Seluruh Tahun 2025: 2.182 Kasus Kekerasan di Jakarta, Kekerasan Psikis dan Bullying Terbanyak

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 13x dilihat
Seluruh Tahun 2025: 2.182 Kasus Kekerasan di Jakarta, Kekerasan Psikis dan Bullying Terbanyak

aiotrade
– Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di DKI Jakarta menunjukkan tren kenaikan sepanjang tahun 2025. Hingga pertengahan Desember, ribuan laporan masuk ke Unit Pelaksana Teknis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA). Menariknya, bukan kekerasan fisik yang mendominasi, melainkan kekerasan psikis.

Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta Iin Mutmainnah membeberkan data terbaru sekaligus alasan di balik melonjaknya angka pelaporan tersebut. Berdasarkan data hingga 19 Desember 2025, tercatat ada 2.182 klien yang mengadu. Dari jumlah tersebut, kekerasan psikis menempati urutan teratas, disusul oleh kekerasan seksual dan fisik.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kasus bullying atau perundungan yang marak terjadi di sekolah juga masuk dalam kategori psikis ini. "Jadi jumlah pengaduan dari data yang dimiliki oleh kami dari UPT-PPA, ini secara umum jenis kekerasan terbanyak, ini memang kekerasan psikis sebanyak 1.059, kemudian kekerasan seksual 902, kekerasan fisik 895, eksploitasi 109, penelantaran 72, dan data masih dalam konfirmasi adalah sebanyak 9 kasus," ujar Iin Mutmainnah usai Talkshow Stop Bullying dan Kekerasan Melalui Ketahanan Keluarga untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045, Selasa (26/12).

Iin menjelaskan, bullying dikategorikan sebagai serangan verbal yang berdampak pada mental korban. "Ini kita masukkan dalam kategori psikis salah satunya, jadi bagian dari kekerasan psikis yang menyerang secara verbal, menyerang secara psikis terhadap seorang anak, ataupun siapapun yang mengalami kasus bullying itu," tambahnya.

Fenomena 'Speak Up': Kabar Baik atau Buruk?

Kenaikan angka kasus di tahun 2025 dibanding 2024 ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Jakarta semakin tidak aman, atau kesadaran warga yang meningkat? Menurut Iin, tingginya angka laporan justru menjadi indikator positif dari keberanian warga Jakarta.

"Kenapa tinggi? Satu hal, warga kita semakin berani speak up, semakin banyak dia berani untuk menyatakan atau mengadu kepada kanal yang disiapkan oleh pemerintah," jelas Iin. Ia menambahkan bahwa masyarakat kini semakin paham akan hak, kewajiban, dan cara menjaga diri. Namun, di sisi lain, ini menjadi 'alarm' bagi pemerintah untuk memperkuat mitigasi.

"Jadi menurut saya ini hal yang positif, kalau dinilai dari sisi jumlah yang kenapa banyak secara positif. Tapi secara negatifnya tentu kita melihat ini adalah kepedulian di lingkungan. Kita perlu kita tingkatkan, kan seperti itu. Jadi mitigasi resiko perlu kita kuatkan," tegasnya.

Jakarta Timur Tertinggi, Perempuan Dewasa Paling Rentan

Dilihat dari sebaran wilayah, Jakarta Timur mencatatkan angka laporan tertinggi, yang menurut Iin berkorelasi dengan kepadatan penduduk di wilayah tersebut. Sementara itu, dari sisi demografi korban, perempuan dewasa dan anak perempuan menjadi kelompok paling rentan. Berikut rincian data klien hingga 19 Desember 2025:

Jumlah seluruh pelapor mencapai 2.182 orang. Dengam rincian perempuan Dewasa 1.004, Anak Perempuan: 809 dan Anak Laki-laki: 369.

A. Kategori Kasus (10 Terbanyak) * Anak Korban Kekerasan Seksual: 641 * Perempuan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): 450 * Perempuan Korban Kekerasan Psikis: 343 * Perempuan Korban Kekerasan Fisik: 298 * Anak Korban Kekerasan Fisik: 274 * Anak Korban Kekerasan Psikis: 258 * Perempuan Korban Kekerasan Seksual: 199 * Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): 126 * Anak Korban Penjualan/Perdagangan Orang (TPPO): 46 * Perempuan Korban Kekerasan Berbasis Online/Elektronik: 38 * Lainnya: 260

B. Jenis Kekerasan * Kekerasan Psikis: 1.059 * Kekerasan Seksual: 902 * Kekerasan Fisik: 895 * Eksploitasi: 109 * Penelantaran: 72 * Data dalam Konfirmasi: 9

C. Bentuk Kekerasan (10 Terbanyak) * Ditonjok: 440 * Bentuk Kekerasan Fisik Lainnya: 413 * Pencabulan: 375 * Diancam/Diintimidasi: 356 * Bentuk Kekerasan Psikis Lainnya: 316 * Dihina: 312 * Ditendang: 276 * Pelecehan Seksual: 267 * Direndahkan: 238 * Persetubuhan: 236 * Lainnya: 1.543

Strategi "Keroyokan" Lawan Kekerasan

Menghadapi ribuan kasus ini, Dinas PPAPP DKI Jakarta menegaskan bahwa penanganan kekerasan tidak bisa dilakukan sendirian. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. "Karena masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, ini bukan urusan sektoral, tapi multi sektor. Sehingga harus dilakukan cross-cutting program," kata Iin.

Berbagai kampanye terus digencarkan, mulai dari Gerakan Ayah Teladan, kampanye 16 hari anti kekerasan, hingga sosialisasi masif di transportasi publik. Iin bahkan secara rutin mengenakan rompi khusus sebagai simbol kampanye di lapangan. "Ini adalah vest yang memang secara rutin saya memakainya di hari Rabu bersama teman-teman dinas. Ini adalah untuk menunjukkan bahwa ada kampanye stop kekerasan terhadap perempuan dan anak termasuk di mode transportasi," imbuhnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan