Fokus Pemerintah pada Hilirisasi Sektor Perkebunan dan Hortikultura

Pemerintah Indonesia telah menetapkan fokus utama pada hilirisasi sektor perkebunan dan hortikultura mulai dari kelapa hingga kakao, yang akan menjadi prioritas utama pada tahun 2026. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah dari produk-produk pertanian dalam negeri serta memperkuat kemandirian pangan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada tahun ini, pemerintah masih fokus pada pencapaian swasembada beras dan jagung agar kedua komoditas tersebut tidak lagi bergantung pada impor. Dengan demikian, kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi secara mandiri.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyampaikan bahwa pada tahun depan, hilirisasi perkebunan dan hortikultura akan dilakukan melalui peremajaan beberapa komoditas dengan anggaran sebesar Rp9,95 triliun. Komoditas yang akan diperbaharui antara lain kopi, kakao, pala, lada, gambir, kacang mete, hingga tebu.
“Kemudian turunan hilirisasi produksinya, seperti pabrik coklat, pabrik gulanya kelapa, dan pabrik kelapanya ini melibatkan BUMN, petani, dan pihak swasta. Kami sudah identifikasi di mana-mana,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Selain itu, pemerintah juga akan menggenjot produksi peternakan dalam negeri untuk mendukung kebutuhan makan bergizi gratis (MBG). Anggaran yang dialokasikan mencapai Rp20 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pakan, indukan, bakalan, bibit, obat-obatan, vaksin, dan lain-lain yang disebar ke seluruh Indonesia.
Nantinya, peternakan tersebut akan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Puutih dengan melibatkan pertanak lokal. Hal ini bertujuan untuk memastikan keterlibatan langsung masyarakat setempat dalam pengembangan sektor peternakan.
Target Swasembada Pangan pada Tahun 2026
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia akan mencapai swasembada pangan pada 1 Januari 2026. Awalnya, Kepala Negara RI menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada pangan dalam 4 tahun. Namun, target tersebut kemudian dipangkas menjadi satu tahun.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), Amran menyebut produksi beras dalam negeri akan naik hingga 4,17 juta ton pada akhir tahun ini. “Insya Allah, dua minggu kemudian kita bisa umumkan Indonesia swasembada pangan dan tercepat mencapai swasembada pangan di tanggal 1 Januari [2026],” kata Amran dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Senin (15/12/2025).
Dia menyatakan bahwa cadangan beras dalam negeri di Perum Bulog menjadi stok tertinggi pada 2025. Dia memperkirakan, stok beras dalam negeri akan mencapai 3,7 juta pada akhir tahun ini. Adapun, stok tersebut merupakan stok tertinggi dibandingkan torehan pada 1984 yang pernah mencapai 3 juta ton dengan penduduk 161 juta jiwa.
“Sekarang [2025] 286 juta [jiwa], stok kita 3,7 juta [ton beras] sampai akhir tahun,” imbuhnya.
Dalam catatan Bisnis, BPS memperkirakan potensi produksi beras akan mencapai 34,79 juta ton sepanjang Januari—Desember 2025. Kenaikan potensi produksi terutama ditopang subround I (Januari–April 2025) yang melonjak 26,54%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini memperkirakan potensi produksi beras akan naik 4,17 juta ton atau 13,60% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024. Pudji menuturkan, peningkatan ini juga sejalan dengan potensi luas panen padi sepanjang Januari—Desember 2025 yang diperkirakan akan mencapai 11,36 juta hektare. BPS memperkirakan, luas panen padi naik 1,31 juta hektare atau 13,03% dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
“Peningkatan potensi luas panen Januari—Desember 2025 ini utamanya disumbang oleh peningkatan luas panen pada subround I, yaitu Januari—April 2025 yang meningkat sebesar 25,82%,” kata Pudji dalam Rilis BPS, Senin (1/12/2025).
Namun, angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang November 2025–Januari 2026, mulai dari serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pelaksanaan panen yang dilakukan oleh para petani.