
Rencana Penjualan Aset Bekas Giant
PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) memiliki rencana untuk kembali menjual sejumlah aset yang berasal dari supermarket Giant pada tahun depan. Namun, langkah tersebut belum bisa dilakukan pada tahun ini karena kondisi ekonomi yang masih menantang. Perusahaan ritel ini mengakui bahwa penjualan aset tersebut membutuhkan waktu dan strategi yang tepat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Presiden Direktur HERO, Hadrianus Wahyu Trikusumo, menyampaikan bahwa saat ini perusahaan masih memelihara delapan aset bekas Giant yang belum terjual. Sejauh ini, HERO telah berhasil melepas dua aset dengan nilai masing-masing sekitar Rp 30 miliar dan Rp 90 miliar. Menurut Wahyu, penjualan aset tersebut dilakukan sesuai harga pasar, namun prosesnya cukup sulit terutama untuk properti bernilai besar.
“Kami menjual aset bekas Giant sesuai harga pasar. Namun penjualan properti bernilai besar saat ini cukup sulit, sehingga tahun ini belum ada transaksi yang bisa kami bukukan,” ujar Wahyu dalam paparan publik di kantor HERO, Selasa (9/12).
Pelaku Usaha yang Membeli Aset
Wahyu menjelaskan bahwa kebanyakan aset bekas Giant dibeli oleh pelaku usaha di bidang properti dan ritel. Penjualan aset ini menjadi langkah penting bagi perusahaan untuk menambah pemasukan sekaligus memangkas biaya perawatan. Apalagi seluruh aset tersebut tidak lagi memberikan kontribusi pendapatan bagi perusahaan.
Giant resmi ditutup pada Desember 2021. Saat itu, jaringan tersebut memiliki sekitar 75 gerai. Penutupan besar-besaran ini langsung berdampak pada kinerja HERO, menyebabkan pendapatan perusahaan merosot 22,2% dari Rp 4,47 triliun pada 2020 menjadi Rp 3,48 triliun pada 2021.
Penurunan Aset dan Laba
Total aset tidak lancar HERO yang pada 2021 bernilai Rp 3,7 triliun kini menyusut menjadi Rp 3,01 triliun per September 2025. Nilai aset tetap juga turun signifikan sebesar 45,08% dari realisasi 2021 senilai Rp 3,38 triliun menjadi Rp 1,85 triliun.
Laba perusahaan juga mengalami penurunan tajam. Absennya penjualan aset Giant tahun ini membuat laba HERO pada Januari–September 2025 anjlok 61,7% menjadi hanya Rp 70,34 miliar dari Rp 183,64 miliar pada tahun sebelumnya.
Kinerja Bisnis Inti yang Positif
Direktur HERO, Paulus Raharja, menegaskan bahwa penurunan laba bukan mencerminkan performa bisnis inti perusahaan. “Jika mengacu pada usaha inti, pertumbuhan kami mencapai 46% secara tahunan,” ujarnya.
Paulus mengatakan motor pertumbuhan utama berasal dari Guardian. Penjualan same-store Guardian naik 9% secara tahunan, menandai pemulihan kuat di segmen kesehatan dan kecantikan. Sementara itu, kerugian IKEA juga menyusut lebih dari 50%. Perbaikan ini ditopang penyesuaian harga sejumlah produk serta ekspansi kanal penjualan melalui e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop.
“Penjualan Guardian naik hampir 9% year-on-year, sedangkan total pendapatan HERO tumbuh 4% dalam sembilan bulan pertama. Kami berharap pertumbuhan penjualan sepanjang 2025 bisa lebih baik dari itu,” kata Paulus.