Seminar Nasional: Isu Peringatan Krisis Iklim di Unsrat, Lasabuda: Bumi Menanti Tindakan Nyata Gener

admin.aiotrade 20 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
Seminar Nasional: Isu Peringatan Krisis Iklim di Unsrat, Lasabuda: Bumi Menanti Tindakan Nyata Gener
Seminar Nasional: Isu Peringatan Krisis Iklim di Unsrat, Lasabuda: Bumi Menanti Tindakan Nyata Generasi Muda

Peran Generasi Muda dalam Menghadapi Krisis Iklim

Krisis iklim kini menjadi alarm keras bagi masa depan Indonesia. Di tengah ancaman deforestasi, degradasi lahan, polusi, hingga kehilangan keanekaragaman hayati, generasi muda disebut sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan bumi. Kesadaran inilah yang menjadi landasan digelarnya Seminar Nasional dan Diskusi Tematik bertajuk 'Alarm Krisis Iklim dan Dialog Kaum Muda', Senin 20 Oktober 2025.

Seminar ini digelar berkat kolaborasi dan kerjasama dari Institut Hijau Indonesia, FOLU NC-1 dan Pusat Studi ASEAN, LPPM Universitas Sam Ratulangi. Sejumlah narasumber juga turut memberikan edukasi dan alarm bagi kaum muda untuk mawas terhadap krisis iklim.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kondisi Saat Ini yang Menyentuh

Koordinator Pusat Studi ASEAN LPPM Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Dr. Ridwan Lasabuda, dalam sambutannya menegaskan, dunia saat ini sedang berada di ambang masa yang disebut para ilmuwan sebagai “decade of urgency” atau dekade genting bagi bumi.

“Kita melihat musim yang berubah, laut yang semakin panas, udara yang makin sesak, dan hutan-hutan yang perlahan hilang dari peta kehidupan kita. Semua tanda ini bukan sekadar berita di layar, tapi realitas yang kita rasakan sendiri,” ujarnya.

Ridwan mencontohkan kondisi di Sulawesi Utara yang kini mulai merasakan dampak langsung dari krisis lingkungan.

“Nelayan kehilangan hasil tangkapan karena arus laut berubah, petani kehilangan musim tanam, dan di kota, banjir serta cuaca ekstrem semakin sering datang tanpa permisi. Alam kita pun kian rusak karena aktivitas tambang ilegal,” kata Ridwan.

Namun, di balik semua itu, ia menekankan bahwa manusia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

“Kita tidak sedang berhadapan dengan akhir, tetapi dengan panggilan untuk berubah,” tegasnya.

Ia menjelaskan, itulah alasan kegiatan ini mengangkat tema ‘Alarm Krisis Iklim dan Dialog Kaum Muda’.

“Alarm bukan untuk ditakuti, tapi untuk membangunkan. Dan siapa yang paling berhak bangun lebih dulu kalau bukan generasi muda?” tandasnya.

Suara Muda yang Menyuarakan Kekhawatiran

Mengutip Environmental Outlook 2024, Ridwan menyebut lebih dari 28 ribu suara muda Indonesia telah menyuarakan kegelisahan mereka tentang sampah, deforestasi, pencemaran, dan perubahan iklim.

“Kesadaran itu sudah ada. Yang kini kita butuhkan adalah arah dan ruang agar kesadaran itu bisa berubah menjadi gerakan nyata,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa forum seperti seminar ini adalah ruang penting di mana mahasiswa, akademisi, dan pembuat kebijakan dapat berdialog secara setara untuk mencari solusi.

“Krisis iklim bukan hanya soal sains atau teknologi, tapi soal cara kita memandang dunia dan menghargai kehidupan,” tambahnya.

Ajakan untuk Bertindak Nyata

Menutup sambutannya, Ridwan mengajak para mahasiswa agar tidak berhenti pada diskusi.

“Bawalah pulang ide, semangat, dan tanggung jawab dari sini. Bentuklah komunitas, wujudkan aksi nyata. Karena bumi tidak menunggu kita siap, bumi menunggu kita mulai,” pungkasnya.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan