
Sejarah Pembangunan Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang Berlangsung Selama Tiga Dekade
Garuda Wisnu Kencana (GWK) adalah patung raksasa yang menjadi ikon Pulau Bali. Patung ini memiliki tinggi sekitar 121 meter dan berat lebih dari 3.000 ton, sehingga membuatnya lebih tinggi daripada Patung Liberty di New York, Amerika Serikat. Dengan ketinggian tersebut, GWK dapat terlihat dari radius hingga 20 km, termasuk dari wilayah Kuta dan Nusa Dua.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pembangunan GWK awalnya dimulai pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1989. Ide pembangunan ini pertama kali muncul melalui kolaborasi antara seniman Nyoman Nuarta bersama Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave, serta Menteri Pertambangan dan Energi IB Sudjana, serta Gubernur Bali Ida Bagus Oka. Setahun kemudian, Presiden Soeharto menyetujui ide tersebut sebagai bagian dari pengembangan kawasan budaya di Bali.
Langkah awal proyek ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Joop Ave pada tahun 1997, setelah melalui tahap pembebasan lahan serta penataan awal kawasan atau land art. Lahan yang direncanakan untuk kawasan ini semula mencapai 220 hektar, namun hingga kini hanya sekitar 60 hektar yang berhasil dibebaskan.
Perjalanan Proyek yang Penuh Tantangan
Meskipun proyek ini telah dimulai sejak 1997, pembangunan GWK menghadapi banyak kendala. Salah satu tantangan besar terjadi akibat krisis moneter 1997-1998, yang menyebabkan proyek ini sempat dihentikan sementara. Tidak ada satu pun investor yang bersedia membangun patung tersebut.
Nyoman Nuarta, yang merupakan penggagas sekaligus pemilik GWK Bali pertama, kemudian mencoba menawarkan proyek ini kepada beberapa investor, termasuk pemerintah daerah dan pusat. Pada tahun 2000, ia menggelar GWK Expo sebagai upaya menarik minat investor untuk menanamkan modal di kawasan tersebut. Namun, tidak ada satu pun investor yang tertarik, sehingga proyek ini terhenti bertahun-tahun.
Selama periode ini, Nyoman Nuarta hanya berhasil menyelesaikan pembangunan patung setengah badan. Hingga tahun 2012, penyelesaian pembangunan GWK mulai menemukan titik cerah.
Akuisisi oleh Grup Alam Sutra
Pada tahun 2012, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) mengakuisisi 90,3 persen saham PT Garuda Adhimatra Indonesia yang merupakan pemilik GWK Bali. Nilai transaksi mencapai Rp 821 miliar dengan tiga kali pembayaran secara bertahap. Pertama, membayar Rp 40 miliar sebagai uang muka. Kedua, membayar Rp 638 miliar, dan sisanya dibayar di tahap ketiga.
Kepemilikan Alam Sutera atas GWK dilakukan melalui anak usahanya, PT Multi Matra Indonesia (MMI). Nyoman Nuarta sendiri masih menggenggam saham minoritas di GWK. Setelah proses akuisisi itu selesai, Nyoman Nuarta hanya berkewajiban menyelesaikan pembangunan patung.
Tahun 2013 dilakukan ground breaking ulang dengan memindahkan lokasi patung dari tempat semula. Proyek Garuda Wisnu Kencana kemudian selesai dibangun pada 31 Juli 2018 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 September 2018.
Keberadaan Patung Setengah Badan
Patung setengah badan Wisnu di Plasa Wisnu sampai sekarang masih dibiarkan seperti sediakala. Jadi GWK yang kini berdiri tegak dan lengkap itu baru dibangun ulang sejak 2013 karena sempat terhenti sejak 1997.
Sejarah GWK menggambarkan perjalanan panjang dan penuh tantangan dalam pembangunan sebuah ikon budaya yang kini menjadi salah satu destinasi utama wisatawan di Bali.