarakat dan para wali murid sangat berharap masalah ini segera selesai. Mereka ingin siswa dapat belajar secara normal tanpa gangguan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan