
Penjelasan Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, memberikan penjelasan mengenai pembatalan pembelian 40.000 barel (MB) oleh PT Vivo Energy Indonesia. Perusahaan ini merupakan badan usaha pengelola SPBU Vivo. Pembatalan tersebut dilakukan pada Jumat (26/9) malam, setelah sebelumnya pihak Vivo sepakat untuk membeli 40 ribu base fuel sebelum jam 6 sore.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Alhamdulillah seperti disampaikan Pak Dirjen tadi, dua SPBU swasta itu berkenan, berminat untuk membeli kepada kita secara base fuel sampai hari Jumat kemarin," ujar Muchtasyar dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Rabu (1/10).
Menurut Muchtasyar, hingga Jumat pekan lalu, sudah ada dua badan usaha swasta yang menyepakati untuk membeli BBM base fuel dari Pertamina. Kedua perusahaan tersebut adalah pengelola SPBU Vivo dan PT Aneka Petroindo Raya (APR), sebuah perusahaan patungan joint venture yang mengelola SPBU bp di Indonesia.
Namun, karena alasan internal, SPBU bp tidak jadi membeli BBM dari Pertamina. "Satu (APR) tidak bisa melakukan dan meneruskan negosiasi ini, dikarenakan bahwa ada birokrasi internal yang harus ditempuh. Oke, yang berkenan itu, berminat itu, VIVO sama APR. APR itu join AKR dan BP," jelas Muchtasyar.
Sebelum jam 6 sore, kedua SPBU swasta tersebut berdiskusi kembali dengan Pertamina. VIVO akhirnya membatalkan rencana pembelian tersebut. Meskipun sebelumnya telah menyetujui pembelian 40 ribu barel, kesepakatan tersebut tidak terwujud. APR juga akhirnya tidak jadi membeli, sehingga tidak ada kesepakatan sama sekali.
Kolaborasi dengan PT Vivo Energy Indonesia
Sebelumnya, kolaborasi antara PT. Pertamina Patra Niaga (PPN) dengan PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) telah membuahkan hasil. Vivo akhirnya sepakat untuk melakukan proses B2B (Business to Business) dengan Pertamina. Dari kuota 100 ribu barel (MB) kargo impor yang ditawarkan, Vivo menyerap 40 MB, atau sekitar 40 persen dari penawaran, untuk melayani konsumen setianya.
Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut arahan pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Sementara sisanya sebesar 60 MB, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, memastikan bahwa stok BBM impor milik PT Pertamina (Persero) akan dipakai sendiri.
Penggunaan Stok BBM Impor
Penggunaan stok BBM impor tersebut dilakukan karena tidak diserap oleh badan usaha swasta selain SPBU Vivo. Termasuk dalam hal ini adalah SPBU Shell, SPBU bp AKR, serta ExxonMobil. Laode Sulaeman menjelaskan, berdasarkan hasil rapat antara Pemerintah, Pertamina, dan badan usaha swasta, diketahui bahwa seluruh SPBU swasta kecuali Vivo masih melakukan finalisasi kesepakatan.
"Karena badan usaha lainnya, selain Vivo, masih memfinalkan poin-poin kesepakatannya dengan Pertamina. Maka 60 ribu barel tersebut masih akan dipakai Pertamina sendiri," kata Laode Sulaeman kepada aiotrade, Selasa (30/9).