Semeru Meletus Enam Kali, Kolom Abu Mencapai 700 Meter ke Selatan

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 16x dilihat
Semeru Meletus Enam Kali, Kolom Abu Mencapai 700 Meter ke Selatan
Semeru Meletus Enam Kali, Kolom Abu Mencapai 700 Meter ke Selatan

Gunung Semeru Kembali Aktif, Masyarakat Diminta Waspada

Gunung Semeru, yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada hari Selasa (21/10/25) pagi. Dalam waktu kurang dari enam jam, gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang ini tercatat mengalami enam kali erupsi. Tinggi kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, melaporkan bahwa erupsi pertama terjadi sekitar pukul 00.20 WIB dan berlanjut hingga pagi hari. “Erupsi terakhir tercatat pada pukul 05.53 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 600 meter di atas puncak atau 4.276 meter di atas permukaan laut,” ujarnya dalam laporan tertulis di Lumajang.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kolom abu yang teramati memiliki warna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah selatan. Meskipun aktivitas ini tidak menimbulkan kepanikan di sekitar wilayah lereng, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya lanjutan seperti awan panas guguran, lahar, dan lontaran batu pijar.

Saat ini, Gunung Semeru masih berstatus Waspada (Level II). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara gunung, terutama sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh delapan kilometer dari puncak.

Di luar zona tersebut, warga juga diimbau menjauhi tepi sungai hingga 500 meter karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 13 kilometer dari puncak. “Masyarakat juga kami imbau tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah karena berisiko terhadap lontaran batu pijar,” tegas Liswanto.

Selain Besuk Kobokan, PVMBG juga memperingatkan potensi bahaya di sepanjang Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat yang berhulu di puncak Semeru. Aktivitas hujan di sekitar puncak dapat memicu aliran lahar hujan yang berpotensi melanda kawasan di bawahnya.

Pemerintah daerah bersama BPBD Lumajang terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Semeru. Sensor peringatan dini lahar dingin juga telah dipasang di beberapa titik rawan untuk mempercepat informasi kepada warga apabila terjadi peningkatan aktivitas.

Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak bersumber dari lembaga resmi seperti PVMBG atau BMKG. Hingga siang hari, aktivitas Semeru masih terus dipantau secara intensif oleh petugas pos pengamatan di Gunung Sawur, Lumajang.

Peringatan dan Tindakan Pencegahan

Beberapa langkah penting telah diambil untuk memastikan keselamatan masyarakat sekitar Gunung Semeru:

  • Larangan aktivitas di sektor tenggara gunung, terutama sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh delapan kilometer dari puncak.
  • Jarak aman di luar zona larangan: menjauhi tepi sungai hingga 500 meter karena risiko aliran lahar dan awan panas.
  • Radius tiga kilometer dari kawah dilarang dihuni karena potensi lontaran batu pijar.
  • Peringatan terhadap jalur aliran lain seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat yang bisa terdampak oleh aliran lahar hujan.

Pentingnya Informasi Resmi

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Hanya lembaga resmi seperti PVMBG dan BMKG yang memiliki data akurat dan terkini tentang aktivitas Gunung Semeru. Dengan adanya sensor peringatan dini, masyarakat akan lebih cepat mendapatkan informasi jika ada peningkatan aktivitas vulkanik.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan