
Senator Amerika Serikat Berupaya Mencegah Pelonggaran Pembatasan Ekspor Chip AI ke Tiongkok
Sejumlah senator Amerika Serikat (AS) menunjukkan perhatian serius terhadap ancaman yang muncul dari pelonggaran pembatasan ekspor chip kecerdasan buatan (AI) ke Tiongkok. Langkah ini dilakukan oleh senator dari Partai Republik dan Partai Demokrat dengan mengajukan rancangan undang-undang (RUU) pada Kamis (4/12/2025). RUU tersebut diberi nama SAFE CHIPS Act, yang bertujuan untuk memperkuat pengawasan terhadap ekspor teknologi canggih ke negara-negara yang dianggap sebagai ancaman.
Isi Utama RUU SAFE CHIPS Act
SAFE CHIPS Act diajukan oleh senator Partai Republik, Pete Ricketts, bersama senator Partai Demokrat, Chris Coons, dan didukung pula oleh sejumlah senator lain termasuk Tom Cotton, yang dikenal sebagai tokoh garis keras terhadap Tiongkok. RUU ini menetapkan periode 30 bulan di mana Departemen Perdagangan AS wajib menolak semua permohonan lisensi ekspor chip AI Amerika yang lebih maju kepada entitas di Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Setelah periode 30 bulan tersebut, Departemen Perdagangan AS diwajibkan melaporkan kepada Kongres sekurang-kurangnya satu bulan sebelum mengubah atau melonggarkan aturan ekspor terkait chip AI ke negara-negara tersebut. Ketentuan ini dimaksudkan agar cabang legislatif memiliki ruang pengawasan dan dapat menahan langkah eksekutif yang dinilai berisiko terhadap keamanan nasional, termasuk jika Gedung Putih berupaya melonggarkan kontrol secara sepihak.
“Menolak akses Beijing terhadap chip AI AS yang paling canggih sangat penting bagi keamanan nasional kita,” ujar Senator Pete Ricketts dalam pernyataan tertulis.
Senator Tom Cotton dan para pendukung lain menegaskan bahwa teknologi AI berperan langsung dalam pengembangan senjata canggih, sistem intelijen, dan pengawasan berbasis kecerdasan buatan yang dapat memperkuat kemampuan militer Tiongkok.
Latar Belakang Kebijakan Chip AI dan Manuver Trump
RUU ini muncul di tengah dinamika tajam hubungan teknologi antara Washington dan Beijing, termasuk aksi saling menekan terkait ekspor bahan baku penting dan produk teknologi tinggi. Sebelumnya, ketika Tiongkok memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang yang dibutuhkan industri teknologi global, Departemen Perdagangan di bawah Trump sempat memperketat dan kemudian melonggarkan aturan atas chip AI H20 buatan Nvidia yang ditujukan untuk pasar Tiongkok. Keputusan pelonggaran itu memicu kritik dari sebagian anggota Partai Republik yang khawatir terhadap bocornya teknologi strategis ke Beijing.
Di sisi lain, Trump juga menunda selama satu tahun aturan yang hendak membatasi ekspor teknologi tertentu ke anak perusahaan Tiongkok yang sudah masuk daftar hitam, sebagai bagian dari negosiasi untuk menunda pembatasan ekspor logam tanah jarang Tiongkok. Presiden Trump bahkan berjanji akan mencabut regulasi era Biden yang selama ini membatasi ekspor chip AI canggih secara global, dengan alasan ingin mengurangi hambatan bagi perusahaan Amerika dan merespons praktik penyelundupan chip ke Tiongkok melalui pihak ketiga.
Rencana pemerintah untuk mempertimbangkan penjualan chip AI kelas H200 Nvidia ke Tiongkok juga meningkatkan kekhawatiran kalangan “China hawks” di Kongres. Mereka menilai, chip tingkat lanjut tersebut dapat dimanfaatkan Tiongkok untuk melompat lebih jauh dalam pengembangan sistem senjata otonom dan infrastruktur pengawasan domestik berbasis AI.
Kekhawatiran Keamanan Nasional dan Dinamika Politik di Kongres
Para pengusul menilai SAFE CHIPS Act sebagai langkah pencegahan agar kebijakan ekspor teknologi tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh pertimbangan dagang atau tekanan perusahaan besar. Dengan mengunci larangan selama 2,5 tahun, mereka berupaya menciptakan jeda yang cukup panjang agar lembaga keamanan dan Kongres dapat mengevaluasi dampak kebijakan ekspor chip AI ke negara-negara yang dikategorikan sebagai lawan strategis.
“Jika Tiongkok mendapat akses bebas ke chip AI paling kuat AS, mereka bisa menggunakannya untuk mempercepat pengembangan senjata dan memperluas aparatus pengawasan terhadap warganya,” kata seorang pejabat yang dekat dengan kelompok senator garis keras.
RUU ini juga mencerminkan ketegangan internal Partai Republik, karena sebagian besar inisiatif pembatasan justru diarahkan untuk mengendalikan manuvar kebijakan Presiden Trump dari partainya sendiri. Sementara itu, Gedung Putih dan pelobi industri semikonduktor mendorong pendekatan yang lebih fleksibel agar perusahaan seperti Nvidia tetap dapat mengakses pasar Tiongkok tanpa melanggar kontrol ekspor yang ada.