Sepertiga Sawah Terdampak Bencana, Aceh Gagal Panen Raya

admin.aiotrade 08 Des 2025 3 menit 20x dilihat
Sepertiga Sawah Terdampak Bencana, Aceh Gagal Panen Raya

Dampak Bencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat

Bencana banjir dan longsor yang terjadi pada November lalu telah menyebabkan kerusakan luas pada lahan sawah di tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menurut data yang diperoleh, lebih dari seperempat total lahan sawah di wilayah tersebut mengalami kerusakan. Hal ini berpotensi mengurangi hasil panen pada musim Panen Raya yang biasanya berlangsung pada April hingga Mei 2026.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Aceh mencatat bahwa jumlah lahan sawah yang rusak akibat bencana mencapai 139.444 hektare. Angka ini hampir 70% dari luas lahan sawah baku tahun 2024 yang mencapai 202.811 hektare. Dari total 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 18 kabupaten/kota terdampak bencana tersebut.

Ketua Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Aceh, Darmawan, menyatakan bahwa petani di kawasan Serambi Mekkah kemungkinan besar tidak akan bisa menikmati Panen Raya pada tahun depan. Ia hanya berharap para petani dapat menghasilkan panen gadu pada Juli hingga September 2026.

Dari data yang diperoleh, kerusakan lahan sawah terkecil terjadi di Sumatra Barat dengan luas 6.749 hektare atau sekitar 3,58% dari total lahan sawah baku. Sementara itu, sebagian besar kerusakan lahan sawah, sekitar 75%, terjadi di Aceh.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan biaya pemulihan dampak bencana di tiga provinsi tersebut mencapai Rp 51,82 triliun. Dari jumlah tersebut, separuhnya atau sebesar Rp 25,41 triliun akan digunakan untuk pemulihan Aceh yang terkena dampak banjir dan longsor.

Perkiraan Dampak Produksi dan Perluasan Perbaikan Infrastruktur

Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Andreas Dwi Harsono, menyampaikan bahwa bencana di Sumatera akan menghilangkan satu musim tanam bagi daerah yang kehilangan sawah dalam jumlah besar. Meskipun demikian, dampak produksi selama Panen Raya dinilai akan minimal untuk Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Andreas menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap cuaca pada musim Panen Gadu tahun depan. Ia mengingatkan bahwa kondisi El Nino pada masa itu akan memengaruhi kapasitas pengairan sawah. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan perbaikan jaringan irigasi yang dilengkapi dengan pompa dan sumur agar dapat membantu petani di daerah terdampak.

Selain itu, ia juga menyoroti perlunya perbaikan akses darat yang terganggu akibat bencana. Jalur distribusi menuju sawah terdampak juga mengalami kerusakan, sehingga perlu menjadi prioritas dalam perbaikan infrastruktur.

Bantuan Langsung dan Asuransi untuk Petani Terdampak

Andreas menyarankan pemerintah memberikan bantuan langsung kepada petani yang terdampak bencana. Sebab, sekitar separuh pendapatan petani berasal dari produksi padi. Ia menduga tidak semua petani memiliki asuransi gagal panen. Dari data yang ia kumpulkan, hanya satu dari 15 petani yang memiliki asuransi pada tahun lalu.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar bantuan langsung diberikan kepada petani hingga mereka dapat menanam kembali untuk persiapan musim Gadu. Bantuan tersebut harus diberikan secara bersamaan dengan perbaikan infrastruktur pendukung sawah.

Percepatan Perbaikan Aksesibilitas dan Jaringan Irigasi

Di sisi lain, Anggota Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Bayu Krisnamurthi, menekankan perlunya percepatan perbaikan aksesibilitas di kawasan sawah terdampak. Namun, ia menilai perbaikan jaringan irigasi menjadi prioritas utama agar petani dapat kembali beraktivitas.

Bayu menekankan bahwa pemerintah harus memastikan sawah di daerah terdampak dapat diolah kembali dan irigasi kembali berfungsi. Hal ini penting agar perdagangan beras dapat segera berjalan kembali.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan