
Usulan Pendanaan Eksplorasi Migas dari Pendapatan Hulu
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengusulkan agar pendapatan dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) dapat digunakan untuk membiayai eksplorasi. Menurutnya, hal ini sangat penting karena hambatan terbesar dalam melakukan eksplorasi migas adalah masalah pendanaan. Indonesia masih memiliki 65 cekungan atau basin potensi migas yang belum tereksplorasi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Djoko menyebutkan bahwa skema penggunaan pendapatan dari sektor hulu migas untuk mendanai eksplorasi telah dilakukan oleh negara-negara seperti Inggris dan Malaysia. Ia mencontohkan adanya BP dan Petronas di negara tersebut, yang pernah menggunakan seluruh pendapatan dari hulu migas untuk eksplorasi.
"Kami mengusulkan ke depan, mungkin barangkali nanti ada pembahasan RUU, bagaimana belajar dari Inggris dan Malaysia, di sini ada BP dan ada Petronas, itu pernah satu ketika seluruh pendapatan daripada hulu migasnya itu digunakan untuk eksplorasi," ujar Djoko dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (12/11/2025).
Anggaran Eksplorasi yang Masih Terbatas
Saat ini, anggaran untuk eksplorasi migas hanya mencapai sekitar US$1 miliar. Menurut Djoko, anggaran ini sangat terbatas. Masalah pembiayaan ini menjadi tantangan di tengah upaya peningkatan lifting migas.
Djoko menjelaskan, belum ada bank dalam negeri yang berani memberikan pinjaman untuk biaya eksplorasi karena risikonya besar. Padahal, indeks penemuan migas di Tanah Air sudah mencapai 30%. Artinya, jika kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) melakukan eksplorasi pada 10 cekungan, sudah ada jaminan tiga basin itu menghasilkan migas.
"Yang paling penting adalah anggaran untuk eksplorasi. Karena tidak satupun bank dalam negeri yang mau membiayai untuk eksplorasi karena risikonya besar," tutur Djoko.
Potensi Cekungan Migas di Indonesia
Berdasarkan data SKK Migas, saat ini terdapat 65 cekungan atau basin potensi migas di Indonesia yang belum tereksplorasi. Secara keseluruhan, Indonesia memiliki 128 cekungan. Dari jumlah tersebut, 20 cekungan sudah berproduksi, 27 cekungan discovery, 5 cekungan terbukti dengan sistem petroleum, dan 3 cekungan indikasi hidrokarbon.
Selain itu, terdapat 8 cekungan dengan data geologi dan geofisika serta 65 cekungan yang belum tereksplorasi.
Optimisme Pemerintah terhadap Peluang Investasi Migas
Asnidar, Kepala Divisi Prospektivitas Migas dan Manajemen Data Wilayah Kerja SKK Migas, menyatakan bahwa data tersebut tidak berubah dalam 1 dekade terakhir. Oleh karena itu, pemerintah akan bekerja keras agar cekungan yang belum tergarap bisa dioptimalkan.
Menurutnya, dengan potensi tersebut pihaknya masih optimistis terhadap peluang investasi sektor migas di dalam negeri.
"Ini poin pentingnya adalah, dari 128 ini ada dua hal yang kita highlight di sini adalah peluang. Kalau kita bicara peluang, kita masih optimistis, masih banyak peluang ke depan, dan yang kedua adalah tantangan," katanya beberapa waktu lalu.