
jateng.aiotrade, SEMARANG Universitas PGRI Semarang mengambil inisiatif untuk memperkuat konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) melalui program pengalaman lapangan (PPL) yang dijalankan oleh mahasiswa di SMA Lab UPGRIS. Inisiatif ini muncul dari kepedulian para mahasiswa PPL yang menyadari tingginya potensi bencana di sekitar lingkungan sekolah.
Rektor UPGRIS Sri Suciati menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari inisiatif mahasiswa PPL di SMA Lab UPGRIS. Mereka melihat bahwa lingkungan sekitar sekolah rentan terhadap berbagai jenis bencana, sehingga muncul ide untuk menciptakan satuan pendidikan yang aman dari bencana.
Program ini muncul dari kepedulian mahasiswa PPL yang melihat kondisi lingkungan sekolah. Mereka ingin membangun sistem kesiapsiagaan yang dapat melindungi seluruh warga sekolah, ujar Suci di SMA Lab UPGRIS, Selasa (14/4).
UPGRIS telah menjalin kerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah untuk mendukung pelaksanaan program SPAB. Dengan adanya kolaborasi ini, simulasi mitigasi hingga penanganan bencana dilakukan dengan bantuan instruktur dari BPBD Jawa Tengah.
BPBD memberikan dukungan penuh agar SMA Lab UPGRIS dapat menjadi contoh dalam menerapkan satuan pendidikan aman bencana, tambahnya.
Tujuan utama dari program ini adalah memastikan seluruh warga sekolah memiliki pemahaman dan kesiapan dalam menghadapi berbagai jenis bencana, seperti kebakaran, banjir, longsor, gempa bumi, hingga erupsi gunung berapi. Suciati menekankan bahwa target utamanya adalah membuat SMA Lab UPGRIS menjadi sekolah yang aman secara keseluruhan.
Kami berharap siswa dan guru sudah memiliki pemahaman serta keterampilan dalam menghadapi situasi darurat, katanya.
Simulasi kebencanaan di sekolah dinilai sangat penting untuk melatih respons cepat dan mengurangi rasa panik saat bencana terjadi. Suciati menjelaskan bahwa jika simulasi dilakukan secara rutin, warga sekolah tidak akan mudah panik dan bisa tetap menggunakan akal sehat dalam menghadapi situasi darurat.
Kepanikan bisa berbahaya karena orang tidak lagi bisa berpikir jernih saat menghadapi bencana, ujarnya.
Ia juga menyarankan agar sekolah mengagendakan simulasi secara berkala, minimal setiap tahun, terutama untuk siswa baru. Hal ini bertujuan agar seluruh warga sekolah memahami langkah-langkah yang harus diambil saat terjadi bencana.
Setiap tahun ada siswa baru, jadi simulasi harus dilakukan secara rutin agar semua warga sekolah tahu cara menghadapi bencana, tuturnya.
Berdasarkan data dari BPBD, individu mampu bertahan selama tiga hari saat bencana, keluarga hingga 10 hari, dan lingkungan sekolah hingga 20 hari. Hal ini menunjukkan pentingnya persiapan dan logistik dalam menghadapi situasi darurat.
Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas C Penanggungan menyatakan bahwa program SPAB merupakan langkah strategis dalam mengubah peran sekolah dalam penanggulangan bencana. Ia menilai bahwa kerja sama dengan SMA Lab UPGRIS adalah bagian dari upaya membangun satuan pendidikan yang aman.
Program ini adalah bagian dari SPAB. Kami bekerja sama dengan SMA Lab UPGRIS untuk membangun satuan pendidikan aman bencana, kata Bergas.
Dia berharap SMA Lab UPGRIS dapat menjadi contoh dalam penerapan SPAB dan menyebarluaskan praktik baik tersebut ke sekolah-sekolah lain. Harapannya, sekolah tidak lagi menjadi objek penderita saat bencana terjadi, tetapi bisa menjadi subjek dalam penanganan bencana.