SKK Migas Usulkan Dana Eksplorasi dari Laba Sektor Hulu

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 11x dilihat
SKK Migas Usulkan Dana Eksplorasi dari Laba Sektor Hulu

Peran SKK Migas dalam Meningkatkan Produksi Migas Nasional

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengajukan usulan agar kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi di Indonesia didanai melalui sebagian keuntungan dari sektor hulu migas. Usulan ini disampaikan oleh Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Migas.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Djoko, peningkatan produksi migas nasional masih terhambat oleh minimnya aktivitas eksplorasi di berbagai cekungan potensial. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan anggaran. Saat ini, dana eksplorasi yang tersedia hanya sekitar US$1 miliar per tahun.

“Tidak ada satu pun bank dalam negeri yang mau membiayai eksplorasi karena risikonya tinggi,” ujarnya pada Rabu, 12 November 2025.

Meskipun demikian, Djoko menyatakan bahwa tingkat keberhasilan eksplorasi di Indonesia telah meningkat. Sebelumnya, peluang penemuan cadangan baru hanya 1 banding 10, kini meningkat menjadi 30 persen. “Artinya, dari 10 pengeboran bisa ada tiga yang menghasilkan penemuan cadangan baru,” katanya.

Model Pembiayaan Eksplorasi dari Negara Lain

Djoko menilai, Indonesia perlu meniru model pembiayaan eksplorasi dari negara lain seperti Inggris dan Malaysia. Di kedua negara tersebut, sebagian pendapatan dari kegiatan hulu migas dialokasikan kembali untuk eksplorasi.

“Di Inggris, kebijakan itu membuat mereka menemukan ladang gas besar di Northeast, sehingga kini mereka punya pasokan gas berlebih. Malaysia juga melakukan hal yang sama lewat Petronas,” tutur Djoko.

Menurutnya, pendekatan serupa dapat membantu Indonesia kembali meningkatkan produksi minyak dan gas yang saat ini sedang menurun. Beberapa dekade lalu, Indonesia sempat memproduksi 1,6-1,7 juta barel per hari dan menjadi anggota OPEC karena surplus pasokan. Kini, situasinya berbalik dengan ketergantungan tinggi pada impor minyak mentah, LPG, dan bensin.

“Untuk solar kita sudah bisa mandiri dengan program B30 dan B35, tapi untuk bensin masih perlu alternatif seperti bioetanol, biofuel, dan kendaraan listrik,” ujarnya.

Potensi Cekungan Hidrokarbon yang Masih Terbuka

Djoko menambahkan, Indonesia masih memiliki sekitar 65 cekungan hidrokarbon yang belum dieksplorasi dan berpotensi besar menghasilkan penemuan baru. Ia berharap pembahasan RUU Migas ke depan dapat mempertimbangkan skema pembiayaan eksplorasi yang lebih berkelanjutan dan tidak sepenuhnya bergantung pada investor swasta.

“Kalau kita bisa memanfaatkan potensi itu dengan dukungan pendanaan memadai, bukan tidak mungkin kita kembali mencapai swasembada energi,” katanya.

Langkah Strategis untuk Masa Depan Energi Nasional

Dengan adanya usulan ini, diharapkan pemerintah dan legislatif dapat bekerja sama untuk menciptakan sistem yang lebih efektif dalam mendanai eksplorasi migas. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap produksi energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Selain itu, pengembangan teknologi dan inovasi dalam eksplorasi serta pemanfaatan sumber daya terbarukan seperti biofuel dan kendaraan listrik juga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan energi nasional.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat, Indonesia dapat kembali menjadi negara yang mandiri dalam pengelolaan energi dan memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi secara berkelanjutan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan