Setelah IPO, Superbank (SUPA) Targetkan Pertumbuhan Cepat Melalui Ekosistem Grab dan OVO

admin.aiotrade 17 Des 2025 4 menit 14x dilihat
Setelah IPO, Superbank (SUPA) Targetkan Pertumbuhan Cepat Melalui Ekosistem Grab dan OVO

Perkembangan Pesat Superbank Pasca-Pencatatan Saham di BEI

PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank telah mencatatkan kinerja yang sangat baik setelah sahamnya diperdagangkan secara perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan dukungan modal sebesar Rp 8 triliun, perseroan fokus pada pendalaman bisnis di ekosistem digital yang sudah dimiliki, terutama Grab dan OVO.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, saham SUPA melesat 24,41 persen ke level Rp 790 per saham, dibandingkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 635 per saham. Hal ini menunjukkan antusiasme pasar terhadap perseroan.

Strategi Pendalaman Ekosistem Digital

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menjelaskan bahwa kerja sama strategis terus ditekankan melalui pendalaman ekosistem yang dimiliki. Kolaborasi tersebut dinilai telah berjalan cukup dalam, namun masih memiliki ruang untuk dikembangkan lebih lanjut.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui OVO dengan menghadirkan produk OVO Nabung by Superbank. Produk ini memungkinkan pengguna hanya dengan beberapa langkah atau klik langsung menjadi nasabah Superbank tanpa harus keluar dari lingkungan aplikasi OVO. Strategi serupa juga diterapkan di aplikasi Grab, sehingga pengguna dapat langsung membuka rekening dan menjadi nasabah Superbank dari dalam aplikasi Grab tanpa perlu berpindah ke platform lain.

“Kami ingin menjadi native di aplikasi tersebut. Jadi, di Grab App itu sendiri, pengguna bisa langsung menjadi nasabah Superbank di dalam Grab App,” ujar Tigor saat konferensi pers seremoni pencatatan saham di Gedung BEI, Jakarta.

Fokus pada Ekosistem yang Sudah Ada

Meski demikian, Tigor menekankan bahwa fokus utama Superbank dalam waktu dekat tetap pada pendalaman penetrasi di ekosistem yang sudah ada. Strategi ini dipilih karena ekosistem yang telah dimiliki dinilai sebagai peluang yang paling mudah dan cepat untuk dimaksimalkan.

“Itu yang kita coba terapkan di OVO dan juga mungkin nanti di partner-partner kami yang lain. Tapi fokus kami ke depannya, in terms of penetration, tetap di ekosistem kita dulu karena itu the low hanging fruits yang kita akan coba capai,” jelasnya.

Ketergantungan pada Ekosistem Grab

Superbank saat ini sekitar 60 persen akuisisi nasabah berasal dari ekosistem Grab. Ketergantungan ini dipandang sebagai keunggulan utama perseroan karena memberikan berbagai keuntungan dari sisi efisiensi biaya, mulai dari biaya akuisisi nasabah, biaya layanan, hingga tingkat keterlibatan nasabah yang lebih kuat karena terintegrasi langsung dengan platform seperti Grab dan OVO.

Namun, Superbank tidak sepenuhnya bergantung pada ekosistem tersebut. Sekitar 40 persen akuisisi nasabah berasal dari luar ekosistem dan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Pertumbuhan di luar ekosistem ini sebagian besar terjadi secara organik, serta didukung oleh berbagai kerja sama dengan mitra lain di luar jaringan Grab dan OVO.

Tingkat Keterlibatan Nasabah yang Tinggi

Direktur Keuangan Superbank, Melisa Hendrawati, menjelaskan bahwa capaian pertumbuhan perseroan sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024 tidak hanya tecermin dari jumlah nasabah, tetapi juga dari tingkat keterlibatan atau engagement nasabah yang terus meningkat.

“Sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, Superbank telah melayani lebih dari 5 juta nasabah. Tapi yang kami lihat bukan cuma jumlah nasabah, melainkan bagaimana engagement-nya,” kata Melisa.

Peningkatan engagement tecermin dari rata-rata jumlah transaksi harian yang kini telah melampaui 1 juta transaksi per hari. Angka tersebut terus dipantau dan menunjukkan pertumbuhan yang solid.

Kinerja Keuangan yang Positif

Selain pertumbuhan, perseroan juga mencatatkan kinerja keuangan yang positif dan berkelanjutan. Hingga Oktober 2025, SUPA membukukan laba bersih sebesar Rp 102 miliar. Laba tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga yang signifikan.

Net interest income atau pendapatan bunga Superbank tumbuh 173 persen secara tahunan menjadi Rp 1,3 triliun. Selain itu, dana pihak ketiga juga mengalami pertumbuhan yang kuat, yaitu naik 168 persen secara year on year menjadi Rp 10,6 triliun per Oktober 2025.

Perseroan akan segera merilis kinerja terbaru secara resmi dan serentak dalam waktu dekat. Dengan dukungan modal dari pasar modal serta strategi berbasis ekosistem digital, Superbank optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperluas jangkauan layanan perbankan digital di Indonesia.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan