
Perang Melawan Iran: Biaya yang Mengkhawatirkan dan Kekurangan Amunisi
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama 38 hari sebelum gencatan senjata mengungkapkan berbagai tantangan serius dalam hal biaya dan persediaan amunisi. Selama konflik tersebut, militer AS menghadapi krisis amunisi yang cukup mengkhawatirkan.
Penggunaan Rudal JASSM-ER dan Tomahawk
Selama operasi 'Epic Fury' yang dilakukan pada akhir Februari 2026, AS menghabiskan sekitar 1.100 rudal Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range (JASSM-ER). Setiap unit rudal ini memiliki harga sekitar $1,1 juta (Rp 18 miliar). JASSM-ER adalah rudal jelajah siluman dengan jangkauan lebih dari 600 mil atau sekitar 960 km, dirancang untuk menembus target yang diperkuat di luar jangkauan pertahanan udara musuh.
Menurut perkiraan internal Pentagon, hanya sekitar 1.500 rudal jenis ini yang tersisa saat ini. Selain itu, lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk juga ditembakkan selama konflik. Setiap rudal Tomahawk harganya sekitar $3,6 juta (Rp 62 miliar). Studi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa persediaan rudal Tomahawk AS yang tersisa sekitar 3.000 unit, yang dianggap tidak cukup untuk menghadapi konflik besar jika terjadi di Pasifik Barat.
Penggunaan Rudal Pencegat Patriot dan ATACMS
Pentagon juga mengerahkan lebih dari 1.200 rudal pencegat Patriot — yang masing-masing berharga lebih dari $4 juta (Rp 68 miliar) — untuk melawan serangan pesawat tak berawak dan roket Iran. Sebagai perbandingan, AS memproduksi sekitar 600 rudal pencegat Patriot sepanjang tahun 2025. Lebih dari 1.000 rudal Precision Strike dan ATACMS berbasis darat juga telah digunakan, sehingga persediaan berada pada tingkat yang digambarkan secara internal sebagai "sangat rendah dan mengkhawatirkan".
Mark Cancian, seorang kolonel Korps Marinir purnawirawan dan penasihat senior di CSIS, mengatakan bahwa AS memiliki banyak amunisi dengan persediaan yang memadai, tetapi beberapa amunisi serangan darat dan pertahanan rudal yang penting mengalami kekurangan sebelum perang dan bahkan lebih kekurangan sekarang.
Total Biaya Perang
Total biaya finansial akibat perang dengan Iran selama 38 hari, sebelum gencatan senjata diberlakukan, oleh dua kelompok independen diperkirakan antara $28 miliar dan $35 miliar atau mendekati $1 miliar (Rp 17 triliun) per hari. Dalam 48 jam pertama pertempuran saja, para pejabat pertahanan mengatakan kepada anggota Kongres, militer telah menghabiskan amunisi senilai $5,6 miliar (Rp 96 triliun).
Untuk mempertahankan operasi melawan Iran, Pentagon mengurangi persenjataan dan personel dari komando di Eropa dan Asia. Di Eropa, berkurangnya jumlah drone pengintai dan penyerang telah digambarkan secara internal sebagai masalah serius, dengan efek domino di sepanjang Ukraina dan sayap timur NATO melawan Rusia. Situasi di Asia mungkin bahkan lebih mengkhawatirkan.
Anggaran yang Meningkat dan Tantangan Finansial
Menulis untuk Harvard Kennedy School, ekonom Linda Bilmes berargumen bahwa perang dengan Iran menelan biaya sekitar $2 miliar (Rp 34 triliun) per hari hanya untuk biaya awal jangka pendek, yang ia gambarkan sebagai "puncak gunung es". Pengeluaran langsung tersebut mencakup amunisi, pemeliharaan dua atau tiga kelompok serang kapal induk, gaji tempur dan gaji penugasan jangka panjang untuk puluhan ribu anggota layanan, serta biaya kerugian tak terduga seperti jet tempur yang hancur akibat tembakan dari pihak sendiri atau dari Iran.
“Saya yakin kita akan menghabiskan satu triliun dolar AS untuk perang Iran,” katanya, seraya mencatat bahwa biaya perawatan medis dan disabilitas veteran belum dimasukkan ke dalam perkiraan saat ini. Biaya tersebut secara historis sekitar 40 persen dari total pengeluaran perang.
Kenaikan Harga Bahan Bakar dan Permintaan Anggaran Tambahan
Harga rata-rata bensin nasional (atau gasoline, seperti yang mereka sebut di Amerika) melonjak hampir 27 sen dalam satu minggu karena konflik Iran. Itu adalah kenaikan mingguan tercepat yang tercatat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Sementara itu, Pentagon secara terpisah telah mengajukan permintaan kepada Kongres untuk paket alokasi anggaran tambahan sebesar 200 miliar dolar AS.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengisyaratkan harapannya agar sekutu Arab membantu menanggung beban keuangan tersebut. Usulan dari Presiden AS tersebut sejauh ini mendapat respons dingin sekutu AS di Arab.