Sinyal INET Kuasai Jaringan Internet Kalimantan Setelah Akuisisi 60% Trans Hybrid

admin.aiotrade 14 Des 2025 5 menit 32x dilihat
Sinyal INET Kuasai Jaringan Internet Kalimantan Setelah Akuisisi 60% Trans Hybrid


Perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur jaringan, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), semakin agresif dalam melakukan ekspansi bisnis. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mengakuisisi 60% saham dari PT Trans Hybrid Communication (THC). Hal ini menunjukkan komitmen INET untuk memperluas cakupan layanan dan memperkuat posisi di pasar.

Perusahaan Asing dengan Jaringan Luas

THC merupakan perusahaan asing yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pihak Malaysia. Perusahaan ini telah beroperasi sejak tahun 2006 dan memiliki berbagai layanan seperti IP Transit, Dedicated Internet, THXIX, IPLC, Managed Relation, Co-Location Server, serta THC Cloud. Selain itu, THC juga memiliki jaringan terbesar di Kalimantan Barat, termasuk jalur lintas batas menuju Kuching, Malaysia, serta Brunei Darussalam.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, Trans Hybrid juga memiliki cabang koneksi langsung dari Kuching ke Pulau Kalimantan. Perusahaan ini juga memiliki izin Network Access Provider (NAP) dan telah beroperasi secara internasional. Dengan akuisisi ini, INET berharap dapat memperkuat jaringannya di wilayah Kalimantan dan bahkan masuk ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

Visi Ekspansi Jaringan di Kalimantan

Direktur Utama INET, Muhammad Arif, menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan perusahaan akan menguasai seluruh jaringan di Kalimantan. “Semua masuk dalam perencanaan dan kami akan lakukan bertahap apabila ada peluang yang baik,” ujarnya.

Saat ini, INET sudah memiliki jaringan di Singkawang dan Pontianak, serta merencanakan perluasan ke Ketapang dan wilayah tengah Kalimantan Barat. Pengembangan ini sejalan dengan keberadaan pusat jaringan fiber Indonesia dan konektivitas marine cable dari Jakarta–Singapura–Batam–Jakarta.

Arif juga menyebut bahwa THC memiliki jalur jaringan dari Brunei dan Kuching menuju Kalimantan. Ini dianggap sebagai langkah antisipasi terhadap lonjakan kebutuhan internet global. Dengan jaringan tersebut, Indonesia tidak lagi bergantung pada satu titik sambungan di sisi barat saja.

Strategi Jaringan yang Lebih Aman

Selain itu, jalur THC yang terhubung dari Brunei memiliki upstream berbeda dari rute Singapura. Kedepannya, INET akan menghubungkan hingga ke Pulau Jawa melalui kabel bawah laut. Dengan demikian, Indonesia akan memiliki dua sumber internet internasional, satu dari sisi Barat dan satu dari jalur tengah.

“Ini akan memperkuat jaringan internet dan juga membuatnya lebih aman bagi pelanggan ke depannya,” ujar Arif.

Mitigasi Risiko dengan Jalur Cadangan

Di samping itu, Arif menyebut bahwa INET juga menyiapkan strategi mitigasi risiko dengan memperbanyak jalur cadangan jaringan. Meskipun telah memiliki kabel laut, perseroan tetap menggandeng THC sebagai jalur alternatif karena tidak ingin bergantung pada satu rute yang ada.

Adapun untuk jaringan backbone domestik, INET menjalin kerja sama strategis dengan salah satu penyedia jaringan besar untuk menjaga keandalan layanan kepada mitra ISP. Dari sisi keamanan siber, perusahaan juga memasang perangkat pendukung keamanan jaringan dan didukung tim internal yang berpengalaman di industri kabel laut nasional.

Fokus pada Infrastruktur Digital

Dari sisi strategi bisnis, Arif menegaskan bahwa INET masih fokus sebagai penyedia infrastruktur jaringan di Indonesia. Ia menilai kebutuhan infrastruktur digital di dalam negeri masih sangat besar sehingga potensi pertumbuhan ke depan masih terbuka lebar.

“Sekalipun ada diversifikasi, itu merupakan layanan turunan yang ujungnya akan lewat infrastruktur sendiri,” ucap Arif.

Belanja Modal Jumbo untuk Tahun 2026

Di sisi lain, INET juga menyiapkan belanja modal atau capital expenditure jumbo sebesar Rp 4,2 triliun untuk 2026. Dana tersebut akan dipenuhi dari pendanaan internal, yang berasal dari aksi right issue senilai Rp 3,2 triliun serta penerbitan obligasi sebesar Rp 1 triliun.

Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur sekaligus memperluas diversifikasi jaringan INET, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Perseroan menargetkan surat utang tersebut dapat diterbitkan pada awal 2026.

Sementara itu, dana segar dari rights issue akan digunakan untuk mempercepat ekspansi jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi berbasis teknologi Wi-Fi 7. Sebagian besar dana, yakni sekitar Rp 2,8 triliun akan disalurkan kepada anak usaha PT Garuda Prima Internetindo (GPI) untuk menambah sekitar 2 juta pelanggan baru di Bali dan Lombok.

Proyeksi Harga Saham dan Kinerja Keuangan

Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan saham INET berpeluang naik hingga Rp 1.350 per saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 74,2% dari harga penutupan terakhir di Rp 775. Dalam riset terbarunya, tim analis Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi speculative buy.

Target harga tersebut didorong oleh revisi ke atas terhadap estimasi laba serta kinerja kuat perusahaan pada kuartal III 2025. Target harga itu juga didasarkan pada valuasi EV/EBITDA 2027F sebesar 25 kali.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, INET membukukan pendapatan mencapai Rp 68,6 miliar atau tumbuh 190,5% yoy, sementara laba bersih melonjak 818,9% yoy menjadi Rp 19,4 miliar. Angka ini setara 86% dari proyeksi Samuel Sekuritas Indonesia.

Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh segmen layanan ISP yang menyumbang Rp 67 miliar, naik 188,4% yoy. Kinerja yang melesat ini juga didorong oleh ekspansi pelanggan PT Solusi Sinergi Digital (WIFI) selaku mitra INET, yang meningkat signifikan dari 220 ribu pelanggan pada Desember 2024 menjadi 1,5 juta pelanggan pada September 2025.

Dengan dukungan ekspansi besar perusahaan, proyeksi laba INET ke depan semakin agresif. Samuel Sekuritas memperkirakan laba perseroan pada 2026 dapat mencapai Rp 257 miliar, tumbuh 849,2% secara tahunan (yoy).

“Dan untuk tahun 2027 diproyeksikan mencapai Rp 736 miliar atau tumbuh 185,7% yoy,” demikian tertulis dalam riset Samuel Sekuritas.

Adapun sejumlah risiko tetap perlu dicermati, misalnya potensi keterlambatan ekspansi, realisasi pertumbuhan pelanggan yang tidak sesuai ekspektasi, serta tekanan daya beli. Adapun tahun 2026, Samuel Sekuritas memperkirakan pendapatan INET dapat mencapai Rp 942 miliar atau tumbuh 284% yoy, dengan marjin EBITDA diproyeksikan berada pada kisaran 60–70%.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan