Semaan Puisi ke-100: Merenung Syekh Nawawi di Keraton Kaibon

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Semaan Puisi ke-100: Merenung Syekh Nawawi di Keraton Kaibon
Semaan Puisi ke-100: Merenung Syekh Nawawi di Keraton Kaibon

Perayaan Semaan Puisi Episode ke-100 di Keraton Kaibon

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 8 (BPK Wilayah 8) berhasil menyelenggarakan acara Semaan Puisi Episode ke-100 di situs bersejarah Keraton Kaibon, pada Sabtu malam (25/10/2025). Acara ini menjadi bagian dari Festival Sasaka Cibanten yang menggabungkan pelestarian budaya, sejarah, dan lingkungan Sungai Cibanten.

Kegiatan istimewa ini menampilkan puisi-puisi karya penyair asal Banten, Toto ST Radik, serta dihadiri oleh masyarakat luas, seniman, mahasiswa, dan para budayawan. Episode ke-100 ini dianggap sebagai momen bersejarah karena diselenggarakan di tanah kelahiran sang penyair.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Perwakilan panitia menjelaskan bahwa tujuan dari Festival Sasaka Cibanten adalah untuk menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap Sungai Cibanten sebagai urat nadi sejarah dan identitas Banten. Sebelumnya, festival ini telah digelar di wilayah hulu seperti Cibanten dan Ciomas, serta di tengah seperti Gedung Juang 45 dan Umah Kaujon, sebelum akhirnya berpuncak di Keraton Kaibon.

Pembicara dan Tema Penting dalam Acara

Budayawan Jamal D. Rahman turut hadir dalam acara tersebut dan memberikan tausiah kebudayaan dengan judul Syekh Nawawi dan Multatuli: Merenungkan Bias Kolonial dalam Tubuh Kita. Ia menyoroti pemikiran dekolonial Syekh Nawawi Albantani sebagai rahim nasionalisme Nusantara dan mengingatkan pentingnya membebaskan cara berpikir dari warisan kolonial.

Kolonialisme paling halus bekerja di cara kita mengingat dan mengenang. Dekolonialitas adalah keberanian menatap cermin dan merobohkan singgasana kecil kolonialisme dalam diri kita, ujarnya.

Pembicaraan ini membuka wawasan baru bagi peserta tentang bagaimana cara berpikir mereka dapat dipengaruhi oleh warisan kolonial dan bagaimana pentingnya mencari jalan untuk melepaskan diri dari pengaruh tersebut.

Penutup Acara yang Menggugah

Malam Semaan Puisi ditutup dengan pembacaan puisi-puisi Toto ST Radik seperti Indonesia pada Sebuah Malam dan Tirtayasa, yang menggugah kesadaran sejarah dan kebanggaan terhadap warisan budaya Banten. Pembacaan puisi ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi sastra, tetapi juga menjadi perayaan akan kekayaan budaya lokal yang terus dilestarikan.

Panitia berharap kegiatan ini terus berlanjut sebagai ruang refleksi dan apresiasi terhadap sastra serta budaya lokal. Dengan adanya acara semacam ini, diharapkan masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya yang ada di sekitar mereka.

Agenda Masa Depan

Festival Sasaka Cibanten ini tidak hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ikatan antara masyarakat dengan sejarah dan lingkungan mereka. Dengan menggabungkan elemen budaya, sejarah, dan lingkungan, festival ini memberikan pandangan yang lebih holistik terhadap kehidupan masyarakat Banten.

Selain itu, acara ini juga menjadi ajang promosi budaya lokal kepada kalangan muda, agar mereka bisa lebih memahami dan menghargai warisan budaya yang sudah ada sejak lama. Dengan demikian, generasi mendatang akan lebih sadar akan pentingnya menjaga kekayaan budaya yang dimiliki.

Dengan terlaksananya Semaan Puisi Episode ke-100, diharapkan akan muncul inisiatif-inisiatif lain yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas seni, diharapkan budaya Banten akan tetap hidup dan berkembang.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan