Tim Mahasiswa ITB Membuat Simulasi Asteroid Menabrak Bumi
Sebuah tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan simulasi asteroid yang menabrak bumi. Karya mereka, yang diberi nama Proyek AIM-X, masuk dalam nominasi pemenang global di ajang NASA International Space Apps Challenge 2025. Kini, karya para peserta tersebut sedang dinilai oleh dewan juri secara daring pada bulan November hingga Desember 2025.
Seluruh anggota tim dari Proyek AIM-X terdiri dari mahasiswa angkatan 2022. Mereka adalah Attara Majesta Ayub dan Jason Fernando dari Teknik Informatika, lalu ada Thalita Zahra Sutejo dari Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi, serta Daryl John Sayangbati dari Teknik Mesin. Sebelumnya, Proyek AIM-X telah meraih tiga penghargaan yaitu Best Pitch, Best Use of Data, dan National Winner atau kampiun di tingkat nasional. Di tingkat global saat ini, “Kami bersaing langsung dengan 187 tim kompetitor,” kata Jason Fernando.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
NASA International Space Apps Challenge 2025 diadakan secara daring pada 4-5 Oktober lalu di Jakarta. Selama dua hari itu, tim peserta ditantang untuk merancang solusi inovatif berbasis data terbuka NASA. Semua proyek dinilai berdasarkan relevansi terhadap tantangan yang diberikan, kreativitas solusi, dampak alamiah maupun sosial, serta kualitas penyajian hasil akhir. Lomba ini menjadi wadah kolaboratif berskala global yang mempertemukan peneliti, pelajar, profesional, dan inovator dari berbagai bidang untuk berkontribusi dalam pemanfaatan sains dan teknologi luar angkasa.
Tim AIM-X tertarik ikut karena NASA Space Apps merupakan hackathon global yang menantang peserta untuk menyelesaikan kasus nyata di dunia dengan menggunakan data otentik yang disediakan NASA. “Tantangan 'Meteor Madness' menarik bagi kami karena menggabungkan unsur astrofisika, visualisasi 3D interaktif, dan relevansi sosial yang tinggi, terutama bagi pembuat kebijakan, masyarakat, dan ilmuwan,” kata Attara.
Tanpa mahasiswa astronomi, tim ITB ini berfokus pada pemodelan fisika, visualisasi interaktif, dan simulasi teknis, yang banyak membutuhkan keahlian komputasi dan algoritmik. “Fokus kami adalah membangun aplikasi web yang berisi simulasi skenario tumbukan asteroid ke bumi dan opsi mitigasinya,” kata Daryl John. Jadi, menurut dia, penekanannya pada pemodelan fisika gerak relatif, komputasi, dan rekayasa sistem, bukan astronomi observasional.
Dalam lomba itu, Attara menambahkan, tim membuat platform simulasi interaktif berbasis website yang dinamakan AIM-X, singkatan dari Asteroid Impact Simulation and Mitigation Experience. Karya itu memungkinkan pengguna untuk mengeksplorasi skenario tumbukan asteroid, memprediksi dampak seperti kawah, tsunami, mau pun gelombang seismik, dan memberikan strategi mitigasi. “Latar belakang program ini adalah kurangnya alat publik untuk memahami risiko asteroid dengan data ilmiah yang aktual,” katanya.
Simulasi: Tarik Data NASA Sampai Hitung Roket Mitigasi
Simulasi itu menggunakan contoh asteroid nyata yang tercatat di NASA. Pilihan asteroidnya berdasarkan jarak perpotongan orbit minimum (MOID) yang terkecil, berpotensi berbahaya (Minimum Orbit Intersection Distance) terkecil, status is_potentially_hazardous_asteroid, dan tanggal terdekatnya mengancam Bumi pada 2025. “Namun NASA mendefinisikan sebagai 'Impactor-2025' untuk keperluan studi kasus simulasi, bukan prediksi ancaman sebenarnya,” kata Attara.

Ilustrasi asteroid menabrak atau melintas dekat Bumi. ANTARA.
Tim memulai tugasnya dengan menarik data asteroid terbaru dari NASA dan mengklasifikasikan tiap objek berdasarkan tingkat bahayanya. Setelah itu, mereka memilih asteroid tertentu sebagai kasus uji. Pada tahap pertama, tim memodelkan ablasi dan hambatan aerodinamis sepanjang ketinggian. “Keluaran tahap ini adalah massa sisa dan kecepatan tumbukan saat asteroid mencapai permukaan,” ujar Daryl.
Pada tahap kedua mereka membuat skenario darat yang menimbulkan gempa atau kejutan. Tim menggunakan korelasi empiris Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS untuk memetakan intensitas gempa atau magnitudo yang efektif terhadap jarak, lalu mengklasifikasikan zona kerusakan. Selain itu mereka membuat skenario jatuhnya asteroid di laut yang diasumsikan menimbulkan tsunami dengan cara menghitung perambatan secara radial dan memperkirakan besaran dampak terhadap radius.
Pada tahap ketiga, tim membuat simulasi mitigasi atau defleksi. Mereka menggunakan misi penangkal asteroid berbasis roket dengan dinamika gerak relatif dalam kerangka orbit matahari–bumi–asteroid. Pada bagian ini diperoleh waktu tempuh dari peluncuran roket hingga pencegatan asteroid serta kecepatan atau impuls yang diperlukan untuk keluar dari pengaruh gravitasi bumi. “Sampai presisi ke titik tumbukan asteroid dengan roket agar asteroid dapat didorong, dibelokkan, atau dihancurkan sebelum mencapai bumi,” kata Daryl.
Menurut dia, program simulasi asteroid AIM-X berpotensi besar untuk dikembangkan, terutama dengan membuat pemodelan yang lebih realistis dan kompleks. Tantangan terbesar dalam pengembangan AIM-X, kata dia, terletak pada perancangan sistem mitigasi karena melibatkan fenomena fisika yang saling terhubung dan dinamika intrinsik non-linier. “Jalur roket dan asteroid harus dimodelkan dalam ruang tiga dimensi secara penuh, dan persamaan gerak relatif bumi, roket, matahari, dan asteroid perlu dihitung sangat presisi serta didukung algoritma navigasi juga kendali agar manuver pencegatan asteroid tidak meleset,” tuturnya.