Siapa Rahmah el-Yunusiah, Bunda Pahlawan Nasional?

admin.aiotrade 10 Nov 2025 5 menit 16x dilihat
Siapa Rahmah el-Yunusiah, Bunda Pahlawan Nasional?

Peran Rahmah el-Yunusiah dalam Pendidikan dan Emansipasi Perempuan

Rahmah el-Yunusiah adalah sosok perempuan yang luar biasa di Indonesia. Kelahiran dari Padang Panjang, Sumatra Barat, ia menjadi inspirasi bagi dunia dengan pemikirannya tentang emansipasi perempuan. Dikenal sebagai Muslimah pertama abad ke-20 yang menyuarakan hak-hak wanita, Rahmah mengambil peran penting dalam memperkenalkan pendidikan modern khusus untuk perempuan.

Dalam buku Tentang Perempuan Islam, Wacana dan Gerakan, nama Rahmah el-Yunusiah muncul karena kontribusinya dalam dunia pendidikan. Ia lahir pada 20 Desember 1900 dan wafat di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 26 Februari 1969. Ayahnya, Muhammad Yunus bin Imanuddin, dan ibunya, Rafiah, berasal dari keluarga terhormat. Keturunan Rahmah juga berakar di nagari IV Angkat, Bukittinggi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pendirian Madrasah Diniyah lil Banat

Salah satu kontribusi besar Rahmah adalah pendirian Madrasah Diniyah lil Banat (Diniyah Putri) di kota kelahirannya. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan agama Islam pertama khusus untuk perempuan di Indonesia. Bagi Rahmah, pendidikan adalah kunci untuk meningkatkan derajat perempuan di tengah masyarakat.

Di awal abad ke-20, Nusantara mulai mengalami demam modernisme. Semangat kemajuan menjalar dari kota-kota penting di Indonesia. Kaum terpelajar mulai mengkaji pemikiran-pemikiran baru yang berbeda dari generasi sebelumnya. Di Sumatra, Ranah Minang memiliki peran penting karena jumlah pendidik dan pedagang yang signifikan. Berbeda dengan Raden Ajeng Kartini di Jawa, Rahmah lebih menghubungkan emansipasi perempuan dengan syariat Islam, bukan budaya lokal.

Petugas memperlihatkan kitab yang rusak dan yang masih utuh saat proses digitalisasi manuskrip di Padang, Sumatera Barat, Rabu (12/7/2023). - (Antara/Muhammad Arif Pribadi)

Pengembangan Lembaga Pendidikan

Di awal abad ke-20, Sumatra Barat subur dengan tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam modern. Selain Diniyah Putri, pada 1909 berdiri Sekolah Adabiyah di Padang dan Sumatra Thawalib yang digagas oleh Zainuddin Labai el-Yunusi, kakak kandung Rahmah. Para penggagas lembaga pendidikan ini sering belajar pada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, imam dan pengajar mazhab Syafii di Masjid al-Haram, Makkah.

Rahmah tidak memperhadapkan kaum adam dan hawa, melainkan menyelaraskan kemajuan keduanya dalam dakwah Islam. Kegigihannya menyebar hingga ke Jawa. Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, menganggap Rahmah istimewa karena Diniyah Putri Padang Panjang dibentuk atas inisiatif pribadi, bukan organisasi tertentu.

Perjalanan Awal Diniyah Putri

Mendirikan sekolah khusus perempuan adalah cita-citanya sejak kecil. Awalnya, Rahmah menyampaikan maksudnya kepada sang kakak, Zainuddin Labai el-Yunusi. Zainuddin mendukung keinginan adiknya dan Rahmah kemudian mengajak teman-temannya di persatuan murid Diniyah School. Pada 1 November 1923, Diniyah Putri Padang Panjang terbentuk dengan diketuai Rahmah el-Yunusiah.

Pada awalnya, Diniyah Putri hanya memiliki 71 murid, yaitu perempuan yang belum menikah atau memiliki anak balita. Zainuddin terus mendukung keberlangsungan Diniyah Putri dan memberi semangat pada Rahmah.

Syaikha Rahmah el-Yunusiah (tengah) bersama pengajar di Diniyah Putri Padang Panjang - (Public Domains)

Pembangunan Gedung dan Keberlanjutan

Pada awalnya, aktivitas pengajaran berpusat di Masjid Pasar Usang, Padang Panjang. Dua tahun kemudian, Rahmah berinisiatif membangun gedung baru untuk Diniyah Putri. Rencana ini sempat terkendala gempa bumi pada 28 Juni 1926. Namun, semangat Rahmah tidak surut. Hanya sebulan setelah gempa, ia memulai pembangunan kembali asrama Diniyah Putri di atas tanah wakaf milik ibundanya, Ummi Rafiah.

Dalam sebuah surat, Rahmah menyatakan tekadnya untuk memajukan pola pikir perempuan melalui pendidikan: "Telah terpatri di mata hati saya akan menyampaikan cita-cita Diniyah School Putri ini juga akan menyampaikan tujuan Diniyah School Putri ini, untuk seluruh anak bangsanya, Putri Islam Indonesia ini."

Dukungan dan Pengembangan

Upayanya mengundang simpati banyak orang. Keluarga besar dari Aceh, Sumatra Utara, dan Malaysia menyumbangkan harta dan pemikiran demi keberlangsungan Diniyah Putri, terutama pada masa kritis 1927. Rahmah juga sering bertemu para raja-raja Melayu untuk menjelaskan pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Pada 1930-an, keuangan lembaga tersebut cukup terbantu dengan dibentuknya Centraal Comite Penolong Diniyah Putri yang dipimpin H Agus Salim. Sepanjang hidupnya, Rahmah memilih sikap non-kooperasi terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dia tidak ingin jerih payahnya ditukar dengan ketundukan.

Melawan Diskriminasi dan Masa Revolusi

Pada 1932, penguasa menerbitkan aturan diskriminatif terhadap penduduk pribumi, yakni Ordonansi Sekolah Liar. Dengan aturan ini, pemerintah kolonial dapat mengecap sekolah-sekolah yang berdiri atas inisiatif pribumi sebagai terlarang. Rahmah tidak diam dan memimpin Panitia Penolak Ordonansi Sekolah Liar di Padang Panjang.

Puncaknya adalah kasus Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) pada 1932. Tiga tokoh muda Muslim Minangkabau ditangkap dan diasingkan. Rahmah sekuat tenaga memimpin Diniyah Putri selama 46 tahun. Ia sering mengorbankan harta demi keberlangsungan lembaga edukasi tersebut.

Pengembangan Pendidikan dan Kepemimpinan

Diniyah Putri berkembang pesat dengan fasilitas perpustakaan lengkap dan koleksi buku berbagai bahasa. Lebih jauh lagi, Diniyah Putri mempelopori hadirnya taman kanak-kanak (freubel school) dan Junior School yang berjenjang hingga ke tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah. Pada 1937, Diniyah Putri mendirikan program Kulliyah al-Mu'allimat al-Islamiyah untuk mendidik calon guru perempuan.

Kabar kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 membuat Rahmah terpompa semangatnya. Ia mendapatkan berita Proklamasi dari Engku Syafei. Rahmah menjadi yang pertama mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatra Barat.

Kontribusi dalam Revolusi dan Pendidikan

Selama masa revolusi, Rahmah mempelopori pembentukan tentara keamanan rakyat (TKR) dan mengumpulkan laskar-laskar pejuang Muslim. Ia diberi julukan Bundo Kanduang para pejuang. Setelah Indonesia merdeka, Rahmah kembali ke dunia pendidikan.

Diniyah Putri menjadi panutan dan mendapat perhatian dari dunia Islam. Pada 1955, Rektor Universitas al-Azhar Kairo, Dr Syaikh Abdurrahman Taj, mengunjungi Indonesia dan Diniyah Putri. Ia terkesan dengan sistem pendidikan di sana. Kunjungan ini membuka kesadaran bahwa pendidikan khusus perempuan bisa dilakukan.

Hasilnya, Universitas al-Azhar membuka Kulliyatul Banat. Pada 1957, Rahmah diundang ke Kairo untuk dianugerahi gelar doktor kehormatan. Sejak itu, ia disebut Syaikhah.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan