
Dinamika Politik AS dan Dampaknya pada Pasar Global
Pergeseran politik di Amerika Serikat (AS) kembali memengaruhi pasar keuangan global. Shutdown pemerintahan AS yang berkepanjangan menciptakan ketidakpastian, terutama setelah data ekonomi negara tersebut menunjukkan penurunan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai prospek ekonomi global.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Shutdown terjadi ketika Kongres tidak menyetujui undang-undang pendanaan atau appropriations. Tanpa dasar hukum tersebut, sebagian lembaga federal tidak dapat beroperasi secara normal. Situasi ini meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan, terutama karena banyak investor yang cenderung lebih hati-hati dalam mengambil risiko.
Namun, meskipun ada tekanan global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan ketahanan. Hal ini didorong oleh dominasi investor domestik yang memberikan dukungan kuat bagi pasar saham Indonesia.
Reydi Octa, pengamat pasar modal, menjelaskan bahwa investor asing biasanya akan bersikap lebih hati-hati ketika data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan. Kekhawatiran terhadap penurunan pendapatan dan prospek ekonomi global membuat mereka lebih waspada.
Dampak Shutdown AS pada IHSG
Meski shutdown AS memperkuat sikap kehati-hatian investor global, dampaknya terhadap pasar saham Indonesia dinilai tidak terlalu besar. Investor asing telah melakukan aksi jual bersih dalam jumlah besar selama beberapa pekan terakhir, sehingga pergerakan IHSG saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik.
Kondisi ini membuat IHSG cenderung stabil dan tidak mudah terpengaruh gejolak eksternal. Reydi memprediksi bahwa shutdown AS mungkin hanya akan memicu koreksi sesaat di pasar saham dalam negeri, tanpa mengubah tren besar pergerakan IHSG.
“Di IHSG, karena investor asing net sell besar-besaran pada periode sebelumnya, hal ini buat IHSG mayoritas ditopang oleh investor domestik, sehingga menurut saya mungkin tidak akan mengubah tren besar, tapi hanya akan menimbulkan koreksi sesaat,” ujar Reydi kepada aiotrade, Senin (10/11/2025).
Namun, ia tidak menutup kemungkinan bahwa aksi jual asing bisa kembali meningkat jika investor global memutuskan untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko demi meminimalisir potensi kerugian.
Peluang Arus Dana Asing
Sebaliknya, jika The Federal Reserve (The Fed) menanggapi pelemahan data ketenagakerjaan sebagai alasan untuk mengambil kebijakan yang lebih longgar atau bersikap dovish, justru bisa muncul peluang arus dana asing kembali masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Dalam kondisi itu, IHSG berpotensi mendapatkan dorongan tambahan dari sentimen positif global.
“Potensi asing akan net sell kedepan meningkat apabila investor global mengambil keputusan untuk meminimalisir risiko, tetapi apabila The Fed menanggapi pelemahan tenaga kerja sebagai momentum dovish, bisa potensi memunculkan aliran dana masuk ke emerging market seperti IHSG,” paparnya.
Prediksi Pergerakan IHSG
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat bahwa IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan terbatas pekan ini. Selama sepekan ke depan, pihaknya memperkirakan indeks masih akan bergerak naik terbatas dengan level support di 8.288 dan resistance di 8.460.
Ia menambahkan, arah pasar akan banyak dipengaruhi oleh rilis sejumlah data ekonomi penting. Inflasi China dan AS akan menjadi fokus utama, bersama data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan arus modal asing juga akan berpengaruh terhadap pergerakan IHSG.
“Selama sepekan ke depan, kami perkirakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 8.288 dan resist 8.460, adapun dari sisi sentimen kami perkirakan akan terdapat beberapa rilis data seperti inflasi China dan AS serta rilis data IKK Indonesia, di sisi lain data tenaga kerja, inflow asing dan juga nilai tukar rupiah terhadap dollar akan mempengaruhi pergerakan IHSG,” ucapnya saat dihubungi aiotrade.
Stabilitas Pasar Modal Indonesia
Meski tekanan global meningkat akibat shutdown AS, analis menilai pasar modal Indonesia masih relatif tangguh. Faktor fundamental ekonomi domestik yang stabil, tingkat inflasi yang terkendali, serta optimisme investor lokal menjadi penopang utama di tengah guncangan eksternal.