
Peran Pertamina dalam Pengembangan Blok Tuna
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sedang mempercepat proses penggantian operator Blok Tuna. Saat ini, SKK Migas mendorong PT Pertamina (Persero) untuk menjadi pengganti Harbour Energy dalam pengelolaan blok tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Harbour Energy sebelumnya menjadi operator Blok Tuna bersama dengan Zarubezhneft melalui anak perusahaan ZN Asia Ltd (ZAL). Keduanya memiliki 50 persen hak partisipasi atau participation interest (PI). Namun, keadaan berubah setelah sanksi dari Uni Eropa dan Inggris terhadap Rusia akibat konflik antara Rusia dan Ukraina. Hal ini menyebabkan Harbour Energy mengambil keputusan untuk keluar dari Blok Tuna.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa Harbour Energy saat ini sedang mencari pengganti dan membuka proses tender. Ia berharap Pertamina dapat mengambil alih peran tersebut sebagai perusahaan nasional yang mampu mengelola Blok Tuna.
"Harbour ingin mem-farm-out, keluar lah. Nah sekarang dalam proses tender-nya oleh Harbour," ujarnya saat ditemui di kompleks parlemen.
Djoko juga menyatakan bahwa selain Pertamina, ada kemungkinan perusahaan migas swasta lainnya bisa ikut serta dalam pengelolaan Blok Tuna bersama ZN. Meski demikian, ia tidak menyebutkan secara spesifik perusahaan mana yang akan terlibat.
Pertamina telah menunjukkan ketertarikannya untuk mengelola Blok Tuna. Salah satunya adalah dengan mendapatkan akses data dari Harbour Energy. "Open data sudah, sudah datang juga," kata Djoko.
SKK Migas menargetkan agar Harbour Energy menentukan penggantinya di Blok Tuna pada November 2025. Djoko menekankan pentingnya penyelesaian proses ini tepat waktu. "Saya dorong minta November ini selesai. Itu SKK. Minta jangan molor-molor. (Gantinya Pertamina) Insyaallah. Pertamina dan partner lain kan bisa juga, pokoknya nasional," tambahnya.
Perubahan Strategi Harbour Energy
Sebelumnya, SKK Migas sempat membuka peluang bagi Harbour Energy untuk mencari mitra baru pengganti ZN selama situasi konflik Rusia dan Ukraina. Namun, menurut Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, Harbour Energy memiliki minat lain di blok migas wilayah Laut Andaman.
Harbour Energy saat ini memiliki portofolio di beberapa blok migas di Laut Andaman, termasuk Andaman I, Andaman II, dan South Andaman, bekerja sama dengan Mubadala Energy dan bp. Menurut Rikky, posisi KKKS Harbour sebelumnya menyatakan bahwa mereka tidak bisa melanjutkan jika ada saksi dari AS di mitra sebelahnya.
"Harbour kelihatannya juga punya selera investasi lainnya di Laut Utara, dan ZAL ini yang akan melanjutkan (Blok Tuna)," ujar Rikky usai konferensi pers Kinerja Semester I 2025.
SKK Migas menugaskan ZAL untuk melanjutkan kegiatan Front End Engineering Design (FEED), serta menuntaskan proyek tersebut sesuai target. Target produksi Blok Tuna diharapkan bisa dimulai pada tahun 2028-2029. Target ini mundur dari rencana awal yaitu on stream pada tahun 2026-2027.
Hal ini disebabkan karena Blok Tuna telah mendapatkan persetujuan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) pada Desember 2022. Akibat dari perubahan situasi, Harbour Energy harus menunda investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) menjadi 2025.